Jangan Apatis, Anak Muda Harus Aktif dan Optimis Sambut Tahun Politik 2019

0
301

PolitikaMalang – Mendengar kata “Politik”, pikiran masyarakat umum langsung terbayang dengan segala keburukan yang muncul akibat proses politik.

Persepsi umum masyarakat terhadap politik, mengatakan bahwa politik itu kejam, penuh kecurangan, buruk dan kotor, serta lebih banyak mudaratnya daripada maslahatnya.

Apalagi politik disebut sebagai ladang basah perbuatan korupsi. Belum kering dalam ingatan, 41 dari 45 anggota DPRD Kota Malang yang tersangkut kasus korupsi tahun lalu. Realitas di lapangan seperti inilah yang membuat masyarakat pada umumnya skeptis terhadap politik. Sikap antipati terhadap politik pun tak terhindarkan.

Politik yang diterjemahkan sebagai usaha mulai untuk mencapai kehidupan yang lebih baik seperti kata Miriam Budiarjo, dalam praktiknya, justru digunakan sebagai sarana pemenuhan kepentingan pribadi.

Sikap skeptisisme pada akhirnya berujung pada sikap apatis terhadap politik. Masyarakat umum apalagi kaum muda semakin tidak peduli terhadap politik dan menganggap upaya dan partisipasi mereka dalam politik tidak akan mengubah keadaan yang sudah ada.

Padahal, anak muda jadi bagian yang teramat penting bagi kemajuan dan keberlangsungan sebuah negara

Anak muda juga memegang peran penting karena kaum mudalah yang kelak akan memimpin negara ini dan menentukan arah negara ini

Politisi muda Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Malang, Muhammad Anas Muttaqin pun angkat bicara perihal fenomena ini. Menurut alumnus UIN Maliki Malang ini, momentum tahun politik 2019 harusnya disikapi sebagai peluang bagi anak muda atau generasi milenial untuk melakukan perubahan yang revolusioner.

“Anak muda harus menjadi¬†agent of change¬†dalam politik dan mampu mengubah pandangan umum masyarakat yang skeptis terhadap politik menjadi pandangan yang optimistis. Caranya bagaimana, ya dengan ikut aktif berpartisipasi di dalamnya,” tegas Calon Anggota DPRD Kota Malang Dapil Sukun ini.

Lanjut mantan Ketua Karang Taruna Kota Malang ini, kebanyakan dari anak muda sudah lelah berteriak, lantaran aspirasi mereka tak mendapat sambutan positif pemerintah. Menurutnya daripada menunggu pemerintah berbuat, anak muda harus berinisiatif mencarikan solusi melalui program atau gerakan nyata.

Menurut Anas tidak ada yang salah dari mencari solusi dan menginisiasi gerakan perubahan. Namun, tidak semua dari kita paham bahwa pada akhirnya perubahan di tataran politik dan pemerintahan tetap dibutuhkan.

“Ini membuat kita seringkali lupa bahwa akar permasalahan dari situasi di negeri ini salah satunya adalah para pengambil keputusan dan kebijakan yang tidak benar-benar menjalankan tanggung jawabnya, bekerja untuk mensejahterakan rakyat. Akibatnya, banyak perubahan yang kandas di tengah jalan karena terbentur regulasi,” beber dia

“Kalau bukan sekarang kapan lagi. Ini saatnya kaum muda, terjun ke dunia politik, dan ikut bagian dari pengambil kebijakan dalam mengawal setiap proses politik sebagai langkah awal yang positif bagi regenerasi perpolitikan Indonesia,” imbuhnya

Keterlibatan kaum muda yang terjun dalam pemilihan legislatif pun sangat dibutuhkan, selain dinilai mampu menarik kalangan milenial dalam proses pemilihan, juga sebagai representasi dari suara anak muda saat ini.

Data KPU Kota Malang dari 610.671 jiwa Daftar Pemilih Tetap (DPT) untuk Pemilu 2019 di Kota Malang, sekitar 20-25 % diisi oleh pemilih pemula (Pemilih muda) atau usia 17 tahun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here