Perempuan Politik

Can the subaltern speak? –Spivak-

0
332

Oleh: Atika candra larasati*

Politika Malang – Sudah menjadi hal yang biasa jika kita melihat laki-laki selalu eksis dalam berbagai bidang, salah satunya adalah politik. Politik memang terlihat sangat maskulin, karena ada banyak hal di dalam politik yang “katanya” hanya bisa dikerjakan oleh laki-laki. Sebenarnya opini ini adalah bagian dari persetujuan bersama masyarakat dalam waktu yang sangat lama.

Mansour Faqih, salah satu bentuk ketidakadilan gender terhadap perempuan adalah terjadinya subordinasi perempuan dalam bidang politik, terutama menyangkut proses pengambilan keputusan, dan pengendalian kekuasaan. R.W Connell mengemukakan bahwa pencitraan yang sifatnya penyeragaman (stereotyping) ini tidak selalu cocok dengan laki-laki, sehingga Connell mengusulkan istilah hegemoni maskulin, yang merupakan sebuah konstruksi sosial budaya yang ideal, yang tidak sejalan dengan personalitas mayoritas laki-laki dalam kehidupan nyata. Hegemoni ini berlangsung karena adanya masyarakat yang mempertahankan.

Di masa sekarang partisipasi perempuan dalam politik tidak bisa lagi dianggap sebagai hal yang bisa disepelehkan, perempuan dalam keikutsertaannya menjadi kader partai bukan hanya lagi berusaha duduk dalam pengurus partai, namun tampil sebagai wakil yang dicalonkan sebagai legislative sampai dengan kepala daerah. Hal ini juga membawa efek positif ketika perempuan lebih banyak terlibat dalam politik dan menjadi wakil Partai dan Rakyat yang berkualitas misalnya adalah seperti penurunan angka korupsi, penguatan ekonomi, kesetaraan bagi yang terpinggirkan serta keamanan dan perdamaian.

Barometer Global Corruption Transparency International secara konsisten juga mengklaim temuannya yang menunjukkan bahwa perempuan lebih kecil kemungkinannya untuk membayar suap dan cenderung memaafkan korupsi. Adapun studi Bank Dunia menunjukkan bahwa peningkatan 8% dalam jumlah perempuan yang duduk di parlemen akan menurunkan 20% tingkat korupsi di negara itu. Women Research Institute, melakukan Survei dilakukan pada 1.200 responden di 33 provinsi dengan margin error 2,8%. Dari total responden, sebanyak 58 % responden setuju bahwa semakin banyak perempuan di parlemen, akan mempercepat keadilan perempuan dan laki-laki.

Keberadaan perempuan sebagai wakil dari rakyat dan partai politik memberikan harapan yang lebih besar terhadap perjuangan isu-isu yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat khususnya juga perempuan. logikanya semakin banyak perempuan dalam arena politik dan mengisi posisi strategis maka keberadaan perempuan tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan kelompoknya dengan mewakili, mengawal dan mempengaruhi agenda dan proses pembuatan kebijakan, serta turut serta dalam proses pembangunan yang ramah bagi perempuan, dan pernyataan Spivak, yang meragukan suara perempuan bisa melawan hal-hal yang bersifat maskulin mampu dipatahkan.

Kehidupan perempuan akan membaik jika perempuan yang berada dalam posisi pemilih tidak salah menggunakan hak pilihnya dengan suara yang tidak bisa dianggap kecil dalam setiap pemilihan, tidak bisa dipungkiri perempuan juga menjadi target empuk dalam memenangkan calon-calon partai politik. Tidak ada makhluk lain di muka bumi ini yang paling mengerti dengan kehidupan perempuan kecuali perempuan itu sendiri, bagaimana bisa seorang perempuan menyandarkan hidupnya pada kebijakan politik yang paling penting dalam kehidupan untuk dibawa oleh laki-laki, padahal laki-lakilah yang selama berabad-abad menjadi perrmasalahan bagi perempuan itu sendiri.

Lalu, apakah perempuan masih ragu untuk memiih perempuan?

 

*Penulis adalah mahasiswi S3 jurusan sosiologi politik Universitas Brawijaya Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here