Belum Ada Bukti Nanda Gudban Terima Uang Pokir

PolitikaMalang – Sidang Kasus Suap APBD Perubahan Kota Malang Tahun 2015 sudah digelar hingga puluhan kali. Namun, belum ada bukti kuat dari beberapa saksi yang menyebut sosok Ya’qud Ananda Gudban menerima aliran dana sebesar Rp 12,5 juta itu.

Penasehat Hukum Ya’qud Ananda Gudban, Patra M Zain, mengatakan, jika selama sidang, dari penuturan para saksi, tidak pernah terbukti jika kliennya menerima uang yang dimaksud.

“Sidang ini sudah digelar hampir 13 atau 14 kali tidak ada saksi yang menyebut Bu Nanda ini menerima uang pokir,” kata Patra M Zain.

Dijelaskan, pilihan penasehat hukum melakukan eksekpsi dikarenakan sedari awal memang tidak alat bukti untuk menjerat Nanda Gudban.

“Hingga saat ini belum ada yang menyebut Nanda menerima uang pokir baik dari saksi anggota DPRD Kota Malang, Mantan Sekda Cipto Wiyono hingga Mantan Ketua DPRD Kota Malang, Arif Wicaksono,” terangnya.

Bahkan, ada beberapa saksi yang bahkan menguatkan jika Nanda Gudban memang tak pernah menerima uang pokir dan sejenisnya. Menurut Patra, beberapa keterangan itu tertuang pada saat proses pemeriksaan, dimana beberapa mantan anggota dewan, berkata kepada salah satu mantan anggota Fraksi Hanura – PKS, yakni Afdhal Fauza, yang menyebut jika Nanda memang tak pernah menerima uang.

“Jadi Bu Nanda ini kan waktu itu Ketua Fraksi Hanura PKS di DPRD Kota Malang. Nah, beberapa mantan dewan seperti Sukarno, Suprapto ketika diperiksa itu pernah berkata pada Afdhal kurang lebihnya begini ‘enak betul Afdhal ini kalau dapat uang gak perlu lapor ketuanya’. Nah statemen ini menunjukkan jika Nanda memang tak pernah terima uang atau berurusan dengan uang seperti itu. Bahkan ia juga mencegah rekannya jika menerima uang dari sumber yang tidak benar,” bebernya.

Baca Juga :   Jaga Keharmonisan Keluarga, Gus Ali Ahmad Apresiasi Griya Curhat

Patra menjelaskan, jika Nanda Gudban tidak hadir di Rumah Dinas Ketua DPRD Kota Malang saat pembagian uang pokir berlangsung pada tahun 2015. Kala itu dari Fraksi Hanura – PKS diwakili oleh Afdhal Fauza dan Bambang Triyoso. Sehingga, penerima uang bukan Nanda Gudban.

“Rangkaian uang dari Afdhal ini tidak pernah sampai kepada Nanda, dan selama pemeriksaan Afdhal juga tak pernah akui itu,” tukasnya.

Bahkan, lanjut Patra, ada banyak hal yang menguatkan jika memang sosok Nanda tak pernah terima uang pokir. Kesaksian Mantan Anggota DPRD Kota Malang, Arief Wicaksono pada sidang menyebut jika ia tak pernah memberi uang pada politisi perempuan itu. Arief bahkan menyebut Nanda adalah sosok yang tidak pernah meminta dan membahas uang selama menjadi anggota dewan.

“Bahkan Mantan Sekda Cipto Wiyono mengakui jika Nanda itu pernah mencegah agar tidak ada bagi-bagi uang di DPRD,” tandasnya.

Penasehat Hukum mempertegas, ada banyak bukti baik rekaman dan pesan singkat yang dihadirkan jaksa di sidang, namun bukti itu diluar dakwaan dan tidak sesuai konteks pembicaraan.

“Kalau suap itu ada penerima dan ada pemberi. Nanda di dakwa menerima suap, tapi siapa yang memberikan? Kapan diberikan suapnya? Dengan cara apa? Bagaimana suap diberikan? Runtutan ceritanya apa suap itu diberikan, hingga sidang saat ini belum ada saksi yang menjelaskan itu,” pungkasnya.

Leave a Reply