Beberapa Saksi Kembali Ringankan Nanda Gudban

PolitikaMalang – Sidang dugaan kasus suap APBD – Perubahan 2015 kembali berlanjut pada Rabu (17/10) kemarin. Beberapa saksi kembali meringankan Ya’qud Ananda Gudban dalam tersebut.

Sidang yang menghadirkan beberapa saksi seperti Mantan Sekda Kota Malang, Cipto Wiyono, Mantan Wawali Kota Malang yang kini menjabat Wali Kota Malang, Sutiaji dan beberapa anggota dewan itu dilakukan untuk mengkroscek bukti persidangan.

Dalam sidang itu, secara kompak baik Harun Prasojo, Suparno, Erny Farida, Fadli dan Cipto Wiyono kompak menyebut sosok Ya’qud Ananda Gudban tidak pernah menggunakan wewenangnya untuk kepentingan pribadi.

“Bu Nanda tak pernah menggunakan kewenangannya untuk kepentingan pribadi,” kata Harun.

Selain itu, dalam sidang itu Jaksa Penuntut Umum juga memutar sejumlah rekaman. Akan tetapi pada saat rekaman telepon Ya’qud Ananda Gudban, tidak berkorelasi dengan dakwaan.

Rekaman telepon itu terjadi pada bulan September 2015, akan tetapi dalam dakwaan kepada Ya’qud Ananda Gudban konstruksi perkaranya terjadi pada bulan Juli 2015.

Seperti diberitakan sebelumnya, banyak saksi yang memberikan kesaksian yang menguatkan wanita yang akrab disapa Nanda Gudban itu. Tiga Mantan Anggota DPRD Kota Malang, masing-masing Mohan Katelu, Salamet dan Zaenuddin, kompak menyebut jika Ya’qud Ananda Gudban tidak pernah menerima membahas soal uang pokir apalagi menerimanya.

Hal itu diungkap pada saat lanjutan sidang Dugaan Kasus Korupsi Suap APBD di Pengadilan Tipikor, Surabaya pada Rabu (10/10). Mohan menyebut, Ya’qud Ananda Gudban selama menjadi anggota dewan tidak pernah membahas masalah uang.

“Mbak Nanda selama menjadi dewan tidak pernah membahas uang,” kata Mohan.

Ia juga menegaskan, jika sosok yang akrab disapa Nanda itu merupakan anggota dewan yang memiliki keilmuan dan kapabilitas, sehingga kerap dijadikan rujukan atau konsultasi bagi anggota dewan lain.

Baca Juga :   Walikota Malang: Sampaikan Aspirasi Dengan Cara Yang Baik

“Mbak Nanda ini sosok yang mampu dan memiliki keilmuan banyak anggota dewan yang sering berdiksusi dengan beliau,” tegasnya.

Pernyataaan tiga anggota dewan itu mempertegas, apa yang disampaikan oleh Mantan Ketua DPRD Kota Malang, Arief Wicaksono saat menjadi saksi pada beberapa waktu lalu.

Kala itu, Arief menceritakan jika ia tidak membagi kepada satu persatu kepada ketua fraksi atau anggota dewan. Ketika, uang Rp 700 juta itu sampai di rumah dinas, ia lantas menghitung jumlah untuk para anggota dan ketua fraksi. Setiap anggota mendapatkan Rp 12,5 juta dan ketua fraksi Rp 15 juta, para ketua fraksi atau anggota dewan datang untuk mengambil uang tersebut.

“Waktu itu ketua fraksi saya tidak melihat Mbak Nanda (Ya’qud Ananda Gudban) ungkap Arief Wicaksono.

Dalam keterangannya, Arief juga menyebut, jika sosok Ya’qud Ananda Gudban selama ini tidak pernah meminta uang THR dan sejenisnya selama menjabat sebagai anggota dewan. “Mbak ini tidak pernah sekalipun minta uang seperti itu dan saya sendiri tidak pernah memberikan uang kepada Mbak Nanda, karena Mbak Nanda ini orang kaya, jadi memang tidak pernah ada minta uang pokir atau sejenisnya itu,” tegasnya.

Bahkan, ketika di tanya penasehat hukum Ya’qud Ananda Gudban, Arief mengaku jika sosok Nanda sangat memiliki integritas yang tinggi dan kerap dimintai pendapat oleh beberapa ketua fraksi lainnya.

“Mbak Nanda ini sering kita mintai saran dan masukan soal beberapa hal termasuk dasar hukum dan segala macam, karena beliau memang Ketua Banleg,” ucapnya.

Perkara suap massal di lingkungan DPRD Kota Malang yang menyebabkan 41 legislator jadi pesakitan terkait suap pembahasan APBD Perubahan pada 2015 silam. Selain legislator, KPK juga menjerat Wali Kota Malang saat itu, Mochammad Anton, eks Kadis PU Kota Malang, Jarot Edy Sulistyono, dan mantan Ketua DPRD setempat, M Arief Wicaksono. Perkara ketiganya sudah inkracht dan kini menjalani hukuman.

Leave a Reply