Gebrakan Golkar di Pilkada Kota Malang

PolitikaMalang – “Golkar maju untuk menang sebagai partai pengusung, bukan partai yang sekadar mendukung, itu arahan DPP partai kepada kami,” Begitu ucap Ketua DPD Golkar Kota Malang, Sofyan Edi Jarwoko saat berbincang dengan Politika Malang, di kantor partai, pada Jumat (10/11).

Apa yang disampaikan oleh Sofyan Edi Jarwoko bukanlah isapan jempol belaka. Meski Golkar nampak landai dalam menghadapi isu koalisi, namun partai berlambang pohon beringin terus aktif menggerakkan mesin partai hingga tingkat kelurahan.

Bagaimana tidak, konsolidasi aktif partai ke struktur tingkat bawah itu sudah merangsek ke 28 kelurahan dari total 57 kelurahan se Kota Malang. Usaha ini menunjukkan bahwa Golkar serius menatap Pilkada tahun mendatang.

Melihat track record Golkar dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, partai ini selalu tampil sebagai pengusung aktif dalam helatan pesta demokrasi warga Kota Malang tersebut. Pada Pilkada tahun  2008 nama kader partai, Aries Pujangkoro maju sebagai calon wali kota. Kemudian, disusul pada tahun 2013, Sofyan Edi Jarwoko juga mendapat rekomendasi partai sebagai calon wakil wali kota mendampingi Heri Puji Utami.

Tidak saja mampu berbicara dalam ajang pilkada, partai ini juga cukup moncer dalam pemilihan legislatif. Pada Pileg tahun 2014, Golkar berhasil kembali mendudukkan salah satu kader terbaiknya duduk di kursi Pimpinan DPRD Kota Malang. Hal itu menandakan, jika suara partai itu melejit dalam pemilihan legislatif.

Kiprah Sofyan Edi Jarwoko memimpin Golkar Kota Malang penuh dengan prestasi gemilang. Hal inilah yang menyebabkan namanya masih melambung sebagai kandidat bakal calon wali kota yang diusung oleh partai berlambang pohon beringin itu.

Sejumlah langkah konsolidasi yang dilakukan terus menerus, makin memantapkan langkah Golkar Kota Malang untuk merebut tampuk kepemimpinan di tataran eksekutif. Sebagai politisi senior, Sofyan Edi cukup piawai mengemas acara konsolidasi dengan memberikan beberapa materi penguatan kepada kadernya.

Konsolidasi Golkar Kota Malang

Pada setiap helatan konsolidasi yang merangsek ke tingkat RT dan RW itu, pria yang akrab disapa Bung Edi itu selalu memberikan tiga pokok bahasan, yakni pendidikan politik, wawasan konsolidasi dan serta sarasehan untuk menangkap gagasan, ide hingga saran dan keluhan masyarakat.

Baca Juga :   Collage With Boulevard To help Blindness Cure

Pendidikan politik dilakukan agar setiap kader Partai Golkar pada setiap tingkatan memiliki wawasan dan sumber daya manusia yang mumpuni dalam konteks politik. Bahasan itu lalu disambung dengan wawasan konsolidasi yang membicarakan tentang visi misi partai dan hasil rapat kerja baik dilakukan oleh tingkat DPD hingga DPP. Sedangkan sarasehan, dilakukan dengan pembahasan yang menukik, yaitu menangkap kondisi sosial masyarakat, serap aspirasi hingga mewadahi ide dan gagasan masyarakat, sehingga tindakan konsolidasi itu mampu menggerakkan mesin partai hingga tataran akar rumput.

“Saat sarasehan dengan masyarakat dan kader partai banyak hal baru yang kita peroleh mulai dari keluhan soal jalan, sarana prasana, hingga ide dan gagasan warga kita tampung seluruhnya,” ungkap Bung Edi.

Upaya penguatan mesin partai ini dilakukan agar pada helatan Pilkada Kota Malang nanti suara Golkar menjadi utuh dan tidak tercecer. Potensi suara Golkar cukup besar, mengingat partai ini memiliki struktur yang cukup kuat ditopang dengan sayap partai yang dominan di beberapa bidang.

Kekuatan mesin partai inilah yang membuat Golkar Kota Malang diperhitungkan dalam ajang pilkada tahun mendatang. Sosok Bung Edi nampaknya masih tak tergoyahkan sebagai bakal calon wali kota yang diusung dari partai ini.

Membaca Gerak Golkar di Pilkada Kota Malang

Meski Partai Golkar masih terlihat landai dalam menghadapi dinamika politik utamanya dikaitkan dengan koalisi, namun gerakan ‘bawah tanah’ melalui konsolidasi aktif yang dilakukan partai ini cukup menyita perhatian.

Berusaha membuka pintu koalisi dengan partai lain, hingga membentuk tim khusus pilkada yang tugasnya menjalin komunikasi dan pemetaan terhadap kondisi politik yang berkembang, adalah salah satu upaya dan strategi Golkar yang sudah berjalan.

Bahkan, jika ditarik ke belakang, sejumlah gerak taktis sudah dilakukan termasuk menjalin komunikasi dengan calon petahana yang juga Ketua DPC PKB Kota Malang, H. Moch Anton. Kedua partai itu sempat bersilaturahmi dan melakukan penjajakan koalisi.

Belakangan, Golkar juga sedang diisukan menjalin komunikasi dengan Gerindra untuk tujuan koalisi. Akan tetapi, menanggapi itu, Sofyan Edi Jarwoko menjawab jika semua partai saat ini sedang dijajaki termasuk PKB, PDI Perjuangan, PPP, PKS, Demokrat, Nasdem hingga poros Hanura-PAN.

