BISMA Goes to Get Member (BlGGER) Malang Dihadiri Langsung Dr Wawan Rusiawan

0
102

POLITIKA MALANG – 250 pelaku ekonomi kreatif hadiri event BISMA Goes to Get Member (BIGGER) di Hotel Atria Malang, Kamis (16/5/2019)

BEKRAF Session ini dihadiri oleh pembicara kunci Dr. Ir. Wawan Rusiawan, MM, Direktur Riset dan Pengembangan Ekonomi Kreatif.

BEKRAF Session adalah sesi konsultasi dimana pe|aku kreatif dapat berinteraksi Iangsung dengan pejabat di lingkungan BEKRAF dan berdiskusi seputar peran BEKRAF dan pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia.

Pada sesi ini, juga dipaparkan program kerja dari tiap kedeputian yang hadir, agar para peserta yang hadir mengetahui program program apa yang dimiliki oleh Bekraf, sehingga dapat dimanfaatkan dalam mengembangkan usaha

BISMA (BEKRAF Information System in Mobile Application) itu sendiri, adalah platform unggulan bagi pelaku kreatif untuk mendaftarkan diri ke database resmi Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) melalui aplikasi (android/ios) dan website BISMA di https://bisma.bekraf.go.id/.

Untuk mengikuti event ini, pelaku ekonomi kreatif di wilayah Provinsi Jawa Timur, khususnya Kota Malang mendaftarkan diri dan bergabung dalam aplikasi BISMA yang telah merekam hingga lebih dari 38 ribu pelaku ekonomi kreatif.

Acara dibuka oleh Ricky Joseph Pesik, Wakil Kepala Bekraf, dan Erik Setyo Santoso, Kepala Barenlitbang Kota Malang.

Kedatangan dua tokoh ini diharapkan akan mendukung komunikasi dua arah antara pelaku ekonomi kreatif dari 16 subsektor dengan BEKRAF untuk memudahkan pemerintah menangkap masalah, memonitoring perkembangan usaha, serta menerima saran seputar ekonomi kreatif. Sehingga dapat dihasilkan pemetaan akurat yang dapat membantu penyusunan kebijakan ekonomi kreatif dan menciptakan ekosistem ekonomi kreatif yang kondusif.

Dikatakan Ricky Joseph Pesik, pelaku ekonomi kreatif yang terdaftar di BISMA akan lebih mudah dalam mendapatkan kesempatan untuk difasilitasi ataupun mendapatkan pendukungan oleh BEKRAF dalam mengembangkan usaha kreatif mereka.

“Dari hasil survey khusus ekonomi kreatif BPS dan BEKRAF, di tahun 2016 produk domestik bruto (PDB) ekonomi kreatif tercatat 922,59 triliun rupiah, angka ini meningkat 4,95 persen dari tahun sebelumnya,” ungkapnya.

Jumlah unit usaha ekonomi kreatif berdasarkan hasil Sensus Ekonomi 2016 (SE 2016) untuk KBLI Ekonomi Kreatif sebanyak 8.203.826 usaha. Kegiatan BIGGER di Kota Malang ini juga merupakan ajang berjejaring bagi para stakeholder ekonomi kreatif.

“Survey BPS tahun 2016 mencatat terdapat total 40.690 pelaku ekonomi kreatif di Kota Malang dengan 5 subsektor terbesarnya, yaitu subsektor kuliner sebanyak 28.398 usaha kreatif, subsektor fesyen 7.295 usaha kreatif, subsektor kriya dengan 2.989 usaha kreatif, subsektor penerbitan dengan 961 usaha kreatif, dan subsektor fotografl dengan 233 usaha kreatif,” tambah Ricky.

Sementara itu, Erik Setyo Santoso, Kepala Barenlitbang Kota Malang menyampaikan pesan Walikota Sutiaji yang berhalangan hadir.

Pemerintah kota Malang sangat mendukung program Ekonomi Kreatif BEKRAF karena hal ini sama sama saling menguntungkan lewat program Ekonomi Digital Kreatif sehingga bisa meningkatkan perekonomian masyarakat khususnya Malang.

Acara ini terdiri dari creative talk, sesi panel dan masterclass. Creative talk pada kegiatan ini membahas tentang Potensi kreatif kota Malang dengan narasumber Vicky Arief Herinadharma selaku Koordinator Malang Creative Fusion dan Wahyu Aditya yang merupakan Founder & Creative Director Hellomotion, keduanya merupakan pemuda dari Malang yang aktif berpartisipasi memajukan ekonomi kreatif.

Selain itu, dilaksanakan juga sesi panel dengan materi sosialisasi aplikasi BISMA (BEKRAF Information System In Mobile Application) oleh M. Adhi Bagus Nuryadi (Kasubag TU Riset dan Pengembangan) dan materi bagaimana cara memaksimalkan potensi usaha kreatif digital yang disampaikan oleh Shopee SME Development yaitu Harsi Annisa Destiana.

Pada acara BIGGER Malang ini terdapat dua masterclass yaitu Masterclass Financial Planning oleh Ahmad Gozali selaku Profesional Mancial planner dan Masterclass Storytelling oleh Qaris Tajudin selaku Direktur utama Tempo Institute.(*)

Pewarta : Djoko Winahyu