Selera Pemilih Muda; Antara Partai Lama dan Partai Baru

0
145

Oleh: Atika C. Larasati*

PolitikaMalang – 2019 merupakan tahun politik yang ditunggu-tunggu. Pergantian kekuasaan untuk sekadar berharap pada janji-janji yang lebih baru dari periode sebelumnya. Kaum muda merupakan kelompok yang disasar oleh banyak kalangan politisi dan partai politik untuk ikut berpartisipasi dalam pemilihan. Bukan hanya sebagai yang dipilih tapi juga yang memilih.

Sebutan kaum milenial dengan program-program milenial yang sangat kekinian dibuat untuk sekadar menarik perhatian kaum muda ini, yang jelas membawa keuntungan lebih untuk kantong suara. Bahkan partai-partai politik baru tak segan membuat seolah-seolah mereka yang paling anak muda banget.

Persentase dari responden yang ikut serta dalam survei Hasta Komunika tahun 2016 menyatakan bahwa pemilih muda 77% melihat dari rekam jejak dan jam terbang partai politik yang akan dipilihnya, dengan terlebih dahulu melihat siapa sosok yang akan dipilih dengan melihat latar belakangnya sebanyak 61,1%.

Dari hasil di atas, sepertinya partai politik baru harus bekerja keras untuk mengantongi suara pemilih muda dikarenakan masih banyak generasi milenial yang mempercayakan suaranya kepada partai dengan jam terbang tinggi. Tidak bisa dilupakan bahwa kaum muda atau milenial ini memiliki taste yang baik terhadap politik masa kini, didukung dengan kecanggihan informasi yang mudah diakses di masa sekarang membuat mereka lebih rasional pula dalam memilih. Calon-calon cerdas dan bisa membaur dengan merekalah yang menarik perhatian generasi ini.

Untuk itu, bagi para calon dipilih dengan modal materi pas-pasan harusnya lebih tenang menghadapi tahun politik ini jika telah memiliki modal sosial, diusung partai dengan rekam jejak dan jam terbang baik dan figur yang diharapkan hadir di kalangan milenial.

Pendidikan politik bagi kaum muda untuk menempatkan selera politiknya pada titik yg tepat juga menjadi tugas selanjutnya para calon ini, Alexis de Tequeville menegaskan, “Setiap generasi adalah masyarakat baru yang harus memperoleh pengetahuan, mempelajari keahlian, dan mengembangkan karakter atau watak public maupun privat yang sejalan dengan demokrasi konstitusional. Sikap mental ini harus dipelihara dan dipupuk melalui perkataan atau pengajaran serta kekuatan keteladanan. Demokrasi bukanlah – mesin yang berfungsi dengan sendirinya – tetapi harus selalu secara sadar direproduksi dari suatu generasi ke generasi berikutnya”.

*Penulis adalah mahasiswi program doktor sosiologi Universitas Brawijaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here