Begini Cara Mahasiswa UMM Ciptakan Alat Kejut Jantung

0
61

PolitikaMalang – Mahasiswa program studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (FT UMM) ciptakan temuan baru alat deteksi denyut jantung cegah kecelakaan akibat mengantuk.

Berangkat dari latar belakang Faktor penyebab kecelakaan terbesar menurut korps lalu lintas Kepolisian Republik Indonesia 2017 adalah faktor manusia, dengan presentase lebih dari 50%. Sisanya adalah sikap manusia dengan presentase 40%, terjadi karena mengantuk , Ari Devianto mahasiswa program studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (FT UMM) bersama 2 rekannya, Adwin Nugriho dan Fikri Febrianto, membuat ide karsa cipta berjudul “Safety Watch”; arloji pintar sebagai penstabil frekuensi denyut nadi saat berkendara.

Oktober lalu, ide tersebut dikompetisikan dalam Program Kreatifitas Mahasiswa Forum Grup Diskusi Teknologi Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PKM FGDT-PTM) yang merupakan acara tahunan bagi Fakultas Teknik perguruan tinggi Muhammadiyah se-Indonesia.

Karsa cipta yang dibimbing Dosen Teknik UMM Mohammad Chasrun Hasani ST., MT dan Ir. Nur Alif Mardiyah MT ini mendapat juara 1 dalam kompetisi tersebut. Keunggulannya, Safety Watch ini sudah berbasis Internet of Things (IoT), atau perangkat yang terhubung dengan konektifitas internet. Di mana pada era revolosi industri 4.0, sudah mumpuni untuk digunakan. Dewan juri tertarik dengan alat tersebut.

Pada awalnya tim mereka masih takut saat diujikan. Meskipun alat kejut mereka sudah memenuhi standar. Untuk menguji alat tersebut layak digunakan manusia, mereka mendaftarkan safety watch kepada Ethical Clearance (EC) atau kelayakan etik sehingga dinyatakan layak digunakan oleh manusia.

Kedepannya mereka akan melakukan pendaftaran hak cipta dan mengembangkan alat tersebut berbasis IoT itu, sehingga terintegrasi dengan smartphone. “Tujuannya agar penggunan Safety Watch dapat memantau denyut nadi melalui aplikasi smartphone. Juga dapat mengirimkan pesan kepada keluarga apabila pengguna mengalami bahaya, dilihat dari frekuensi denyut nadi.” Imbuh Ari Devianto selaku ketua PKM tersebut.(*)

Pewarta : Djoko Winahyu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here