Tingkatkan Kesadaran Politik mahasiswa, DPM  Polinema Gelar Sekolah Legislatif

0
165

PolitikaMalang – Mandulnya mahasiswa dalam mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah akhir-akhir ini, membuat mahasiswa dianggap terjebak dalam permainan politik para elite.

Dimasa orde lama misalnya, muncul figur Soe Hok Gie sebagai simbol perjuangan mahasiswa. Saat orde baru pun ada figur Budiman Sudjatmiko yang berani melawan Kungkungan rezim otoriter Soeharto. Masalahnya, setelah era reformasi figur mahasiswa hilang bak ditelan bumi.

Tanggap akan hal ini, Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Politeknik Negeri Malang (Polinema) mengupayakan peningkatan kesadaran politik mahasiswa. Salah satu caranya adalah dengan menggelar sekolah legislatif.

“Dengan adanya kegiatan ini harapannya, mahasiswa sendiri bisa lebih peka dalam permasalahan politik khususnya legislatif dan bisa lebih kritis lagi terhadap permasalahan di Indonesia pada umumnya dan Polinema khususnya,” kata Ketua Pelaksana kegiatan, Revaldo Mulya Ramadhan usai gelaran sekolah legislatif, Sabtu (1/12/2018)

Sementara itu, sekertaris DPM Rizky Refiza menegaskan, di masa sekarang mahasiswa kurang kepedulian terhadap isu-isu politik yang tengah berkembang di Indonesia. Bahkan tingkat partisipasi politik mahasiswa pun dapat dikatakan masih sangat minim.

Dari penelitian, Herlyne yang dipublish dalam jurnal Kajian Moral dan Kewarganegaraan menunjukkan tingkat partisipasi mahasiswa dalam pemilihan raya khususnya dilingkungan kampus hanya mencapai angka 56,72 persen. Hal ini menunjukkan, masih banyaknya sikap apatisme dalam diri mahasiswa saat ini.

“Mahasiswa kurang kepedulian di masa sekarang, jadi kita ambil ini sebagai moment untuk mendorong kepedulian mahasiswa,” kata Rizky Refiza

Meski diajak untuk turut berpartisipasi dalam politik, mahasiswa harus dituntut untuk bersikap netral. Menurut Ketua Komisi 2 Senat Polinema, Hairus Sandi, kenetralan mahasiswa dalam politik artinya mahasiswa harus menjadi penengah dan menjadi agen of change yang baik khususnya terhadap kemajuan perguruan tinggi sekaligus bangsa dan negara.

“Mahasiswa harus punya prinsip tidak harus berpihak, berani mengkritisi apa yang dinilai mereka bermasalah,” kata Hairus Sandi

Sebagai informasi, dalam gelaran tersebut, DPM menghadirkan dua narasumber utama yakni Ketua Umum DPM Universitas Brawijaya dan Ketua Komisi 2 Senat Polinema, Hairus Sandi

Lebih lanjut Hairus Sandi mengatakan bahwa tujuan diadakan kegiatan ini agar mahasiswa semakin peduli terhadap permasalahan bagsa ini dan dan tidak sekedar mencari ip dan nilai saja. “Adanya sekolah legislatif ini agar mahasiswa semakin kritis dan tambah peduli terhadap masalah masalah sosial di negeri ini termasuk kritis terhadap kebijakan yg dikeluarkan oleh para penguasa pemerintahan, termasuk penguasa daerah,” pungkasnya.(*)

Pewarta : Djoko Winahyu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here