Apa Salahnya Jadi Anggota DPR?

0
192

Oleh: Atika c. larasati*

PolitikaMalang – Sudah diketahui bersama bahwa di masa sekarang media sosial berkembang dengan sangat cepat, penyebaran informasi semakin tidak bisa dielakkan lagi, siapa yang mampu menghambat? Kominfo? Mungkin. Mengingat akses internet pernah dihentikan beberapa saat, merujuk pada situasi negara yang dikatakan darurat, kuatir hoax menyebar. Begitulah adanya, kita sebagai masyarakat menjadi tidak tahu mana berita benar atau tidak, semua berita dan informasi di media sosial menjadi abu-abu. Benar atau tidaknya tergantung di kubu mana kita berdiri dan kita pilih. karena netijen memakai nalar, untuk satu pilihan rasionalnya dan menerima resiko atas pilihan tersebut.

Tulisan ini saya kerjakan di sela waktu minum kopi, karena kegiatan ini yang sedang hype di kalangan anak muda, alih-alih agar mengikuti jaman, akhirnya saya ikuti pula. Membaca sosial media hari ini, membuat bulu kuduk merinding. Takut. Bagaimana tidak? Hampir semua teman di media sosial bisa membagikan berita dan video dari sumber mana saja, dan dalam waktu cepat menjadi viral. Minggu ini, media sosial masih dihebohkan oleh berita dilantiknya para anggota DPR, dari wilayah mana saja. Bahkan kekayaan para DPR termuda jadi sorotan, di umur 23 tahun, mereka bisa memiliki kekayaan hingga milyaran rupiah. Luar biasa. Di umur 23 tahun, saya masih keluar masuk XXI dan nodong kekayaan orang tua sebagai sangu bulanan khas anak muda yang kuliah.

Berita-berita tentang DPR ramai disorot, kekayaan, gaji bulanan, fasilitas, akhlak dan adab. Ternyata susah bener menjadi DPR ya, sudah habiskan daya dan upaya juga dana ketika pemilihan, masih saja harus berkorban psikis untuk menerima bully para netijen +62. Lalu di mana letak kesalahan mereka? Apa salah jadi anak muda yang sudah kaya? Salah lahir dari orang tua yang ternyata punya kekuasaan? Apa para DPR harus seratus persen berasal dari rakyat yang tak punya apa-apa? Atau salah mendapat gaji dan fasilitas yang disediakan negara? apa salah juga jika DPR kita tak sempurna masalah akhlak dan adab karena kesandung mempertahankan pendapatnya di depan orang yang lebih tua dengan gesture menunjuk dan selalu menyelah karena mempertahankan opininya. salahkan semua ini pada media sosial, berita-berita yang dengan cepat disebarkan dan dibumbui caption ngeri-ngeri sedap oleh para netijen.

Netijen seolah mengendalikan penuh kehidupan para Dewan, bisa jadi mereka jadi kebingungan, ntah harus berbuat apa, kerja jadi serba salah, bahkan beberapa anggota DPR muda ingin memberikan keyakinan pada netijen dengan mengunggah kehidupan pekerjaannya setiap hari lewat video di youtube, bayangkan! Berapa banyak video selama lima tahun yang akan netijen view. Para dewan hidup makin tak tenang, berusaha membuktikan hal-hal receh, apa susahnya membiarkan mereka berkerja terlebih dahulu, kita bully belakangan.

Banyak dari netijen yang sudah kadung percaya teknologi seratus persen diciptakan untuk memperbaiki kehidupan manusia, tapi faktanya? Media sosial sebagai produk kecanggihan teknologi yang memberikan banyak informasi dan kita harapkan memberikan informasi yang benar malah membuat kita tidak berpikir jernih. Fakta di media sosial hanyalah hasil rekonstruksi dan olahan dari sang pembuat juga penyebar informasi, netijen harusnya tak perlulah percaya sepenuhnya pada media sosial, karena percaya yang paling benar dan tidak mengecewakan hanya kepada Tuhan.

*Penulis adalah Mahasiswi S3 Fisip Universitas Brawijaya