Indonesia Bubar Tahun 2030?

0
364

Oleh : Miftahol Arifin*

PolitikaMalang – Menjelang 2019 perpolitikan tanah air kian memanas, entah kenapa semua elemen masyarakat seolah tidak mau ketinggalan bicara politik. Apa yang lain sudah tidak seksi lagi untuk diperbincangkan di warung kopi dan meja makan? Fenomena masyarakat trend politik baik dari kalangan muda sampai yang tua memunculkan paradigma baru bahwa bahwa masyarakat sudah tidak tabu lagi dengan politik meskipun faktanya masyarakat hanya dijadikan tumbal arus politik para elit.

Disadari atau tidak kelompok dari masing-masing elit mencipta arus besar agar dapat simpati publik dalam hal ini kelompok oposisi dan kelompok pemerintah. Masing-masing saling serang dan berbalas pantun seperti yang ramai diberitakan khalayak media, ditambah lagi fenomina Hastag 2019 ganti president yang selalu menjadi trending topik di media sosial.

Deretan peristiwa itu bukanlah suatu yang kebetulan tetapi by desain para elit yang punya kepentingan, masyarakat dibuat dengan mudah Saling membully satu sama lain bahkan menjadi pemandangan yang lumrah, saling menviralkan di media sosial. mirinsya lagi media menstrem tidak mau kalah memberitakan kebobrokan yang terjadi seperti yang terjadi CFD Jakarta kemarin.

Fakta sosial hari ini yang muncul di permukaan adalah adanya kelompok paling bhineka yang menganggap dirinya paling tahu tentang nilai-nilai kebhinekaan di masyarakat. Jika ada yang berbeda dengan mereka dengan mudahnya mengatakan itu anti kebhinekaan. Mereka menghujat seenaknya tanpa merasa salah, dalam hal ini mereka memposisikan kelompoknya paling benar dan kelompok lain paling jahat. Ini pernah dilakukan oleh Hitter untuk menghujat orang Yahudi selama perang dunia dua, dan pernah dilakukan oleh Amerika kepada pejuang Vietnam. Tentu frame Paling Bhineka ini yang dijadikan alat untuk menarik simpati publik dan menghujat kelompok lain, padahal faktanya justru mereka semakin mempertajam sekat-sekat sosial ditengah masyarakat.

Ketika cerita itu terus di ulang-ulang kalau ada kelompok paling bhineka sampai juga pada akhirnya akan mencipta persipsi publik bahwa apa yang anda ciptakan itu benar. Kelompok ini selalu membuat cerita fiksi baru untuk mendapatkan legitimasi pembenaran publik, padahal sebenarnya cerita itu adalah sebuah desain kebohongan besar yang menyimpang arus deras untuk mengkikis nilai-nilai kebhinekaan itu sendiri.

Pembentukan paradigma juga di pengaruhi oleh media, sebagaimana pepatah mengatakan “melihat adalah mempercayai”, berkembangnya media telah membantu para propaganda untuk membuat gagasan visual hoax di frame seakan baik dan benar. Meskipun dalam kontek ini telah melakukan tindakan melacurkan kenetralan jurnalistik.

Apabila kelompok ini semakin besar dan merasa paling Indonesia banget, bukan tidak mungkin dalam kurun waktu beberapa tahun Indonesia bubar tidak harus nunggu 2030. Publik harus sadar bahwa agenda politik telah mencabik-cabik nilai keberagaman bangsa ini, karena persoalan politik kita dibuat tidak harmonis.

Propaganda Global

Semua peristiwa yang terjadi bukanlah hal yang insedental tetapi merupakan big propaganda yang dipengaruhi kekuatan basar. Dan Indonesia masuk dalam cyber war. Mereka menciptkan hal-hal yang tak terduga, propaganda dibalik cerita menawarkan peta pembagian kekuasaan. Ibarat permaian sepak bola Indonesia menjadi bola diperebutkan banyak orang, dengan berbagai macam strategi untuk menguasainya.

Apalagi Indonesia berada dalam pusaran dua Benua dan dua Samudra sehingga menjadikan Indonesia wilayah paling startegis dalam geopolitik International. Indonesia punya selat malaka yang merupakan chek poin jalur penting perdagangan dunia.

Seperti yang kita tahu bahwa selama ini pemegang kendali selat-selat strategis di dunia masih di kuasai Amerika. Tetapi seiring berjalannya waktu Cina adalah ancaman bagi Amerika. Cina dan Amerika mempunya kepentingan terhadap Indonesia. Dalam agenda strategisnya China mencanangkan membangun dua kanal (Terusan) sekaligus di dua benua berbeda. Pertama di Brito, Nikaragua yang disinyalir akan menyambungkan dua samudra; Pasifik dan Atlantik dan yang kedua membangun terusan Isthmus Thailand yang akan menghubungkan perairan Cina selatan, Teluk Thailan dan lautan Hindia.

