Pusat Pengembangan Batik UB Siap Go Internasional

0
142

PolitikaMalang – Pusat Pengembangan Batik Nusantara (Batara) Milik Universitas Brawijaya (UB) Malang, Selasa (5/3/2019) menggelar deklarasi Batara sekaligus sarasehan Budaya 2019 di lantai 10 Gedung Layanan Bersama UB.

Acara ini diramaikan dengan pameran aneka motif batik beberapa daerah serta batik hasil lomba Batik Brawijaya, kemudian ada peragaan busana batik yang di peragakan Duta kampus binaan kakang mbakyu kota Malang.

Divisi Pengembangan Pusat Pengembangan Batik Nusantara UB, Dr Ir Susinggih Wijaya MS menyatakan pihaknya akan memberdayakan UMKM batik yang ada di masyarakat pelosok melalui pembinaan secara khusus sehingga mutu batik, baik disain cetak, perpaduan cetak tulis maupun teknik batik printing layak Go Internasional.

“Salah satu strategi yang kami lalukan adalah dengan berkunjung ke berbagai daerah di Indonesia, guna mencari motif batik yang khas dari wilayah tersebut, yaitu motif batik berbasiskan budaya dan sejarah,” jelas dosen Fakultas Teknologi Pertanian UB ini.

“Kalau motif sumber daya alam bisa dicontoh. Seperti cengkeh ditrenggalek banyak, tapi kalau budaya misal seperti cerita rakyat pasti selalu berbeda,” tambah Susinggih Wijaya.

Sejak diluncurkan tahun 2015, pusat pengembangan Batara UB terus melakukan pengkajian batik. Setidaknya telah ada 60 motif batik dari seluruh Indonesia yang telah masuk ke data base Batara UB.

Beberapa wilayah yang saat ini tengah menjadi fokus pengembangan batik berbasiskan budaya diantara adalah Timor Tengah Selatan (TTS), Natuna, Kutai barat, Nunukan, Tanjung Buai, Bawean, serta Boven Digoel Papua.

“Perguruan tinggi kalau berjalan sendiri tidak bisa. Jadi kami merangkul berbagai elemen masyarakat,” tambahnya

Agar pengembangan potensi batik berbasis budaya dapat tersebar merata, pihaknya memanfaatkan fasilitas yang telah disediakan perguruan tinggi.

“Kita ada program pengabdian doktor, lalu ada juga KKN mahasiswa itu yang kita manfaatkan,” pungkasnya.

Sementara itu, Rektor UB Malang Nuhfil Hanani menyampaikan, potensi batik berbasis budaya yang telah dikembangkan Batara UB nantinya akan dipatenkan universitas.

“Kalau tidak di hak ciptakan akan dicuri orang, jadi harus dihakciptakan,” kata Nuhfil Hanani sambil menyarankan Batara itu harus Go Internasional.

Sarasehan ini dihadiri warga binaan LPPM UB dan tokoh Seni budaya Didik Ninitowok.

Sekretaris Pusat Pengembangan Batik Nusantara UB, Sri Palupi Prabandari PhD mengatakan, “UB lebih senang memberdayakan masyarakat di desa untuk membatik karena lebih antusias dibanding warga Kota,” katanya.(*)

Pewarta : Djoko Winahyu