Kembali Gagal Dapat Rekom PDIP, Kemana Arah Politik Sam WES Selanjutnya?

0
941

PolitikaMalang – Atmosfer Pilkada Kabupaten Malang tahun 2020 ini mulai menghangat. Diawali dari turunnya rekomendasi PDI Perjuangan untuk pasangan petahana Sanusi-Didik Gatot Subroto, yang rame membahas manuver politik Sanusi karena dipandang tiba-tiba meloncat ke kandang banteng dan resmi meninggalkan PKB. Kemudian disusul dengan pendaftaran pasangan dari jalur perseorangan, yaitu pasangan Heri Cahyaono-Gunadi Handoko. Yang telah dilakukan hari ini (21/2/20) sekitar pukul 14.30 WIB di kantor KPUD Kabupaten Malang. Kemudian disusul dengan munculnya nama baru Willem Petrus Salamen, mantan Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kabupaten Malang.

Seperti diketahui, pada hari Kamis (20/2/20), DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang mengundang 8 balon yang mendaftar, untuk didengar dan diserap aspirasinya. Namun yang hadir hanya dua orang, yaitu Hendik Arso dan Dicky Sulaiman. Sedangkan Wahyu Eko Setiawan, yang juga mendaftarkan diri sebagai calon Bupati Malang, menyatakan bahwa sebenarnya dirinya sudah hadir tepat waktu sesuai undangan tersebut. Tetapi ternyata acaranya molor hingga 1 jam lebih, yang akhirnya membuatnya meninggalkan acara tersebut.

“Saya sebenarnya sudah hadir mulai jam 4 sore, sesuai jadwal undangannya. Tetapi sampai lebih dari jam 5 sore acara belum juga dimulai. Akhirnya saya balik badan karena ada acara lainnya. Saya sudah mengisi buku daftar hadir tamu undangan,” ungkap Wahyu Eko Setiawan, yang akrab dipanggil Sam WES, saat ditemui di sebuah warung kopi.

Ketika ditanyakan lebih lanjut perihal rekomendasi PDI Perjuangan yang diberikan kepada pasangan Sanusi-Didik Gatot Subroto, Sam WES mengatakan bahwa hal itu mutlak hak DPP PDI Perjuangan. Namun demikian, Sam WES juga mengingatkan bahwa seyogyanya elite partai tidak mengabaikan suara dan aspirasi dari bawah.

“Jika kita melihat kasus rekomendasi partai di setiap kontestasi pilkada, kita bisa semakin melihat bahwa kedaulatan politik telah bergeser. Kedaulatan politik saat ini sudah tidak lagi berada di tangan rakyat. Tapi bergeser ke tangan elite politik. Kita bisa belajar dari pengalaman pilkada Kota Malang tahun 2018 lalu, dan kali ini di Kabupaten Malang,” ungkap Sam WES dalam diskusinya.

Sebelum melakukan pendaftaran ke DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang, Sam WES sebenarnya juga sudah melakukan gerakan ke bawah untuk melakukan sosialisasi bahwa dirinya akan maju menjadi Bakal Calon Bupati Malang melalui jalur perseorangan. Ketika ditanyakan kenapa langkah tersebut dilakukannya, Sam WES menjelaskan bahwa apa yang dilakukannya adalah untuk melakukan pendidikan politik dan membangun kesadaran politik pada masyarakat akar rumput. Menurut Sam WES, seharusnya medan politik adalah wahana kebudayaan untuk rakyat membangun hajat hidup cita-cita mulianya.

“Kita bisa melihat banyak fakta, bahwa rakyat kecil semakin dijauhkan dari medan politik. Seolah-olah yang berhak turun ke medan politik dan berkontestasi untuk menjadi kepala daerah, adalah mereka yang punya uang dan kekuasaan. Rakyat miskin harus dipinggirkan. Ini yang harus kita lawan. Langkah pertama adalah dengan melakukan pendidikan politik dan membangun kesadaran berpolitik bagi rakyat kecil sebanyak-banyaknya,” sambung Sam WES dalam diskusinya.

Ketika ditanyakan berapa jumlah KTP dukungan yang sudah bisa diperolehnya selama hampir 8 bulan bergerak ke bawah bersosialisasi, Sam WES menyatakan bahwa jumlah KTP yang diperolehnya masih sebanyak 16.712 KTP dukungan. Jumlah tersebut sangat jauh dari persyaratan yang dibutuhkan untuk bisa maju melalui jalur perseorangan mengikuti pilkada Kabupaten Malang.

“Masih sekitar 16.712 KTP dukungan. Jauh tidak mencukupi. Tapi target awalnya memang untuk melakukan pendidikan politik dan membangun kesadaran rakyat Kabupaten Malang. Soal jumlah yang diperoleh itu hanya bonus saja. Karena memang diperoleh secara gratis, riil karena kesadaran. Bukan karena permintaan atau karena iming-iming imbalan,”sambung Sam WES dalam diskusinya.

“Yang terbanyak dari Lawang, Singosari, Pakis, Jabung dan Tumpang. Karena memang ada misi khusus. Selain untuk pendidikan politik dan membangun kesadaran rakyat, juga sekaligus membangun sebuah ikhtiar arus besar gerakan pemekaran wilayah Kabupaten Malang. Semoga ke depan bisa terwujud pemekaran wilayah Kota Mandiri Singhasari,” lanjut Sam WES dalam diskusinya.

Saat ditanyakan ke mana dukungan politiknya terhadap pasangan yang sudah ada saat ini, Sam WES menyatakan bahwa saat ini dirinya belum memilih pasangan bakal calon yang akan didukungnya nanti. Sam WES masih menunggu perkembangan lebih lanjut. Menurutnya, politik sangat cair dan dinamis. Namun demikian, dukungan yang diberikan haruslah sesuai dengan aspirasi dan suara akar rumput yang sudah mempercayakan dirinya dan memberika dukungan kepadanya.

“Meskipun jumlahnya 16.712 KTP dukungan, yang sangat jauh dari syarat jumlah dukungan minimal untuk maju dari jalur perseorangan, saya tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Ada beban moral dan ideologis yang harus saya tunaikan amanahnya. Ini yang membuat saya harus sangat hati-hati untuk menentukan arah dukungan politik ke depannya. Saya tentu tidak mau mengkhianati kepercayaan dan dukungan yang sudah diberikan kepada saya,” pungkas Sam WES dalam diskusinya.