Lestarikan Tradisi Pesantren, Gelar Liwetan Akbar Santri se Jawa Timur

0
130

PolitikaMalang – Liwetan adalah tradisi makan bersama ala pesantren yang biasa dilakukan hingga kini. Acara Liwetan Akbar ini dilaksanakan oleh PW RMI (RIBITHOH MAAHID ISLAMIYAH) NU Jawa Timur bertempat di PP. Shabilur Rosyad Gasek Malang yang diasuh KH Marzuki Mustamar pada hari Selasa malam (29/1/19). Diselenggarakannya acara liwetan akbar ini semata mata untuk menjalin silaturahmi para santri, Gus dan para Kiai antar pondok pesantren se Jawa timur.

Dalam sambutannya Gus Zaky Hadziq selaku ketua PW RMI Jatim mengatakan bahwa acara ini nantinya akan diselenggarakan secara berkala agar terwujud silaturahmi antar pondok pesantren se Jatim.

“Terlebih saat ini memasuki tahun politik, potensi untuk mengadu domba antar umat sangat besar sekali” tambahnya.

Ia mengatakan bahwa Pesantren sebagai institusi yang besar dan tumbuh di masyarakat diharapkan mampu meredam dan mendinginkan suasana, agar tidak terjadi perpecahan hanya gara gara perbedaan pilihan politik.

Sementara itu, dalam sambutannya sebagai shohibul bait atau tuan rumah, KH. Marzuki Mustamar mengatakan bahwa kesepakatan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah final. Menurutnya, mengapa para pendiri NU yg notabene adalah bagian dari pendiri bangsa ini menyepakati bentuk negara NKRI, karena memang yang sesuai untuk Indonesia adalah NKRI, mengingat Indonesia terdiri dari berbagai agama dan ribuan suku.

“Bentuk NKRI itu tidak bertentangan dengan syariah Islam karena kalau melihat dari dasar negara yaitu Pancasila sudah sesuai dengan nilai Islam ahlus sunnah waljamaah annahdliyyah dalam hal ini NU” ungkapnya.

Kiai yamg juga ketua PW NU Jatim itu juga menyampaikan jika ada yang mengatakan bahwa NKRI itu bertentangan dengan syariah Islam yg dibuktikan dengan tidak bisa diterapkannya hukum Islam misalnya qishos dan rajam, menurutnya para kyai NU tidak melawan syariah tapi para kiai berpendapat bahwa hukum tersebut tidak bisa diterapkan di indonesia karena pertimbangan tertentu.

Acara ini diakhiri dengan makan nasi liwetan dengan cara makan ditalam atau nampan secara bersama sama. Panitia sudah mengeluarkan 500 talam dengan asumsi 1 talam bisa dimakan 4 orang sehingga total jumlahnya ada sekitar 2000 jamaah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here