Camat Pakis Ajak Bambang Irianto Mereplikasi 3g Manfaatkan Potensi Alam

0
389

PolitikaMalang – Kamis pagi (13/12/2018) sang inisiator kampung 3G Bambang Irianto keliling dibeberapa wilayah Kec Pakis Kabupaten Malang diantaranya meninjau titik pertemuan sungai Kalisari dan sungai Bango di dusun Lowoksuruh termasuk kampung banyu, Sumber Gentong, embung Cempaka di Sumber Pasir, serta perumahan di Dusun Krajan Pakis jajar RT03 RW14 Kec Pakis.

Camat Pakis Firmando Hasiholan Matondang, didampingi Kepala Dusun Lowoksuruh Desa Mangliawan Kecamatan Pakis Abdul Muntholib menyebut, apa yang telah dilakukan oleh Bambang Irianto di Glintung diharapkan dapat membantu menyelesaikan permasalahan yang ada di Pakis, khususnya dalam hal penanganan banjir.

Tiba dilokasi Dusun Lowoksuruh titik terendah pertemuan antara sungai Kalisari dan sungai Bango nampak hamparan seperti daratan di bibir sungai yang dangkal, ternyata tumpukan sedimen hasil pengerukan sungai.

Jika hujan turun dipastikan air sungai meluap hingga masuk rumah penduduk tingginya mencapai 2 meter persis disebelah wisata air Wendit yang kini tinggal cerita, karena dulu terdapat hamparan tumbuhan air kangkung liar namun sekarang berubah menjadi daratan sungai yang dangkal.

“Sejak dulu baru pertama kali sejak kepemimpinan Camat Firmando Hasiholan Matondang, sungai ini dikeruk menggunakan alat berat ,” ujar kepala dusun yang dibenarkan Eriadi ketua RT 04 RW 09 Lowoksuruh.

Cerita Kasun, Kampung Banyu Mangliawan yng digagas Camat Firmando
adalah nama sebuah desa di Kecamatan Pakis Kabupaten Malang. Secara geografis, Mangliawan terutama Dusun Lowoksuruh memiliki potensi alam yang dapat dijadikan obyek wisata yaitu sumber air dan kebetulan lokasinya berdekatan dengan wisata Taman Air Wendit. Agar aset desa tersebut bermanfaat bagi masyarakat, maka digagaslah pembuatan wisata desa bernama Kampung Banyu,” ujar Abdul Muntholib.

Tujuan dari inovasi tersebut menurut Firmando tak lain ingin menjadikan Dusun Lowoksuruh terbebas dari sampah dan memberikan pilihan alternatif wisata yang terjangkau bahkan gratis untuk masyarakat sekitar dan peningkatan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat sudah berjalan sekitar 2 tahun.

Sumber pembiayaan operasional wisata desa tersebut dilakukan secara swadaya oleh masyarakat, Sehingga Kampung banyu memang belum signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. “Namun, setidaknya mampu memberi stimulus kepada masyarakat agar peduli dengan potensi yang ada,”tukas Camat Pakis.

Kendala utama yang dihadapi adalah terkait pembiayaan dan sistem pengelolaan yang belum bagus, ini mulai kita pikirkan dan kita laksanakan pengerukan,” katanya singkat kepada Bambang Irianto, pencetus inovasi kampung konservasi air yang telah diakui Dunia menjadi 15 nominator Guangzhou Award 2016 di Thiongkok pada tanggal 7 Desember 2016 lalu.

Sementara itu, Bambang Irianto usai mengobservasi kecamatan Pakis menjelaskan, Dusun Lowoksuruh merupakan lokus banjir yang paling parah. Selain air dari pertemuan sungai Bango dan Kalisari, ada pula air yang berasal dari tempat lain baik pemukiman warga maupun kompleks perumahan seperti Araya.

“Air kiriman dari berbagai kawasan di Pakis ini tidak bisa masuk di sungai besar. Pada titik pertemuan ini, karena debit air di dua sungai pada saat musim hujan begitu tinggi, over load,” kata penerima Penghargaan Kalpataru kategori Pembina Lingkungan 2018 ini.

Dampaknya, di desa Lowoksuru terjadi banjir dan debit air bisa mencapai ketinggian 2 meter sampai 3 meter, serta masuk ke rumah-rumah warga.

“Untuk mengatasi hal ini dari aspek masyarakat, setiap rumah di berbagai desa di kecamatan Pakis mutlak harus melakukan gerakan menabung air, dengan memasukkan air ke dalam tanah,” tegasnya

Sebagai informasi, gerakan menabung air sebagaima yang telah dilakukan oleh Bambang di Glintung Go Green (3G) adalah dengan membuat 1.000 biopori, sumur injeksi harus diterapkan disetiap rumah warga mulai dari hulu sampai ke hilir, sehingga air hujan tidak langsung mengalir kesungai akan tetapi mampir dulu pada sumur sumur resapan warga,” ujarnya.

Banyaknya industri industri besar di Pakis yang membangun pabri pabrik tapi tidak memikirkan drainase serta sumur resapan sehingga berkurangnya tangkapan air.

Demikian pula Perumahan Araya, atau perumahan sekitar pakis ini penyumbang debit air tertinggi yang langsung menuju sungai penyebab banjir, karena takmampu menampung debit air kiriman dari daerah tertinggi terlebih, akan menyebakan tenggelamnya nggentong dan Lowoksuruh,” tegasnya.

“Dengan berbagai inovasi masalah yang terjadi di beberapa titik yang dikunjungi termasuk kampung banyu, Sumber Gentong , embung Cempaka Sumberpasir serta perumahan di Dusun Krajan Pakis jajar RT03 RW14 Kec Pakis, akan bisa diatasi jika pemerintah dan masyarakat duduk bersama mencari solusi dan bisa memanfaatkan kekurangan menjadi suatu karya yang luarbiasa nantinya,” pungkas Bambang Irianto inovator Kampung 3 G.(*)

Pewarta : Djoko Winahyu