Gelar Talkshow, HIMPSI Malang Sorot Bahaya Selfie

PolitikaMalang – Kecanggihan teknologi kamera smartphone akhir-akhir ini berdampak pada maraknya kebanyakan orang melakukan berswafoto atau istilah yang paling keren adalah selfie. Selfie yang dilakukan seseorang sebenarnya tanpa sadar seseorang begitu sangat memperhatikan bentuk tubuhnya dan penampilannya hingga melahirkan suatu body-image yang positif atau malah negatif. Terlebih jika selfie yang di ungguh di media sosial akan dikomentar banyak orang entah sebagai pujian atau celaan.

Menurut kamus psikologi (Chaplin, 2005) citra tubuh atau biasa disebut body image adalah ide seseorang mengenai penampilannya di hadapan orang (bagi) orang lain. Body image ini tentu sangat dipengaruhi oleh tingkat kepercayaan diri masing-masing orang. Sedangkan, body shaming adalah bentuk dari tindakan mengomentari fisik, penampilan, atau citra diri seseorang. Lantas, apa jadinya jika sebagian dari kita masih melakukan body shaming? Bahkan, body shaming ini jarang kita sadari. Ironisnya, beberapa dari kita menganggap bahwa body shaming hanyalah sebuah candaan belaka.

Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Cabang Malang lagi-lagi mengadakan “Temu Psikologi Malang Raya yang di kemas dalam bentuk Talk Show pada hari Sabtu 14 Juli 2018 di UMM Inn Hotel dengan acara tema Body Shaming oleh Dr. Sumi Lestari, S.Psi, M.Si dosen Psikologi Universitas Brawijaya dan Body Dismorfic Disorder oleh bapak M. Salis Yuniardi, M.Psi, Phd. Psikolog Ketua Himpsi malang dan Dekan Fakutas Psikologi UMM yang mayoritas dihadiri para psikolog.

Seseorang yang tanpa sadar melakukan body shaming kepada orang lain menurut Sumi sebenarnya tanpa sadar telah merubah mental set seseorang dan merubah prilaku seseorang untuk berpenampilan lebih dari sebelumnya.

“Jika seseorang secara terus terusan mendapatkan body shaming atau di komentari mengenai bentuk tubuh dan penampilannya maka seseorang akan keluar dari karakter kepribadian dan bukan dirinya yang sesungguhnya” begitu Sumi bertutur.

Baca Juga :   Mantan Menteri dan Artis Ajak Milenial Malang Menangkan Paslon LADUB

Sementara itu menurut Salis, kebanyakan seseorang berkecenderungan melakukan Body dismorphic disorder secara berlebih karena tidak puas dengan penampilan dan bentuk tubuhnya, sehingga secara berlebih pula melakukan upaya-upaya untuk memperbaikinya. Salah satu contoh seseorang melaukan diet ketat, olahraga habis, padalah belum tentu alasan utama adalah kesehatan. Selain itu terkadang secara ekstrem melakukan operasi padahal secara nyata sebenarnya tidak ada persoalan berarti dengan tampilan dan bentuk tubuhnya.

Dalam acara ini hadir pula psikolog yang paling senior dari sisi usia yaitu Dra. Wiwik Siti Hardiwijati Joewono, Psikolog yang memberikan motivasi kepada para psikolog lainnya dengan pesan-pesan agar para psikolog dalam memberikan layanan psikologi sebaiknya psikolog tetap membumi dan menjadikan kliennya menjadi manusia apa adanya. Eyang Wiwik berpesan kepada psikolog agar mampu membangkitkan jiwa manusia dan menjadikan diri klien menjadi diri sendiri sesuai dengan minat bakat kepribadiannya dan jangan tercerabut akar kepribadiannya dari agama, sosiokultur dan nasionalisme.

Leave a Reply