Dosen UMM Hasilkan Beras Analog Untuk Balita

0
142

PolitikaMalang – Tingginya jumlah penderita gizi buruk dan kurang gizi pada balita terus meningkat serta berdasarkan data yang dihimpun Pusat Data dan Informasi (PDI) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2015, sebanyak 25% bayi hingga balita di Indonesia mengalami stunting dan gangguan kesehatan lainnya akibat rendahnya kualitas gizi.

Selain itu, PDI juga menunjukkan angka 30% balita di Indonesia mengalami Kurang Kalori Protein (KKP). “Balita itu punya beberapa permasalahan pada masa pertumbuhan, salah satunya tentang KKP,” tutur Elfi Anis Saati.

Berangkat dari persoalan tersebut, Dosen Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Elfi Anis Saati berinovasi dengan beras analog tinggi protein.

Ia berekspreimen dengan beras analog yang terbuat dari tepung tapioka, tepung kedelai, dan bayam hijau dan merah.

Dijelaskan Elfi, beras analog yang ia buat kaya akan protein yang dihasilkan dari kacang-kacangan. Ia memilih kacang kedelai yang mudah dijumpai .

“Beras analog ini mengandung tepung kedelai yang tinggi protein. Itu yang membuat beras ini tidak hanya mengandung karbohidrat,” papar Elfi. Menurut dosen yang aktif melakukan riset pada lingkup pigmen ini, beras analog yang diberi label Elviza ini memiliki keunggulan lain yaitu tingkat antioksidan yang tinggi.

Antioksidan, dijelaskan Elfi, merupakan senyawa yang dapat meningkatkan sistem imun dalam tubuh manusia. Hal tersebut sangat bermanfaat bagi balita pada masa pertumbuhan. “Pigmen pada penelitian ini terbukti memiliki tingkat antioksidan yang sangat tinggi,” imbuhnya.

Sementara itu, pada beras analog, Elfi memilih pigmen yang terkandung pada sayuran. Sayuran dipilih karena banyak balita yang cenderung kurang mengkonsumsi sayuran. Tak hanya itu, Elfi mengaku bahwa beras analog ini tak hanya mengandung karbohidrat dan protein, namun juga kandungan sehat lain yang ada pada sayur. “Saya memilih bayam sebagai tambahan komposisi untuk memanfaatkan pigmen yang ada pada bayam itu sendiri,” jelasnya.

Tak hanya berinovasi pada beras analog, sebelumnya Elfi juga telah bereksperimen dengan minuman antioksidan yang memanfaatkan pigmen dari bunga mawar. Antosianin dari bunga mawar diketahui dapat mencegah penyakit ginjal dan juga hati. Hasil penelitian itu sudah dipublikasikan pada jurnal Internasional dan telah dipatenkan.

Bermaksud untuk menyediakan pangan yang sehat bagi masyarakat dan mengurangi penggunaan pewarna non-pangan berbahaya, seperti Rhodamin B, Amaranth, dan Pauncou, Elfi melakukan hilirisasi produk minuman antioksidan, juga dengan nama merk Elviza.

Selain Elviza, Elfi juga tengah mengembangkan produk pewarna alaminya dengan ragam warna yang diisolasi dari bahan alam Indonesia. “Produk pewarna alami saya tengah dikembangkan untuk memenuhi permintaan pengusaha batik ekspor asal Medan yang memiliki usaha batik di Malang,” Elfi menambahkan.

Dikatakan Elfi, saat ini pigmen dari bahan alam di Indonesia memiliki potensi yang tinggi untuk dimanfaatkan sebagai produk pada pangan, kosmetik, obat herbal, kerajinan, batik, bahkan menjadi sumber listrik,”pungkasnya.(*)

Pewarta : Djoko Winahyu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here