Wujudkan Tri Bina Cita Kota Malang, Disbudpar Getol Garap Pokdarwis

0
147

PolitikaMalang – “Kota pariwisata telah disematkan untuk kota Malang. Namun itu tak bermakna apabila tidak diikuti oleh rasa memiliki dan keterlibatan aktif warganya, “ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang, Ida Ayu Wahyuni disela sela pembinaan Kelompok Sadar Wisata di kampung tematik 3 D Kelurahan Rampal (minggu, 13/1/ 2019).

Terlebih kampung 3 D bersama kampung warna warni dan kampung biru telah menjadi satu kesatuan paket wisata kota. Wisatawan masih antusias untuk melakukan aktifitas wisata selfie di lokasi tersebut, maka warga setempat harus memiliki tourisme minded. Imbuh Dayu, demikian Kadisbudpar kota Malang akrab disapa.

Karena menonjolkan pada keunikan lukisan mural tiga dimensi, maka untuk mengantisipasi kejenuhan pengunjung diperlukan kreatifitas warga untuk terus melakukan peremajaan lukisan, menggali cinderamata yang disajikan dan yang tidak kalah pentingnya karena berada di tengah tengah pemukiman adalah keramah tamahan dan kemampuan berkomunikasi yang baik dengan pengunjung, “Tambah wanita yang ramah senyum tersebut.

Sementara itu data dari Disbudpar, masih 13 Pokdarwis yang ada di kota Malang. Secara kuantitatif dari 57 kelurahan yang ada di kota Malang, maka masih 10 persen dan ini masih sedikit untuk sebuah kota yang mentasbihkan sebagai kota wisata sebagaimana termaktub dalam Tri Bina Cita Kota Malang (red. Malang kota Pendidikan, kota Pariwisata dan kota jasa / industri).

Menyikapi hal tersebut, Dayu, demikian Kadisbudpar kota Malang disapa, menuturkan langkah pendampingan dan edukasi terus dilakukan di tingkat kelurahan kelurahan. “Ada 2 (dua) hal yang kita tekankan yakni bagaimana mendorong dan memotivasi masyarakat agar menjadi tuan rumah yang baik dalam mendukung kegiatan kepariwisataan serta mendorong dan memotivasi masyarakat untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan daya tarik wisata, “imbuh Ida Ayu.

Sutiaji, Walikota Malang, menilai dan mengakui bahwa masyarakat kota Malang belum kuat etos wisatanya. “Masyarakat kita belum seperti Bali maupun Yogya. Darah wisatanya belum sekental dua daerah tersebut. Tapi bukan berarti kita (kota Malang) nggak bisa. Saya yakin dan saya percaya bisa, “ujar Walikota yang sering lontarkan ide ide kreatif tersebut.

Secara khusus Sutiaji telah mendorong Disbudpar untuk memperbanyak dan memperkuat Pokdarwis. “Masak nggak sampai 50 persen. Padahal kota Malang makin akrab dan mungkin juga pelopor lahirnya kampung kampung wisata tematik.

Maka kehadiran Pokdarwis yang memang basisnya kelurahan menjadi teramat strategis.
Hal lain yang menurut Walikota Sutiaji penting dilakukan untuk makin mengentalkan darah wisata kota Malang adalah penyusunan agenda wisata secara permanen, pengkayaan hotel hotel dengan budaya lokalistik serta pernak pernik wisata khas Malang, penguatan pemandu wisata dan penguatan ciri khas wisata kota Malang yang akan di “push” adalah wisata heritage. “Strategi lainnya adalah sinergi wisata Malang Raya. Karena Bali dan Yogya itu juga karakteristiknya satu kesatuan, “tegas Pak Aji, demikian warga menyapa Walikotanya.

Mengacu data kunjungan, prospek wisata kota Malang sangat potensial. Pada ajang Indonesia Atractive Index (IAI), wisata kota Malang masuk dan mendapat penghargaan kota potensial wisata dengan ditopang kehadiran kampung tematik.(*)

Pewarta : Djoko Winahyu
.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here