KKN Mahasiswa UMM Kembangkan Desa Wisata Berbasis Pertanian

0
53

POLITIKA MALANG – Sejumlah mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali diterjunkan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) dalam rangka melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan ditempatkan di Desa Tawangargo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.

Desa Tawangargo menjadi satu diantara 1000 desa yang dicanangkan oleh Kementerian Pertanian (Kemtan) dalam program “1000 Desa Organik” berbasis wisata dengan sebutan Desa Jokowi berdasarkan produk unggulannya yakni tanaman jagung, kol dan sawi (Jakowi).

Kondisi Geografis Desa Tawangargo yang terletak pada posisi 7° 53′ 35′ Lintang Selatan dan 112° 53′ 41′ Bujur Timur dan terletak di daratan tinggi sekitar 700 m – 1000 m di atas permukaan air laut, serta memiliki Intensitas curah hujan yang tinggi, membuat wilayah ini sangat cocok untuk lahan pertanian dan perkebunan.

Melihat potensi ini, Kelompok 148 KKN UMM turut meresponnya dengan membuat rencana pengelolaan wisata edukasi berbasis pertanian di Desa Tawangargo. Aksi ini dimulai dengan mengadakan pertemuan khusus dengan kepala desa dan elemen masyarakat setempat untuk membahas program terkait, Minggu (19/5/2019).

Iwan Pujantoko selaku Koordinator Desa (Kordes) memaparkan, rencana perubahan skema lahan wisata telah digambarkan pada layout denah pariwisata. Meliputi pembangunan tempat parkir, rest area, spot foto, lahan pertanian organik, taman bunga, pembuatan petunjuk arah, dan perbaikan jalur menuju kawasan wisata.

Untuk mewujudkan hal tersebut, pihak pemerintah desa telah sepakat kerjasama dengan mahasiswa KKN 148 UMM. “Tempat wisatanya telah ada cuma butuh beberapa pengembangan saja. Nantinya, masyarakat sekitar dan kelompok tani Tawangargo akan ikut terlibat dalam pelaksanaannya,” tutur mahasiswa Pendidikan Biologi ini.

Dari ketiga tanaman ada, dijelaskan oleh mahasiswa semester enam ini bahwasanya Desa Jokowi ini juga memiliki potensi yang menarik dalam pengembangan olahan-olahan yang berbasis jagung seperti jus jagung, “Sejak beberapa tahun belakangan ini baru ada, tetapi masih terkendala masalah kemasan,” ucap Iwan.

“Semoga dengan adanya pengembangan desa wisata di Tawangargo, diharapkan mampu menambah daya tarik wisatawan dari Malang Raya maupun luar daerah. Selain itu juga agar dapat menjadi sumber penghasilan utama masyarakat, sehingga mendorong perbaikan roda perekonomian warga serta pendapatan desa,” pungkasnya. (*)

Pewarta : Djoko Winahyu