Ali Ahmad: Saatnya Kolaborasi Membangun Malang Raya

PolitikaMalang – Visi Malang “The Little Indonesia” terus digaungkan oleh Anggota Komisi XI DPR RI H. Ali Ahmad disela kunjungan kerjanya dalam rangka Sosialisasi 4 Pilar di Desa Donowarih, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Rabu (27/11/2019). Visi ini tidak lain merespon potensi Malang yang hebat layaknya miniatur Nusantara.

Potensi yang dimaksud, mulai pariwisata, pertanian, seni budaya, sejarah hingga pendidikan ada di Malang. Maka sangat wajar jika Malang Raya disebut sebagai The Little Indonesia.

“Kita ambil contoh seperti di Kabupaten Malang ini sendiri sangat kompleks. Contohnya potensi pariwisata, kita ini dikelilingi 6 gunung, punya puluhan coban hingga pantai. Namun sayangnya semua potensi tersebut belum tergarap secara optimal sebagai sebuah kesatuan,” kata Pria yang akrab disapa Gus Ali ini.

Oleh karenanya di momen Hari Jadi Kabupaten Malang ke 1259, Gus Ali mengajak semua pihak,
baik itu masyarakat, akademisi serta Pemerintah harus berperan aktif dan berkolaborasi secara nyata mewujudkan visi Malang sebagai cerminan dari Miniatur Nusantara. Masyarakat diharapkan ikut pro aktif mengusulkan program pembangunan, baik yang bersifat fisik seperti perbaikan infrastruktur maupun sosial ekonomi seperti pemberdayaan masyarakat.

Ketua DPC PKB Kabupaten Malang ini juga menyebut bahwa problem kemacetan masih menjadi momok di tiga daerah di Malang Raya, yakni Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Malang. Hal ini tidak lepas dari kawasan Malang Raya menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Jawa Timur. Namun, membludaknya volume arus kendaraan khususnya pada momen liburan atau weekend yang tak diimbangi dengan kapasitas infrastruktur jalan menjadi penyebab utama kemacetan. Tak jarang pula para wisatawan yang datang ke Malang mengeluhkan hal ini.

Baca Juga :   Musrenbang Klojen, Tangani Pandemi Guna Pemulihan Ekonomi

Pembina Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Malang Raya ini menyebut dua hal yang harus segera direalisasikan dan bisa menjadi solusi kemacetan yakni kehadiran transportasi masal dan pembangunan ring road (jalan melingkar).

Menurut dia, Wilayah Malang Raya sangat membutuhkan jalan lingkar (ringroad). Keberadaannya pun di rasa sangat urgent, mengingat dengan adanya ring road kepadatan kendaraan di pusat kota bisa dikurangi, terutama kepadatan akibat para pengendara atau pelintas antar kota.

“Dengan adanya Ring Road para pelintas antar Kota misalnya dari arah Surabaya menuju ke Kepanjen tadi tidak perlu melewati pusat kota tapi hanya melewati pinggiran kota. Atau pelintas dalam kota juga tidak harus melewati jalan utama, namun bisa memilih jalur lain . Sehingga kemacetan di pusat kota bisa berkurang,” kata alumnus Universitas Islam Malang (UNISMA) itu.

Solusi tersebut sebenarnya bisa teratasi dengan adanya tol Mapan (Malang – Pandaan), namun tentu saja hal ini tidak cukup karena setiap tahun volume kendaraan bermotor di wilayah Malang Raya terus naik. Maka dari itu keberadaan jalur lingkar sangat dibutuhkan sebagai penunjuang tol Malang – Pandaan.

Menurut Gus Ali, gagasan agar pemerintah di Malang raya untuk membangun jalan lingkar, yakni barat dan timur ini sudah sekitar 20 tahun lalu, namun belum juga terwujud hingga kini.

“Keberadaan jalan tol dan ring road ini dapat mempersingkat jarak tempuh. Proses distribusi akan menjadi lebih cepat dan efesien. Setiap daerah pun bisa mudah diakses dengan cepat, sehingga memberi banyak daya tarik investor dalam hal proses penanaman modal, dan nantinya daerah ini akan berkembang cukup maju,” kata Gus Ali

“Apalagi, dengan akses yang lebih mudah, Malang Raya sebagai daerah tujuan wisata akan semakin menarik minat. Dan muaranya pada menggeliatnya ekonomi dari masyarakat,” imbuhnya

Baca Juga :   Jaga Keharmonisan Keluarga, Gus Ali Ahmad Apresiasi Griya Curhat

Selain ringroad, kata Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini, arus kepadatan lalu lintas bisa dikurangi dengan menekan kebutuhan penggunaan mobil pribadi. Salah satu caranya adalah memperbaiki pelayanan angkutan umum dan aksesnya.

“Harus ada angkutan massal seperti busway misalnya. Buatlah masyarakat menemui pilihan bagus ketika naik angkutan umum, lebih nyaman, murah dan fleksible,” jelasnya

Transportasi massal tersebut harus terintegrasi dan melayani rute dari pintu masuk di utara, Lawang (Kabuapten Malang), wilayah Kota Malang dan Kepanjen (Kabupaten Malang) serta rute Lawang-Kota Malang-Kota Batu.

Beberapa tahun lalu kebijakan transportasi massal bus transmaya (transportasi Malang raya) sudah pernah digagas namun sayangnya tidak terealisasi sampai detik ini.

Leave a Reply