Bus Macyto, Peninggalan Abah Anton itu Kini Tak Lagi Beroperasi

Walikota Malang Sutiaji Tuai Kritik Netizen

0
470

PolitikaMalang – Bus yang kerap mengantar wisatawan, hingga tamu-tamu penting keliling Kota Malang itu akhirnya harus berhenti beroperasi. Terbaru, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang resmi menonaktifkan Bus wisata Malang City Tour (Macito) per Agustus ini. Setelah 4 tahun menemani wisatawan berkeliling kota, bus Macyto tidak dioperasikan lagi lantaran tidak memiliki surat-surat kendaraan yang sesuai aturan. Pihak berwajib, yakni Polres Malang Kota masih enggan mengeluarkan surat-surat kendaraan sebagaimana yang harus dimiliki.

“Karena ada penyesuaian aturan, jadi bus Macyto terpaksa tidak kami operasionalkan dulu. Macyto (Awalnya) speck nya tidak bertingkat, tapi dibuat bertingkat. Sehingga pihak berwajib tidak mau mengeluarkan surat-suratnya. Dan saat mendapat bus, memang tidak dilengkapi dengan surat-surat,” kata  Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang Ida Ayu Made Wahyuni pada awak media.

Untuk selanjutnya kata Ida Wahyuni, Wali Kota Malang Sutiaji telah menginstruksikan agar Dinas Perhubungan (Dishub) segera melakukan studi banding serta mengadakan bus baru untuk memberi fasilitas kepada masyarakat dan wisatawan. Dimungkinkan bus yang akan digunakan adalah bus dengan model yang hampir sama dengan Macito saat ini, yaitu model bertingkat.

“Diupayakan bisa lagi, tapi belum tahu kapan, mungkin nanti bisa seperti Macito,” lanjutnya

Sementara itu, Sekda Kota Malang Wasto membenarkan bahwa Bus Macito tidak operasional. Karena Pemkot Malang baru saja melakukan evaluasi. Dan memutuskan untuk melegalkan kendaraan tersebut.

“Sebenarnya bukan karena itu hibah, tapi karena bentuknya itu diubah. Makanya kita perlu koordinasi atau komunikasi lagi dengan Polri bagaimana redesainnya agar bisa legal,” jelas Wasto.

Di sisi lain, dinonaktifkannya Bus Macito mengundang beragam respon dan komentar masyarakat Kota Malang. Seperti dikutip dari grup komunitas peduli malang (ASLI MALANG) di jejaring media sosial facebook, banyak warganet yang menyayangkan hal ini.

“Lha dari pada mengadakan bis baru mending Macito diurus surat surat e cak ji.. Cak ji lek mengadakan bis baru dana e lak tambah akeh,” tulis Mom’s Dita Arka

“Mosok jalan keluar e mek pengadaan unit baru? Luwih larang ngurusi surat e ta timbang tuku anyar?” tanya Bayu Gundoel

“Untuk apa pembuatan bus baru kalo yang lama masih bagus dan bisa dipake. Bukanya itu namanya pemborosan. Eman dana e karuan digawe dalan malang ae cek tambah suip dari pada dibuat seperti itu,” tulis Si Imuet Tinie

Bahkan ada beberapa warganet yang menyindir bahwa macito sengaja dikandangkan dalam rangka mengganti kebijakan walikota periode sebelumnya.

“Tinggalane walikota biyen gak digawe karo Sutiaji. Saiki macito mari ngene bus sekolah gak tambah apik tambah tewur tibak e. Owalah rek sakarepmu,” ketus Juli Taru Argono.

“Dulu zaman abah anton kok gpp, malah jadi salah satu hiburan warga yang pingin muteri Kota Malang?” tulis Elly Wu

“paling efek loro ati nang walikota sing lawas” tulis salah satu warganet, August Aheek.

Sekedar informasi, Dua bus wisata itu berasal dari sumbangan PT Nikko Steel Jakarta melalui program corporate social responsibility (CSR) adalah bus tingkat dengan system double decker seperti yang ada di kota London, namun karoseri Macito buatan lokal PT Morodadi Prima Malang. Model bus ini sebenarnya sudah tidak asing untuk di Indonesia, karena pernah digunakan sebagai bus kota sekitar tahun 1980 – 1990 di Jakarta dan Surabaya.

Macito sendiri telah diluncurkan di era kepemimpinan Walikota Malang, Mochamad Anton, pada tanggal 29 Januari 2015. Sasarannya yaitu memberi kemudahan pada wisatawan untuk berkeliling Kota Malang. Sehingga wisatawan dapat lebih mudah mengakses destinasi wisata, kuliner, maupun budaya di Malang. Hingga saat ini, sebelum berhenti beroperasi, sebenarnya Macito selalu ramai diminati masyarakat karena gratis, dan sudah menjadi salah satu ikon Kota Malang di pentas nasional.