Politisi Milenial

Oleh: Atika C. Larasati*

PolitikaMalang – Milenial di masa sekarang merupakan kata yang popular dan pasti artinya sudah banyak diketahui dan dipahami oleh banyak kalangan, terlebih disukai oleh kalangan politisi untuk menggambarkan dirinya dan layak jual di kalangan anak muda atau orang-orang yang sudah kadung berharap kepada generasi milenial.

Mari kita telusuri dulu apa arti dari kata milenial dan siapa sajakah yang masuk dalam kategori ini, istilah tersebut berasal dari millennials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya. Millennial generation atau generasi Y, termasuk generasi milenial adalah yang kira-kira lahir pada tahun 1981 – 1995. Jika dilihat pada tahun 2019 ini, mungkin kira-kira generasi milenial berusia sekitar atau menginjak 30 tahun.

Namun memang tidak ada kejelasan yang lebih detil masalah umur dari milenial ini. Para milenial ini menjadi top karena adanya ciri yang melekat pada milenial yaitu , pola pikir dan karakter generasi milenial bisa dikatakan sering out of the box, penuh kreativitas, inovatif, dan cepat beradptasi dengan teknologi baru.Dari ciri-ciri milenial di ataslah yang membuat politisi masa sekarang terlihat gemar menyematkan kata milenial pada branding dirinya, contoh “bersih dan milenial” atau “muda dan milenial”.

Saya juga kurang paham, indikator milenial jika disematkan kepada para politisi yang menggunakan cap milenial ini seperti apa. Cara pikirnya kah, hobinya, usianya, penampilannya kah, pencapaian atau cara kerjanya kah? Jika yang dimaksud milenial hanya melulu masalah usia dan tampilan, maka banyak politisi muda yang menggunakan sneakers dan kaos kemana-mana namun pendek cita-citanya dan tidak bisa melakukan apa-apa.

Baca Juga :   Dari Batu Andesit ke BUMD, Gaduh Birokrasi Ditengah Pandemi?

Bahkan ketika sampai pada posisi penguasa atau seorang pembuat dan pengambil keputusan politik yang pengaruhnya akan sangat dirasakan masyarakat mereka seolah tak punya ide-ide milenial seperti apa yang mereka gemborkan. Tidak perlulah saya berikan contoh para politisi milenal yang sudah duduk dibangku empuk penguasa namun tidak banyak melakukan hal-hal berfaedah untuk rakyat. Karena ini sudah menjadi rahasia umum, rakyat bisa menilai.

Membawa symbol milenal adalah perkara susah menurut saya, jika urusannya bukan hanya usia. Banyak sekali orang berumur yang malah pola pikirnya lebih milenial, ketimbang mereka-mereka yang barusan saya ceritakan. Seolah-olah jika membawa “milenial” maka akan banyak dipilih, baru dan segar. Maka kita perlu salahkan konsultan politiknya jika masih dengan mudah dan menggemborkan sang klien sebagai calon milenial. Lucu memang, menjual image politisi dengan selera pasar atau masyarakat tanpa melihat kekuatan kliennya sendiri.

Karena tidak semua milenial juga disukai oleh rakyat, bagaimana bisa percaya pada milenial, jika mereka kurang matang dalam pengalaman, kebanyakan ide dan hayalan, minim realisasi, seperti ungkapan bahwa anak muda memang minim pengalaman karena mereka tidak menawarkan masa lalu, anak muda menawarkan masa depan.

Untuk itu symbol milenial tidak seharusnya mudah disematkan pada seseorang. Karena milenialnya politisi khususnya yang mendapatkan tanggung jawab dari rakyat adalah mampu melakukan dan membuat kebijakan dan kerja politik yang konkret sesuai dengan perkembangan masyarakat di masa sekarang dan ssesuai dengan cirri khas yang melekat dari seorang milenial, tanpa karakter yang kuat politisi milenial tetap hanyalah sebuah pilihan palsu untuk rakyat.

*Penulis adalah kandidat doktor sosiologi Universitas Brawijaya

Leave a Reply