Baca Juga :   Vision Discretion And additionally Complicated Pure natural stone Achieving put Get Floor On $400 Trillion Tough Normal jewel Modern gambling house Northern

“Golkar hingga saat ini belum memutuskan apakah maju N-1 atau N-2. Yang saat ini kami lakukan adalah membaca peta politik, melihat kompetitor baru kita ambil posisi dalam Pilkada Kota Malang,” kata Sofyan Edi.

Bahkan, Golkar Kota Malang juga siap dan terbuka jika nanti terdapat perintah dari pihak DPP partai untuk mensinkronkan koalisi yang ada di Pilgub Jatim dengan Pilkada Kota Malang. Diketahui, jika saat ini Golkar telah resmi mengusung Khofifah Indar Parawansa sebagai Bacalon Gubernur Jawa Timur. Bersama Golkar partai lain yakni Demokrat, Nasdem, PPP dan Hanura juga sudah mengumumkan mengusung sosok Khofifah yang kini masih menjabat sebagai Menteri Sosial.

Jika koalisi itu bergabung, gerbang koalisi besar akan terjadi di Pilkada Kota Malang. Golkar saat ini memiliki 5 kursi di legislatif, Partai Demokrat dengan 5 kursi, Hanura 3 kursi, PPP 3 kursi dan Nasdem 1 kursi. Jumlah yang berlebih untuk mendaftarkan pasangan calon ke KPU Kota Malang.

Ketua DPD Golkar Kota Malang, Sofyan Edi Jarwoko saat memberikan arahan dan sambutan di HUT ke 53 Golkar (Foto: Golkar)

Meski begitu, Sofyan Edi juga menegaskan bisa saja partai tidak mengusulkan agar koalisi di Pilkada Kota Malang linier dengan Pilgub Jawa Timur, sehingga hal ini masih membawa sejumlah kemungkinan termasuk koalisi dengan petahana.

“Dinamika ini masih berjalan, komunikasi dengan partai lain masih terus kita lakukan sembari tim pilkada tingkat DPD terus melaporkan hasil kepada DPP, ” ujarnya.

Belajar dari Pilkada 2013

Sofyan Edi Jarwoko Kandidat Bacalon dari Golkar Kota Malang

Nama Sofyan Edi Jarwoko masih kuat sebagai kandidat bakal calon yang diusung oleh Partai Golkar dalam Pilkada Kota Malang tahun 2018 mendatang. Sayangnya, pada pilkada tahun 2013 lalu saat bergandengan Heri Puji Utami, ia belum berhasil merebut tampuk kepemimpinan di tataran eksekutif.

Hal itu tentunya menjadi pembelajaran tersendiri untuk menatap pilkada tahun mendatang. Sofyan Edi Jarwoko, tetap optimis mampu memenangkan pilkada dengan berkoalisi dengan partai lainnya.

Baca Juga :   SANTORINI Accompanying Articles

“Tentunya Golkar harus koalisi karena hanya punya 5 kursi, sedangkan syarat pendaftaran adalah 9 kursi,” kata Sofyan Edi.

Ia mejelaskan, jika kondisi politik pada saat tahun 2013 dan tahun 2018 akan jauh berbeda, meski ada beberapa kesamaan kondisi politik. Dikatakan, pada saat Pilkada Kota Malang periode lalu, pasangan Anton – Sutiaji dianggapnya piawai mengambil momentum politik sehingga mampu menjadi pemenang.

Jika ditarik kebelakang, maka pada Pilkada Kota Malang tahun 2013 memang terdapat perpecahan suara dari PDI Perjuangan. Heri Puji Utami yang merupakan istri wali kota merangkap Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Malang kala itu yakni Peni Suparto tidak mendapat rekomendasi dari partai berlambang banteng itu.

Rekomendasi DPP PDI Perjuangan justu diarahkan pada pasangan Sri Rahayu dan Prijatmoko Oetomo. Turunnya rekomendasi kepada pasangan calon itu berbarengan dengan diberhentikannya Peni Suparto dari PDI Perjuangan karena dianggap tidak patuh.

Peni yang merasa masih memiliki massa dari gerbong ‘merah’ lalu membentuk Red Army. Sedangkan Heri Puji Utami, lalu diusung oleh koalisi beberapa partai termasuk Golkar. Pasangan Heri Puji Utami – Sofyan Edi Jarwoko kala itu akhirnya menjadi lawan tangguh Sri Rahayu – Prijatmoko Oetomo. Disinilah titik letak perpecahan suara PDI Perjuangan yang dimanfaatkan pasangan Anton – Sutiaji yang diusung Gerindra dan PKB.

Kondisi politik yang menguntungkan salah satu pasangan calon di Pilkada Tahun 2013 itulah, yang menurut Sofyan Edi Jarwoko akhirnya menyingkirkan adu gagasan dan ide dalam helatan Pilkada Kota Malang. Masyarakat asik terbawa arus perpecahan besar itu sehingga sedikit menyingkirkan visi dan misi.

Titik inilah yang menurut Sofyan Edi Jarwoko telah berubah pada Pilkada Kota Malang tahun mendatang. Makin terbukanya arus informasi dan kecanggihan teknologi, membuat kondisi sosial pemilih sedikit banyak berbeda.

“Masyarakat akan semakin cerdas dan bijaksana dalam helatan pilkada. Kedepan keunggulan ide dan gagasan para calon akan menjadi parameter yang jadi acuan warga untuk memilih dan itu sudah terbukti di beberapa pilkada,” tandasnya.

Leave a Reply