Cina sadar betul bahwa potensi Sumber Daya Alam Indonesia yang melimpah tentunya menjadi sasaran empuk untuk investasi. Disamping itu wilayah territorial Indonesai melewati Selat Malaka dan laut China selatan. Sebabnya Cina paham bahwa Indonesia mitra strategis yang bisa menguntungkan. Beberapa sumber menyebutkan bahwa China sudah mencanangkan 1 Triliun dolar diinvestasikan dalam bentuk aset luar Negeri, dan Indonesia masuk dalam sasaran investasi Cina dalam kurun waktu 5 – 10 tahun.

Dengan canangan inventasi luar negeri yang cukup besar, Indoensia kecepretan, di pemerintahan Jokowi seakan tidak bisa lepas dari made in Cina; pembangunan infrastruktur made in Cina, Tol Laut made in Cina, Bandar Udara mide in Cina, industri made in Cina, sabu-sabu made in Cina dan yang terbaru dan membuat publik gempar Tenaga kerja Asing juga mide in Cina. Bahkan Cina Ingin masuk dalam satu kawasan ekonomi khusus di Indoensia. Tetapi big agenda dibalik itu semua secara tidak langsung Cina ingin memasukkan kepentingan Militernya.

Tidak bisa dipungkiri kalau dalam kurun beberapa tahun ini Cina menjunjukkan super power, baik militer maupun ekonomi apalagi pasca perang dingin cina mempunyai kedekatan sekaligus jadi mitra stategis Myanmar, Laos dan Kamboja untuk melawan hegemoni Amerika and the genk di Asean khususnya Indonesia. Amerika sadar betul bahwa Cina adalah ancaman baru pasca Uni Soviet runtuh.

Disamping itu maraknya peredaran Narkoba di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari skenario besar yang akan terjadi, entah itu politik, sosial, ekonomi, Budaya dan ideologi. Tapi yang jelas Narkoba sebagai pion untuk mendobrak ruang publik memecah dan melemahkan. Narkoba menawarkan Kenikmatan bagi penggunanya sehingga kecanduan dan ketagihan.

Menurut Prof Scout bahwa Inteljen melakukan intervensi disebuah Negara maka produksi dan perdagangan narkobanya cenderung meningkat. tesis Ini tentu sangat relevan dengan apa yang dikatakan Kepala BNN, dimana Indonesia setiap tahunnya perdagangan narkoba terus berkembang. Kalau melihat dari sejarahnya perang candu di Cina adalah usaha untuk melemahkan kekuatan secara pelan-pelan dari dalam, entah itu Hard Power (Aksi Militer) ataupun Smart Power (Asimetris Gerakan/Non Militer). Suatu kejahatan dalam sebuah Negara sangat erat kaitannya dengan gerakan senyap para inteljen asing.

Bahkan menurut Arthur Edward “Dibawah ombak besar sejarah manusia mengalir arus bawah yang tak berteriak, dari kelompok rahasia, yang seringkali menentukan perubahan yang terjadi dipermukaan dari kedalaman”. Dalam masyarakat modern peredaran Narkoba berlangsung sangat cepat, baik melalui jalan tikus ataupun jalur resmi dengan melibatkan berbagai macam persekongkolan didalamnya, sampai pada akhirnya melampaui batas-batas kebutuhan.

Gaya masyarakat modern mengarah pada konsuntifisme yang memuat citra individualis, keakuan dan hidonestik. Untuk memenuhi kebutuhan life style, tak jarang narkoba menjadi pelarian guna menunjang gaya hidup yang glamor dan rasa percaya diri, sehingga seolah memunculkan sandiwara panggung dalam realitas sosial.

Hilangnya tapal batas nilai moral dan sosial menandakan wajah mengerikan suatu bangsa karena semuanya melebur tak ada batasan nilai, masyarakat dibuat dusta, halusinasi, dan ilusi menjadi Zombie-Zombie. Masyarakat mudah dipecah belah, tidak ada kepercayaan satu sama lain.

Ahli Strategi Militer China Sun Tzu mengatakan “Mendapatkan seratus kemenangan dari seratus pertempuran bukanlah puncak kecakapan. Menaklukkan musuh tanpa pertempuran adalah puncak kecakapan” pergeseran paradigma perang dari hard war menjadi soft war jauh lebih berbahaya dan ini yang dilakukan oleh negara-negara maju, mereka menggunakan institusi keagamaan, media, politik, ekonomi dan birokrasi. Disamping itu untuk memecah persatuan mereka melakukan tindakan mulai; menyanjung, membuat teror, memprovokasi, merayu, mem freming kebohongan jadi pembenaran sehingga membentuk keyakinan.

Dalam termenologi perang, politik divide at empera dan narkoba hanya dijadikan umpan dari Proxy War untuk menghancurkan dari dalam, saat ini para makelar jiwa tahu apa yang harus dibuat. Apa yang dikatakan Jonathan Gabay sangat relevan dengan kondisi Indonesia hari ini bahwa “Propaganda telah disuarakan dengan sangat baik melalui ungkapan yang singkat, tajam dan terdengar halus. Sehingga dalam waktu singkat, orang-orang merasa pada saat-saat terakhir mereka dan tidak merasa ragu-ragu benar-benar dalam kendali. Padahal sungguhnya mereka telah dimanfaatkan untuk kepentingan mereka.

*Penulis adalah pengurus PB HMI bidang politik dan pemerintahan periode 2018-2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here