Generasi Ken Dedes Siap Dobrak Dominasi Petahana?

PolitikaMalang – Kota Malang akhir-akhir ini diramaikan dengan banner dan baliho “Generasi Ken Dedes” yang bertebaran hingga ke seluruh pelosok kawasan. Banner dan baliho itu menampilkan dua sosok yakni Ketua DPC Hanura Kota Malang, Ya’qud Ananda Gudban dan artis Ibu Kota, Ashanty dalam satu frame foto.

Kemunculan para ‘bidadari’ itu tentunya sedikit mengubah peta politik Kota Malang jelang Pilkada 2018. Berbagai anggapan termasuk salah satunya, kemungkinan duet keduanya di Pilkada juga menguat.

Hal itu bukan saja tidak bisa terjadi, mengingat saat ini tiga partai yakni Hanura, PAN dan PKS sudah berkomitmen untuk koalisi dalam menghadapi Pilkada Kota Malang tahun mendatang. Ashanty sendiri merupakan istri dari politisi PAN Anang Hermansyah.

Menurut Sekertaris DPD PAN Kota Malang, Dito Arief, kemunculan nama Ashanty bukanlah tanpa sebab. Ketua DPP PAN Zulkifli Hasan, merekomendasikan nama artis cantik itu maju dalam pilkada. Ashanty bukanlah figur tanpa latar belakang yang kuat. Ia kini sedang menempuh pendidikan S-2 dan aktif dalam kegiatan masyarakat.

Sedangkan untuk figur Nanda, Dito Arief menjelaskan jika politisi cantik peraih gelar Doktor di Universitas Brawijaya itu juga merupakan sosok yang sangat dekat dengan rakyat kecil. Sehingga, menurut Dito jika “duet” itu diprediksi mampu mengoyak dominasi petahana H. Moch Anton.

“Ashanty adalah sosok yang tak asing lagi bagi warga Malang. Beliau memiliki usaha di Malang,” kata Dito.

Berkaitan dengan kemunculan baliho itu, Dito Arief mengaku tidak mengetahui siapa yang memasangnya hingga seluruh pelosok kawasan. Ia menjelaskan jika baliho itu adalah hasil dari inisiatif masyarakat termasuk pelabelan “Generasi Ken Dedes” di dalamnya.

“Saya tidak tahu siapa yang memasang, bisa jadi itu adalah aspirasi dari masyarakat,” ungkapnya.

Baca Juga :   Showmanship Almost limitless Bucks & Girls 15 minutes Instructions

Jumlah kursi di DPRD Kota Malang sebagai syarat pengajuan pasangan calon untuk ikut serta dalam Pilkada sudah mencukupi yakni 10 kursi. Rinciannya, PAN memiliki 4 kursi, Hanura 3 kursi dan PKS 3 kursi. Tiga partai itu kini menjadi kekuatan tersendiri dan siap meruntuhkan dominasi petahana di Pilkada mendatang.

Kondisi perpolitikan di Kota Malang tentunya masih mencair. Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Hal itu juga diakui oleh Dito Arief. Bisa saja jika ada komunikasi politik yang kuat, maka kemungkinan partainya mendukung H. Moch Anton masih terbuka.

“Semua masih bisa saja terjadi dan berubah, PAN bisa saja mendukung Abah Anton,” tukasnya.

Ancaman Generasi Ken Dedes di Pilkada

Kekuatan duo srikandi di ajang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) mungkin saja dirasakan oleh Rendra Kresna – Sanusi saat bertarung melawan Dewanti Rumpoko – Masrifah Hadi di Pilkada Kabupaten Malang tahun lalu. Secara mengejutkan Dewanti – Masrifah mengumpulkan suara 44 persen dan mendekati suara petahana kala itu.

Dominasi Rendra Kresna sebagai petahana, hampir saja runtuh lantaran kekuatan dua sosok itu yang mampu menyentuh simpul-simpul masyarakat secara langsung. Dikaitkan dengan Pilkada Kota Malang, bukan tidak mungkin ‘drama’ Pilkada Kabupaten Malang akan terulang jika Nanda-Ashanty maju melawan petahana.

Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Wahyudi, pernah mengatakan jika pesona Ken Dedes sebetulnya lebih kuat di Malang dibandingkan dengan Ken Arok. Jadi, dalam konteks politik, maka calon perempuan akan semakin diperhitungkan dalam ajang Pilkada Kota Malang, apalagi kesuksesan Dewanti Rumpoko di Kota Batu bisa menjadi titik awalnya.

“Malang ini adalah Ken Dedes, dan figur serta pesonanya lebih kuat dibanding Ken Arok, dalam konteks politik ini bisa menjadi kekuatan dalam pilkada, calon perempuan sangat diperhitungkan sejak Bu Dewanti berhasil memenangkan pilkada,” kata Wahyudi.

Baca Juga :   Mutasi Besar Diawal Tahun, Sutiaji Lantik 31 Pejabat di Pemkot Malang

Menurutnya, sosok perempuan dalam kancah politik juga kinerja di legislatif dan eksekutif saat ini tidak bisa dilihat sebelah mata. Bahkan, menurut penelitian yang hadir, para anggota legislatif perempuan di DPR RI dan berbagai lembaga di daerah lebih memiliki banyak peran sehingga menjadi penentu.

“Saya ada bukti kongkret dimana politisi perempuan selalu tampil sebagai equalizer atau penyeimbang dikala para politisi laki-laki sedang berseteru, mereka selalu tampil untuk menyelesaikan masalah itu, dan ditataran eksekutif, peran perempuan juga sangat baik,” ucapnya.

Ia menambahkan, saat ini perempuan hanya membutuhkan ruang untuk berkreasi dalam tataran eksekutif or legilslatif, pelantikan politisi perempuan, menurut Wahyudi, memiliki kelebihan dalam menjalankan tugas di lembaga pemerintah atau DPRD.

“Dalam konteks pilkada, saya kira Kota Malang yang terkenal dengan kota pendidikan dan dinamika masyarakatnya sangat bagus, maka calon perempuan akan mudah diterima, namun tetap memperhatikan kapabilitas dan kemampuannya,” tukasnya.

Leave a Reply