“Ayo Noto Malang” Calon Lawan Tangguh “Peduli Wong Cilik”?

PolitikaMalang – Tagar #ayonotomalang mulai menjadi viral di sosial media. Tagar dengan kalimat ajakan konstruktif itu mulai ramai dibicarakan warganet baik di akun facebook, instagram dan sebagainya.

Tagar #ayonotomalang awal mulanya dikenalkan oleh politisi cantik, Ketua DPC Hanura Kota Malang, Ya’qud Ananda Gudban melalui postingan dari akun resmi miliknya.

Kalimat “Ayo Noto Malang”, memberikan perspektif baru terkait visi dan misi dalam membangun Kota Malang di masa mendatang. Hal itu semakin jelas, manakala wanita yang kini menjabat sebagai Anggota DPRD Kota Malang itu resmi diusung Partai Hanura dan PAN sebagai bakal calon wali kota di ajang pilkada tahun depan.

“Ayo Noto Malang”, menjadi ajakan sekaligus menjadi jargon Ya’qud Ananda Gudban yang mulai dikenalkan ke publik. Ia mengaku filosofi utama dari slogan itu yakni, membangun Kota Malang tidak bisa dilakukan sendiri, harus mengajak masyarakat untuk berpartisipasi di dalamnya.

“Semangat kebersamaan, mengajak semua komponen inilah yang saya maksud dalam kalimat Ayo Noto Malang,” kata wanita yang akrab disapa Nanda itu.

Dalam konteks politik, apalagi mendekati Pilkada Kota Malang, jargon versi Nanda Gudban itu seakan menjadi pesaing slogan calon petahana H. Moch Anton yang terkenal dengan “Peduli Wong Cilik”. Apalagi, saat ini keduanya sama-sama diusung partai menjadi kandidat kuat bakal calon wali kota.

“Perang” jargon ini tentunya cukup konstruktif dan menjadi edukasi politik bagi masyarakat, karena warga bisa menilai sosok figur dari visi dan misi yang berada di balik nilai filosofis sebuah slogan.

Berkaitan dengan “Ayo Noto Malang” Nanda menjelaskan, jika nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong adalah inti dari slogannya. Ia menambahkan, jika konsep peduli saja saat ini tidak cukup, melainkan harus ada pemberdayaan masyarakat di dalamnya sehingga maksud pembangunan bisa dirasakan warga secara utuh.

Baca Juga :   E - Commerce Antar Kota Malang Raih Indonesia Award 2020

“Wong Cilik jangan dijadikan objek terus, seolah dipedulikan tapi tidak ada unsur pemberdayaan. Setiap masyarakat termasuk wong cilik harusnya diajak ikut menata Kota Malang sesuai porsi masing-masing dari hal terkecil di sekitar mereka. Jadi Ayo Noto Malang ini kembali pada konsep gotong royong bangsa kita,” tukasnya.

Nanda dan Poros Penantang Petahana

DPD PAN Kota Malang beberapa waktu lalu mengumumkan secara resmi mengusung Ya’qud Ananda Gudban, sebagai bakal calon wali kota pada Pilkada 2018. Keputusan PAN bersama dengan Hanura Kota Malang dalam sebuah koalisi membentuk poros kekuatan baru penantang dominasi petahana H. Moch Anton.

Koalisi yang akrab disebut Harapan atau singkatan dari Hanura dan PAN ini terus aktif bergerak melebarkan sayap. Terkahir, mereka mendekati dua partai yakni Gerindra dan PKS untuk bergabung membentuk kekuatan. Itu artinya, nama Nanda Gudban kini mulai tenar sebagai pesaing Anton di Pilkada Kota Malang tahun 2018.

Melihat rekam jejak Nanda Gudban yang aktif turun di masyarakat, sosok wanita yang baru saja meraih gelar doktor di Universitas Brawijaya (UB) ini elektabilitas dan popularitasnya kian melambung. Pengamat Politik dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melihat sosok Nanda Gubdan sebagai sosok yang sangat berpeluang menumbangkan petahana, meskipun diakuinya sosok Anton juga masih kuat dari segi elektabilitas dan popularitas.

“Nanda memiliki intelektualitas yang bagus, jaringannya sudah tak diragukan dari tingkat nasional hingga internasional,” ungkap Wahyudi.

Sementara di kubu petahana, kemungkinan PKB berkoalisi dengan PDI Perjuangan dengan sebutan poros “Bangjo” mulai menguat. Salah satu dari tiga nama kader partai berlambang banteng itu yakni Abdul Hakim, Sri Untari dan Sri Rahayu digadang-gadang akan menjadi pendamping Anton dalam pilkada tahun mendatang.

Baca Juga :   Walikota Malang: Sampaikan Aspirasi Dengan Cara Yang Baik

Konstelasi politik yang mulai mengerucut ditambah dengan perang slogan membuat drama Pilkada Kota Malang semakin memanas jelang pendaftaran calon pada Januari 2018 mendatang. Slogan “Ayo Noto Malang” melawan “Peduli Wong Cilik” bisa menjadi pintu pembuka bagi warga untuk melihat visi misi yang ditawarkan para kandidat bakal calon.

Leave a Reply