Kemungkinan Anton Dan Nanda Hadir Debat, Fajar: KPK Tidak Mengizinkan

PolitikaMalang – KPU telah siap gelar debat paslon Pilkada Kota Malang yang akan melibatkan tiga Paslon yakni MENAWAN , ASIK dan SAE.
Tiga paslon ini akan bertarung malam ini, 5 Mei 2018 di Hotel Harris. Menjawab pertanyaan wartawan terkait kehadian palon yang akan bertarung malam nanti, Fajar santosa.SH. MH divisi hukum KPUD Kota Malang mangatakan, bahwa KPU sudah berusaha menyurati KPK terkait peminjaman dua orang calon walikota malang yang tersangkut hukum Tipikor, namun gagal.

“Kita sudah berusaha menyurati KPK terkait ke inginan KPU dan tim pemenangan masing masing paslon untuk menghadirkan dua calon Walikota M Anton paslon no urut dua dan Nanda qudban paslon no urut satu tetapi, tidak berhasil. KPK telah memberi jawaban tidak mengizinkan atau memenuhi permohonan kami. Dipastikan keduanya tidak akan hadir dan pasangan Menawan akan dihadiri Ahmad Wanedi sedangkan pasangan ASIK dihadiri Wakilnya Syamsul Mahmud,” ungkap Fajar Santosa.

Hal ini disampaikan Fajar disela sela acara Sosialisasi tentang aspek aspek Hukum dalam pilkada dan peran stakeholder dalam mensukseskan Pilkada kota Malang Tahun 2018.

Sosialisasi ini dihadiri narasumver dari kejaksaan, mantan ketua bawaslu Jatim Sunarto dan akademisi Nazaruddin Malik.

Terpisah, redaksi berhasil mewawancarai pakar politik dari UMM Dr. Wahyudi, M.Si. Menjawab pertanyaan tentang fenomena Pilkada Kota Malang.

Menurut Wahyudi bahwa fenomena ini sebagai media pembelajaran untuk kita semua, bahwa tujuan politik yang Mulya itu (untuk memperjuangkan rakyat) harus ditempuh dengan cara yang halal dan thoyib pula.

“kata pepatah Jawa ‘becik ketitik olo ketoro’, peribahasa kita juga ajarkan ‘sepandai pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga’. Jadi kasus korupsi berjamaah ini adalah ibrah atau pelajaran untuk kita semua,” ujar Wahyudi.

Baca Juga :   Walikota Malang: Sampaikan Aspirasi Dengan Cara Yang Baik

Pakar Politik dari Fisip UMM menyatakan bahwa apapun yang terjadi, roda pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat harus tetap berjalan sesuai dengan aturan yang ada, meski harus ditempuh dgn ‘cara darurat’.

“Disinilah letak pentingnya Plt, Wahid Wahyudi, untuk mencari segenap alternatif peluang ‘penyelamatan’ Kota Malang,” tambah Wahyudi.

“Saya merasa ada yang aneh, ternyata Sosio-psikologis masyarakat Malang seolah tidak merasa kehilangan siapapun, mereka tidak berduka, mereka tidak menangis. Ada apa ini, jangan jangan mereka merasa, bahwa ada atau tidak ada pemimpin itu, sama dengan tidak ada, “tanya Wahyudi keheranan.

Saat ditanya tentang debat kedua malam nanti, Wahyudi menjawab ” debat tetap perlu, meski kurang optimal manfaatnya. Itu rangkaian pembelajaran berdemokrasi. Memang debat itu lebih berada pada level kognisi, yg berarti hanya bisa mengangkat ‘materi abstrak’ , agak jauh dari realita empirik. Kalaupun ada data kuantitatif yg diangkat maka itu sekedar data yang absurd, demi tujuan politik pihak yang mengangkatnya,” ujarnya menutup wawancara. (*)

Pewarta: DJoko Winahyu

Leave a Reply