Begini PGSD UMM Lestarikan Budaya Lokal yang Hampir Punah

0
146

PolitikaMalang – Jaman Now Sepertinya sudah tak mengenal kesenian budaya lokal dan bahkan mungkin kesenian Ludruk kini kalah pamor dengan tontonan televisi dan bioskop.

Melihat kenyataan ini serta diikuti rasa kawatir generasi muda akan meninggalkan budaya asli lokal dan tak lagi dikenal dimasa mendatang, sekelompok mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Malang (PGSD UMM) berupaya tetap melestarikan kesenian asal Jombang, Jawa Timur ini, salah satunya dikenalkan melalui bangku perkuliahan dengan menggelar Festival Ludruk Kampus, Kamis (10/1/2019).

Festival ini digelar dalam rangka menuntaskan tugas akhir mata kuliah Karawitan oleh mahasiswa angkatan 2016. Menampilkan lakon Sarip Tambak Rasa, Maling Caluring, Babad Surabaya, Sakerah, Jaran Mayang Seta, dan Jaka Sambang.

Danang Wijoyanto, S.Pd, M.Pd. selaku dosen mata kuliah Karawitan menjelaskan, lakon yang dipentaskan merupakan cerita lokal berlatarbelakang zaman kolonial. Kemudian naskah yang sudah diadaptasi akan dipentaskan semuanya diperankan oleh para mahasiswa.

“Mahasiswa PGSD ini kan calon guru SD, jadi saya rasa perlu untuk paham seni tradisi,” jelasnya.

Menurut Danang, perlu untuk menanamkan rasa cinta terhadap budaya lokal sejak dini. Maka mahasiswa PGSD harus dibekali pengetahuan kesenian lokal. Sehingga ketika menjadi Guru SD bisa menyalurkan kepada murid-muridnya.

Danang takjub dengan totalitas mahasiswanya ketika melaksanakan tugas. “Hasilnya melebihi batas dan target yang saya tetapkan, saya sangat puas sekali,” papar Danang bangga.

Sedangkan Judha Bira Krisna selaku Ketua Pelaksana Festival Ludruk Kampus mengatakan bahwa ini pengalaman yang luar biasa. Ia mengemukakan bahwa Festival Ludruk Kampus kali ini adalah yang pertama kalinya digelar di UMM. “Saya harap langkah awal ini bisa menumbuhkan rasa cinta yang besar dari mahasiswa PGSD UMM kepada budaya lokal,” tandasnya. (*)

Pewarta : Djoko winahyu