Kohati Sebagai Pelopor Pendidikan Pembebasan Tunas Muda

0
454

Oleh: Esha Wahdania Nurfathonah*

PolitikaMalang – Manusia merupakan puncak ciptaan, makhluk yang tertinggi dan sebagai khalifah fil ard. Secara kodrati manusia cenderung pada yang hanief sehingga pada dasarnya jika manusia bisa menggunakan akal dan hatinya secara optimal maka nilai-nilai kebenaranlah yang selalu diperjuangkan. Kita tidak bisa pungkiri manusiapun diciptakan dengan hawa nafsu namun hal itu bisa diseimbangi oleh akal dan hati. Pendidikan merupakan instrument fundamental sebagai thoriqoh guna mewujudkan dirinya sebagai manusia dengan mengembangkan kecakapan-kecakapan dan memenuhi keperluan-keperluannya. Manusia yang berarti adalah manusia yang bermanfaat dan mampu memberikan perubahan kepada manusia lainnya

Pendidikan adalah proses humanisasi bukan hanya sebatas pada proses transfer knowledge semata, beberapa tokoh pendidikan islam misalnya Prof. Dr. Omar Muhammad Al-Touny al syaebani mengatakan bahwa pendidikan adalah usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatannya dan kehidupan dalam alam sekitarnya melalui proses pendidikan. Perubahan itu dilandasi dengan nilai-nilai islami. Atau misalnya menurut tokoh pendidikan barat Paulo freire menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha untuk mengembalikan fungsi pendidikan sebagai alat untuk membebaskan manusia dari berbagai bentuk penindasan dan ketertindasan, atau biasa disebut dengan usaha untuk “memanusiakan manusia” (Humanisasi).

Jika merefleksi kesejarah pendidikan di indonesia, seorang tokoh pendidikan Ki Hajar dewantoro mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa pada tanggal 2 Mei 1889, meskipun beliau adalah seorang bangsawan namun beliau selalu bergaul dengan anak-anak rakyat jelata. Yang dimana dasar pendidikan yang didirikannya mempunyai senjata ampuh yang terkenal dengan istilah “Non-Cooperation” yaitu sikap menolak kerja sama dengan pemerintah kolonial belanda saat itu. atau sistem yang dibangun olehnya adalah Self-help atau-bedruipings System yang dimana system bersandar kepada kemampuan diri sendiri, atau sistem membiayaai diri sendiri dalam mengemudikan Pendidikan Taman Siswa, yang menuju kepada pembangunan perekeonomian rakyat yang berdasarkan kooperasi serta pendidikan rakyat yang berdasarkan kebangsaan.

Dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 20013 tentang sistem Pendidikan Nasional, pasal 3 tujuan pendidikan Nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Namun, realita hari ini yang menjadi problematika bangsa kita bukan dari segi kuantitas manusia yang mngenyam pendidikan akan tetapi kualitas yang lahir dari sistem pendidikan itu belum mampu sepenuhnya menjawab persoalan yang dihadapi oleh bangsa dan negara.

Untuk menghadapi situasi pendidikan di Indonesia saat ini, seorang tokoh pendidikan Barat Paulo Freire telah memaparkan empat kesadaran yang dimiliki oleh manusia yairtu, Kesadaran Intransitif yang dimana seseorang hanya terkait pada kebutuhan jasmani, tidak sadar akan sejarah dan tenggelam dalam masa kini yang meninda, kesadaran magis yaitu kesadaran yang terjadi dalam masyarakat tertutup yang dimana hidup yang selalu dalam ketergantungan atau kekuasaan orang lain, kesadara Naif yang dimana kesadaran ini mampu mempetanyakan dan mengenali realitas tetapi masih ditandai dengan sikap yang primitive dan naïf, kesadaran kritis transitif dimana kesadaran yang ditandai dengan kedalaman menafsirkan masalah-masalah, percaya diri dalam berdiskusi, mampu menerima dan menolak. Kesadaran yang seharusnya yang menjadi output terbaik dalam pendidikan adalah kesadan kritis transitif namun realita saat ini masih banyak mahasiswa yang apatis dengan kejadian yang terjadi disekitarnya, masih sibuk dengan budaya hedonismenya, tidak pernah mau membuka mata hatinya dengan situasi kekacauan yang terjadi pada negara dan bangsa saat ini. orang miskin dilarang sekolah dengan biaya sekolah yang mahal, mahasiswa dilarang untuk kuliah yang lama karena kapitalisasi pendidikan yang semakin menjadi jadi.yang lebih mirisnya adalah bangunan, gedung-gedung pendidikannya semakin dipoles dan dipercantik tapi amunisi intelektual peserta didik dibiarkan.

HMI khususnya HMI-wati sebagai kader umat dan kader bangsa harus sadar dengan realita Indonesia saat ini yang sedang mengalami krisis intelektual, komersialisasi pendidikan, degradasi moral, radikalisme dan lain-lain. Standing position KOHATI harus menjadi garda terdepan dalam menanggapi hal itu serta bersifat solutif dalam menghadapi masalah tersebut. Ikhtiar yang penuh harus dilakukan oleh KOHATI guna memberikan solusi terkait hal itu, gerakan KOHATI Melek Literasi harus menjadi gerakan bersama bagi pemberdayaan perempuan dan KOHATI komisariat dan Korkom guna menghadapi problematika yang terjadi saat ini.

Korps HMI-wati (KOHATI) merupakan suatu lembaga khusus yang dimiliki oleh HMI yang memiliki tujuan yaitu “terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT” sudah saatnya kader-kader HMI khususnya HMI-wati sebagai rahim peradaban mampu menjadi tombak pendidik dan Pembina tunas muda sebagaimana yang tertera dalam peran KOHATI. Konsep pendidikan yang harus diejahwantakan dalam kegiatan-kegiatannya harus berasaskan nilai-nilai keislaman serta pendidikan yang berorientasi pada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri, serta memiliki kesadaran dan berpotensi sebagai Man Of Action untuk mengubah dunianya.

Gerakan Melek Literasi. Budaya membaca, menulis dan berdiskusi bukanlah seruan yang baru terdengar ditelinga kita, tapi seruan ini sudah lama dan pertama kali yang di bawa oleh nabi Muhammad SAW yaitu IQRO’ (Bacalah) sehingga dapat disimpulkan bahwa Literasi adalah Keharusan teologis. Sebab itu Perempuan Indonesia khususnya KOHATI harus mampu mewujudkan pendidikan yang humanis dalam jenjang training dan perkaderan yang dilakukan baik pada tatanan Komisariat, Korkom, Cabang serta PB.

*Penulis adalah Formateur Kohati HMI Cabang Malang 2018 – 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here