“Menanti Sosok Pemimpin Perekat, Penghilang Sekat“

0
553
PAN: LKPJ Wali Kota Malang Kurang Ideal
Sekertaris DPD PAN Kota Malang, Dito Arief

Menyambut Tahun Politik Kota Malang 2018

Oleh: Dito Arief*

PolitikaMalang – Dinamika Pilkada Kota Malang cenderung senyap jauh dari hingar bingar dinamika Pilkada di beberapa Kota/Kabupaten lain di Jawa Timur, yang sudah tampak meriah dan greget dengan munculnya gambar pasangan calon dan pergerakan terbuka kandidat dan Partai Politik dalam mempersiapkan Koalisi maupun Persyaratan Pencalonan.

Di Kota Malang, meskipun ada dinamika namun semuanya masih sebatas pergerakan senyap yang cenderung tertutup, bahkan hingga satu minggu menjelang dibukanya Pendaftaran Pasangan Calon 08 Januari 2018 mendatang, komposisi dan konfigurasi Koalisi dan Pasangan Calon masih dinamis dan bisa jadi ada kejutan.

Baru dua Poros yang sudah jelas menyatakan akan tampil bertanding dalam Pilkada Kota Malang, Poros Petahana H. M Anton bersama Koalisinya (PKB – PKS – Nasdem) serta Poros Penantang yakni Harapan Pembangunan (Hanura – PAN – PPP) bersama-sama dengan PDIP sebagai Partai Pemenang Pemilu 2014.

Keputusan Tiga Partai tersisa yaitu Demokrat, Golkar, dan Gerindra sangat dinanti khususnya dalam mewujudkan Koalisi Besar yang sudah digagas secara Intens untuk bersama-sama memenangkan Pilkada Kota Malang.

Koalisi Besar menjadi sebuah keniscayaan dalam Pilkada Kota Malang, mengingat nuansa kebatinan yang sama yang dirasakan oleh hampir semua Partai Politik yang ada di Kota Malang. Pola komunikasi yang tersumbat, sikap Unrespect dan perlakuan yang kurang Etis, dan Problem mendasar terhadap Komitmen menjadi Nuansa batin yang menjadi titik temu dalam memformulasikan Koalisi Besar menghadapi Pilkada Kota Malang, selain tentunya pertimbangan logis dan faktual bagaimana perjalanan Pemerintahan Kota Malang selama 4 Tahun belakangan ini dengan beragam fenomena sosial, kasus hukum dan kebijakan serta masalah khas perkotaan yang ada di Kota Malang.

Kami meyakini Gagasan Koalisi Besar hanya akan runtuh bilamana ada intervensi yang demikian kuat serta pertimbangan pragmatis atau transaksional yang menjadi dasar dari Keputusan Politik yang dibuat.

Tentunya tidak sulit seharusnya bagi Petahana untuk mendapatkan dukungan dari Partai Politik semenjak jauh-jauh hari bilamana semuanya baik-baik saja, kita bisa menengok daerah tetangga Bagaimana Petahana seperti Gus Irsyad Yusuf (Bupati Pasuruan), Tantri Hasan Aminudin (Bupati Probolinggo), Abdullah Abu Bakar (Walikota Kediri) sudah mendapat dukungan dan Rekomendasi Parpol sejak jauh-jauh hari, bahkan mereka pun tanpa sungkan bersedia untuk mendaftar secara terbuka di Parpol lain di daerahnya.

Inilah fenomena yang unik yang tidak terjadi di Kota Malang, Petahana kesulitan untuk mendapatkan Rekom Parpol, bahkan Rekom dari Parpol nya sendiri, yang hingga last minute terlihat gopoh mengejar rekom dari Partai-Partai yang ada.

Sehingga nafas untuk membangun Koalisi Besar, Koalisi Pelangi, atau Koalisi Kebersamaan tentunya menjadi sebuah Harapan Besar untuk Kota Malang, bagaimana membangun dan Menata Kota Malang Bersama-sama, tidak hanya bagi Partai Politik, namun juga semua elemen, komunitas, kelompok masyarakat, Organisasi Masyarakat maupun individu-individu secara Politik yang merasa ada yang keliru dalam Arah Pembangunan dan Kepemimpinan Kota Malang dalam Satu Periode belakangan ini, yang perlu dirubah, diperbaiki, hingga ditata ulang untuk benar-benar mewujudkan Kota Malang agar semakin MeNaWan.

*Penulis adalah Sekertaris DPD PAN Kota Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here