Bahas Ilmu Pragmatik, UMM Gelar Dialog Pakar

PolitikaMalang – ILMU pragmatik telah menjadi bagian amat penting dalam studi linguistik. Sebagai disiplin ilmu makna, kedudukannya disetarakan dengan semantik dan sintaksis. Ilmu pragmatik menjadi penting dan khas karena kemampuannya untuk mempersoalkan makna tuturan pada konteks spesifik.

Salah satu pakar pragmatik yang dimiliki Indonesia berasal dari Universitas Negeri Semarang (UNNES), Prof Dr Rustono MHum,termasuk salah satu pendahulu yang memperkenalkan pragmatik sebagai disiplin linguistik di Indonesia.

Guru besar universitas Negeri Semarang ini, menjadi pembicara dalam dialog Pakar, mengambil tema “Pragmatik dalam Dinamika Sosio Kultural di Era Revolusi Industri”di Ruang Sidang Senat UMM, Selasa (17/7) pukul 09.00 WIB,dan ini diikuti mahasiswa prodi Bahasa Indonesia dan sastra UMM.

Menurut Prof Rus, Dunia pendidikan, lebih khusus lagi dunia belajar, didekati dengan paradigma yang tidak mampu menggambarkan hakikat belajar dan pembelajaran secara komprehensif dan kontekstual dengan sosiokultural yang ada.

Praktik-praktik pendidikan dan pembelajaran diwarnai oleh landasan teoretik dan konseptual yang tidak akurat. Pendidikan dan pembelajaran hanya berfokus pada pembentukan perilaku keragaman, dengan harapan akan menghasilkan keteraturan, ketertiban, ketaatan, dan kepastian. “Pembentukan ini dilakukan dengan kebijakan penyeragaman pada berbagai hal di sekolah,”ucapnya.

Harapanya Mahasiswa prodi Bahasa dan sastra UMM nantinya bisa terjun ke masyarakat untuk bisa memberikan pembelajaran bagi anak-anak yang sangat sulit menghargai perbedaan. Perilaku yang berbeda lebih dilihat sebagai kesalahan yang harus dihukum.

Anak-anak perlu mempersiapkan diri untuk memasuki era demokratisasi—suatu era yang ditandai dengan keragaman perilaku, dengan cara terlibat dan mengalami secara langsung proses pendemokrasian ketika mereka sedang berada di lingkungan belajar (sekolah).

Penghargaan terhadap ketidakpastian, ketidakmenentuan, perbedaan, atau keragaman perlu ditumbuhkan sedini mungkin. Keterlambatan hanya memunculkan peluang terjadinya peristiwa kekerasan sebagaimana yang terjadi akhir-akhir ini.

Baca Juga :   Kondisi Jalan Desa Memprihatinkan, Paslon LADUB Siapkan "Sade Jamu"

Kita perlu melakukan reformasi, redefinisi, reorientasi, bahkan revolusi terhadap landasan teoretis dan konseptual belajar dan pembelajaran agar lebih mampu menumbuhkembangkan anak-anak bangsa ini untuk lebih menghargai keragaman konteks sosial budaya yang ada.

“Dengan ungkapan lain, kita perlu melakukan revolusi -sosiokultural {sociocultural revolution) dalam belajar dan pembelajaran,”terangnya.

Dikatakan Prof Rus, Kegiatan belajar dan pembelajaran perlu disesuaikan dengan paradigma revolusi sosial-budaya. Dengan upaya demikian, sumber daya manusia yang dihasilkan dapat menjawab tantangan abad global, dalam arti mampu bersaing, memiliki kompetensi yang dibutuhkan untuk memasuki dunia kerja abad XXI. Kompetensi yang dimaksud adalah mampu berpikir kreatif, inovatif, mampu mengambil keputusan, memecahkan masalah, belajar bagaimana belajar, berkolaborasi, dan pengelolaan diri,”pungkasnya .(*)

Pewarta :Djoko Winahyu.

Leave a Reply