Kampung Budaya Polowijen Kembangkan Batik Motif Kendedes

0
142

PolitikaMalang – Tidak mudah mengembangkan batik sebagai warisan tradisi dan seni budaya Malang. Saking berlimpahnya sumber informasi dan referensi sebagai penanda identitas Kota Malang yang mensejarah dimana motif batik di anasir sebagai salah satu corak yang menjadi icon Kota Malang. Maka sah sah saja setiap pekerja seni kriya batik dengan menuangkan goresan tangan dan mengembangkan motif batik.

Sebut saja Malang yang terkenal dengan budaya arek dan Arema sebagai salah satu icon spirit warga Malang Raya bahkan ada Kampung Tematik Kampung Biru Arema dengan simbul Singo Edan. Atau Malang dengan Tugu yang melegenda sebagai identitas Pemerintah Kota Malang. Selain itu Topeng Malang juga menjadi icon seni budaya dengan tari dan wayang topengnya mampu di tuangkan dalam goresan canting diatas kain. Bahkan relief Candi Singosari, patung Kendedes serta peninggalan artefaktual bisa di ekplorasi menjadi motif batik Malang

Menurut Dwi Cahyono Arkelolog Universitas Negeri Malang, Kuat alasan untuk menyatakan bahwa batik telah riil hadir di Malang pada Masa Pemerintahan Singhasari.

“Batik Malang bukan sekedar batik yang diproduksi di daerah Malang, namun lebih dari itu memiliki motif hias yang berakar pada tradisi seni yang menyejarah di Malang raya. Jejak arkeologis di area Malang raya telah menyediakan bahan (referensi) berlimpah untuk dapat dijadikan sumber guna menghadirkan Batik Khas Malang,” imbuhnya.

Maka tak ayal Kampung Budaya Polowijen sebagai salah satu kampung yang aktif melakukan penggalian motif batik Malang. Sudah lima kali menyelenggaran Workshop Kriya batik Malang yang pesertanya adalah 50 warga Polowijen sebagai pembatik pemula. KBP secara terus menerus melakukan riset motif-motif batik Malang dan 10 pembatik tingkat lanjut yang mengikuti Workshop Kriya Batik Malang Kali ini di tatar selama dua hari Sabtu dan Minggu (19-20 Januari 2019).

Menurut Titik Nur Fajriyah, Instruktur Workshop Kriya Batik Malang KBP mengatakan bahwa Workshop kali ini lebih meningkatkan pada desain motif khas Malang yang di gali melalui motif patung Ken Dedes serta Topeng Malang. Selain itu peserta lebih di tekankan pada teknik mencanting yang lebih rumit dan detail serta percampuran pewarnaan lebih natural.

Ternyata kegiatan workshop batik kali menarik perhatian Chiara Hwa dari United International Collage China yang datang bersamaan 20 rombongan mahasiswa luar negeri yang mengikuti program AIESEC Universitas Brawijaya pada hari sabtu datang berkunjung ke KBP yang melakukan serangkaian kegiatan studi budaya. Chiara Hwa datang kedua kalinya sendirian untuk merampungkan setiap tahapan kegiatan membatik dan sambil melakukan penggalian makna batik yang di cantingnya katanya.

“saya senang ada di kampung kecil ini semua belajar budaya suasana alami dan saya ikut membatik untuk hadiah ulang tahun mama saya” Pungkasya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here