Gus Ali Ahmad: Ulama Punya Peran Penting dalam Kemerdekaan Indonesia

PolitikaMalang – Pada 74 tahun yang lalu, 10 November 1945, arek-arek Suroboyo bertempur melawan tentara sekutu NICA (Netherlands-Indies Civil Administration) dan sekutunya. Pada tanggal yang saat ini diperingati sebagai Hari Pahlawan itu menjadi perang dahsyat untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Sebagai refleksi bersama tentang makna Hari Pahlawan yang selama ini lepas dari pengamatan. Pertempuran dahsyat 10 November 1945 itu tak bisa lepas dari adanya fatwa Resolusi Jihad yang digulirkan Pendiri Nahdhatul Ulama (NU) Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945.

Dimana salah satu isi Resolusi Jihad NU adalah mewajibkan bagi umat Islam, terutama NU, untuk mengangkat senjata melawan penjajahan Belanda dan sekutunya yang ingin berkuasa kembali di Indonesia.

“Fatwa Resolusi Jihad tersebutlah yang memantik semangat pertempuran seluruh rakyat Indonesia untuk saling bahu membahu dalam satu tekad dan tujuan, yaitu mengusir segala bentuk penjajahan di muka bumi Indonesia sampai titik darah penghabisan,” kata Pengasuh Ponpes Alhidayah Karangploso, H Ali Ahmad.

Fatwa Resolusi Jihad tersebut, lanjut Gus Ali Ahmad sapaan akrabnya, merupakan wujud kecintaan ulama terhadap bangsa ini sekaligus sebagai bentuk komitmen para ulama dan para santri untuk mengisi kemerdekaan Indonesia yang di deklarasikan tiga bulan sebelumnya.

Menurut pengasuh pria yang juga Ketua DPC PKB Kabupaten Malang ini, semangat santri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia
masih relevan untuk terus dilanjutkan saat ini. Pasalnya, Indonesia sedang bermasalah dengan karakter moral bangsa.

Mulai dari banyaknya korupsi di beberapa daerah termasuk Malang Raya dan bertebarannya kabar bohong, hoaks, maupun fitnah di media sosial marak saat ini.

Resolusi jihad merupakan pembentukan santri-santri yang memiliki karakter moral yang mulia, mampu jujur, amanah, kerja keras dan hemat (mujhid muzhid), rukun, kompak, dan mampu bekerja sama dengan baik.

Baca Juga :   Jaga Keharmonisan Keluarga, Gus Ali Ahmad Apresiasi Griya Curhat

“Dengan adanya santri-santri yang berakhlak mulia, merupakan modal yang kuat dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara,” tandas alumni Pondok Pesantren Darussalam Sumbersari Kediri ini.

Tambah Gus Ali, untuk menghasilkan santri yang memiliki karakter akhlak yang mulia, kurikulum pesantren selayaknya tidak sekadar teori namun juga praktik, yang mendorong psikomotorik para santri dalam mempraktikkan ajaran-ajaran Allah dan Rasulullah SAW. Para santri bisa melakukan aksi yang afirmatif terhadap segala persoalan bangsa.

Lanjutnya disinilah peran besar para guru pesantren dalam menghasilkan santri yang berkarakter. Ia pun berharap agar para santri bisa menyejukkan umat dan mempersatukan masyarakat di tengah banyaknya perbedaan yang muncul akhir-akhir ini

“Santri harus terdepan untuk menyatukan umat dan masyarakat,” tegasnya

Baru baru ini Presiden Joko Widodo juga menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada enam tokoh. Salah satunya adalah KH Masykur. Menteri Agama Indonesia pada tahun 1947-1949 dan tahun 1953-1955 kelahiran Malang, 30 Desember 1904 itu tercatat sebagai pemimpin Barisan Sabilillah, ketika pertempuran 10 November 1945.

Keterlibatannya dalam perjuangan kemerdekaan menonjol di zaman pendudukan Jepang, sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia hingga pendiri Pembela Tanah Air (Peta) yang kemudian menjadi unsur laskar rakyat dan TNI di seluruh Jawa.

Beliau juga pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI tahun 1956-1971 dan anggota Dewan Pertimbangan Agung pada tahun 1968.

Gus Ali Ahmad mengucapkan syukur dan rasa gembiranya atas penyematan gelar pahlawan nasional kepada salah satu putra terbaik asal Bhumi Arema ini.

“Ini menjadi kado spesial khususnya bagi masyarakat Malang Raya di Hari Pahlawan tahun ini. Pengakuan tersebut kembali menegaskan bahwa peran penting santri dan ulama dalam kemerdekaan Indonesia,” pungkas anggota DPR RI dapil Malang Raya ini.

Leave a Reply