Berawal Dari Lomba, Mahasiswa FP UB Malang Kembangkan Bisnis Startup Ciplukan

0
365

PolitikaMalang – Daya kreativitas mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang tak ada hentinya. Salah satunya mahasiswa jurusan budidaya pertanian, Fakultas Pertanian, Danniary Ismail Faronny.

Berawal dari keikutsertaannya dalam lomba World Youth Invention exhibition tingkat internasional di Malaysia pada Juni 2018 lalu, Danny berhasil mendirikan sebuah startup makanan sehat berbahan baku buah ciplukan.

Bagi anda yang belum tahu, buah ciplukan merupakan buah kecil, yang ketika masak akan tertutup oleh perbesaran kelopak bunganya.

“Dari kegiatan tersebut kami berkomitmen untuk kembangkan produk ciplukan dari produk Indonesia, menjadi satu startup yang kami beri nama Physalis company,” kata Danniary kepada reporter PolitikaMalang, Senin (5/11)

Hingga saat ini, startup yang baru didirikan belum mencapai 6 bulan tersebut telah memiliki 4 produk unggulan.

Pertama adalah benih ciplukan dengan nama Chipseed. Kemudian ada tanaman ciplukan yang dinamai chiPlant, lalu ada buah segar ciplukan dengan nama Freshchip yang dapat langsung dikonsumsi.

Terakhir ada hasil olahan ciplukan yang mendapatkan 2 perhargaan sekaligus diajang gold medal dan best invention yakni chipbar. Chipbar sendiri diinisiasi bersama 2 rekannya yakni M. Alawy dan Choirum Ayun.

Physalis Company sendiri dikembangkan sebagai upaya hirilisasi riset pemuliaan tanaman ciplukan yang dipimpin oleh Dr. Budi Waluyo, dari jurusan budidaya pertanian FPUB sehingga nilai manfaat dari penelitian bisa dirasakan oleh masyarakat luas.

Dr. Budi sendiri hingga saat ini telah mengkoleksi ratusan galur ciplukan dari beberapa pulau di Indonesia. Mulai dari ciplukan kecil hingga ciplukan sebesar tomat.

Saat ditanyai alasan memilih tanaman ciplukan sebagai produk unggulan mereka, CEO Physalis company itu menjelaskan, ingin memperkenalkan tanaman lokal Indonesia ke mancanegara.

“Kearifan lokal dari tanaman ciplukan itu sendiri. Bahwa dari dulu sampai sekarang tanaman ciplukan selalu dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai gulma, padahal memiliki nutrisi yang tinggi dan manfaat kesehatan yang potensial” katanya

Perlu diketahui, tanaman ciplukan hampir tersebar di seluruh Indonesia. Kendati begitu, penyebutan dari tumbuhan ini berbeda-beda disesuaikan dengan tutur bahasa setempat.

Orang Maluku misalnya menyebutnya dengan istilah daun Boba, Minahasa menyebutnya leietokan. Sementara di Jakarta dikenal sebagai cecenet, wilayah Jawa sebagai ciplukan, Bali dengan istilah keceplokan, Lombok disebut sebagai tanaman dededes, dan orang Sumatra menyebutkannya sebagai tanaman leletop.

Tak hanya itu, Danny juga menjelaskan penelitian menunjukan buah tanaman itu mengandung vitamin C yang relatif tinggi. Lebih tinggi daripada buah anggur. Serta zat physagulin F yang bermanfaat untuk penderita diabetes.

“Jadi bisa digunakan untuk terapi diabetes serta dapat dirasakan manfaatnya secara langsung untuk penurunan tekanan darah,” pungkasnya.

Rektor UB Prof Nuhfil Hanani sangat mengapresiasi hasil riset mahasiswa jurusan budidaya pertanian, Fakultas Pertanian, Danniary Ismail Faronny bersama dua rekannya karena bisa mengembangkan tanaman yang saat ini semakin langka menjadi Bisnis Startup.

“Semoga bisnis yang dijalankan bisa semakin berkembang dan hasil karyanya bisa dipatenkan,”tukas Rektor UB yang ditemui Politika saat mengunjungi pameran di lantai satu Widyaloka.(*)

Pewarta : Djoko Winahyu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here