*Oleh: Harun Prasojo

PolitikaMalang – Bus Sekolah Kota Malang dengan model baru sudah beroperasi. Bus itu tak seperti bus yang sudah ada sebelumnya, ukurannya lebih kecil namun fungsinya tetap sama untuk membantu para siswa sekolah sehari-hari.

Keberadaan bus sekolah menuai pro dan kontra. Namun, mari kita sedikit bijak untuk bertanya kepada pemerintah, apakah bijam untuk menambah bus sekolah di tengah kondisi carut marut angkutan umum melawan angkutan online seperti saat ini?

Bagaimanapun, angkutan umum itu masih diakui sebagai angkutan resmi yang beroperasi dalam suatu daerah. Supirnya para kawula alit atau kalau versi Wali Kota Malang, adalah Wong Cilik. Mereka banting tulang untuk mencari nafkah keluarganya. Kondisi mereka makin terjepit, manakala terkena serangan dari angkutan online dan saat ini ditambah lagi dengan penambahan bus sekolah. “Kue” penumpang mereka makin sedikit. Para supir kini harus lebih ‘survive’ hidup di jalanan.

Menurut saya kalau memang cita pemerintah adalah “Peduli Wong Cilik” maka bus sekolah itu kurang bijak. Anggaran atau dana untuk pembelian bus sekolah baru itu akan lebih bijak jika digunakan untuk memfungsikan angkutan umum daripada membeli bus miliaran rupiah ditambah biaya operasional yang juga tak murah.

Anggaran menurut saya bisa lebib multi efek apabila digunakan untuk subsidi perbaikan angkot yang nanti bisa digunakan sebagai transportasi gratis bagi siswa dengan subsidi dari Pemerintah Kota Malang. Mekanisme lapangan bukanlah hal yang sulit jika kita ada kemauan yang kuat untuk hal itu.

Bus sekolah, dana operasional bulanannya tidak sedikit, namun jika kembali pada posisi angkutan umum saat ini akan lebih mengena kalo anggaran bisa terserap kpd para sopir/pemilik angkot yg notabene warga Kota Malang dan masuk kategori “wong cilik”.

Dengan begitu, pelajar tetap dapat angkutan gratis ke sekolah, pemilik angkutan umum dan supir juga dapat manfaat dengan mekanisme subsidi berdasarkan sistem. Semua itu butuh ittikad baik. Jika skema begitu maka anggaran bisa sangat bermanfaat dari rakyat untuk kembali ke rakyat.

Menata angkutan umun, saya kira Pemkot Malang harus punya konsep, tidak seperti saat ini terkesan “unkonsep” serba sepotong-sepotong dan tidak nyambung antara satu sama lain. Bagi saya Peduli Wong Cilik bisa dimulai dengan menata angkutan umum dan para sopir/pemilik angkot harus juga mau ditata kalau tidak mau tergusur zaman, seperti nasib bemo dan angkutan lain yg sempat berjaya di era tahun 1980-an.

*Penulis adalah Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Malang/Politisi PAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here