Gus Ali: Pasar Tradisional Jangan Sampai Kalah Dengan Toko Modern

PolitikaMalang – Calon Anggota DPR RI dapil Malang Raya, H. Ali Ahmad menyebut bahwa, pasar tradisional merupakan salah satu pondasi ekonomi kerakyatan. Bahkan denyut nadi perekonomian masyarakat menurutnya ada di pasar tradisional.

Sayangnya, masalah klasik yang kerap terjadi di pasar-pasar tradisional, yaitu minimnya perhatian pemerintah daerah untuk revitalisasi. Karenanya, banyak pasar tradisional menjadi kumuh, becek, kotor, tidak tertata dan mulai ditinggalkan pelanggannya.

Ditemui dalam agenda blusukannya ke pasar pasar tradisional di Kota Batu, menurut Gus Ali, revitalisasi pasar tradisional sangat diperlukan untuk memaksimalkan pembangunan ekonomi kerakyatan. Revitalisasi pasar ini kata dia, juga dimaksudkan untuk meningkatkan daya saing antara pasar rakyat dengan ritel modern.

“Ini yang harus terus kita perjuangkan. (revitalisasi pasar tradisional) semua pihak wajib mendukung dan memajukan ekonomi kerakyatan yang tentunya akan memberikan manfaat yang besar bagi sektor perekonomian,” kata Pembina Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Malang Raya itu.

Dengan di revitalisasinya pasar tradisional diharapkan dapat membuat kepercayaan masyarakat meningkat dan akhirnya berdampak positif untuk perkembangan ekonomi kerakyatan.

Ia mengambil contoh keberadaan pasar oro-oro dowo di Kota Malang yang telah direvitalisasi menjadi representatif dan ramah bagi pengunjung. Mendapat kucuran dana APBN 2015 sebesar Rp 7 miliar, pasar yang bersebelahan dengan Hutan Kota Malabar tersebut, banyak dijadikan studi banding oleh sekolah-sekolah hingga pemerintahan daerah-daerah lain di tanah air.

Tak salah memang jika pasar oro-oro dowo, layak dijadikan percontohan bagi pasar-pasar lain, apalagi di awal Febuari 2018, Pasar Oro-oro Dowo Kota Malang, menerima sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag). Bahkan, Pasar Oro-oro Dowo menjadi satu-satunya pasar di Jawa Timur yang mendapatkan sertifikasi SNI dari enam pasar se-Indonesia lainnya. Lima pasar lainnya adalahi Pasar Imogiri Kabupaten Bantul, Pasar Agung Kota Denpasar, Pasar Manis Banyumas, Pasar Gunung Sadi Kota Cirebon dan Pasar Tanggul Kota Surakarta.

Baca Juga :   Nyekar ke Makam Bung Karno, Bu Nyai: Beliau kawan Berdiskusi Kakek Saya

Selain itu beberapa pasar tradisional lainnya di Kota Malang juga direvitalisasi. Terbaru, tiga pasar tradisional di make over diantaranya, Pasar Gadang Lama menggunakan dana APBD Kota Malang 2018, Rp 2,1 miliar sedangkan dua pasar lainnya yang direvitalisasi yakni Pasar Klojen Rp 3,5 miliar, dan Pasar Bunulrejo Rp 6 miliar, memakai APBN 2018.

“ini bisa menjadi contoh bagi daerah lain khususnya Kota Batu dan Kabupaten Malang, untuk membenahi pasar-pasar tradisional di wilayahnya. Saya optimis jika kondisi pasar tradisional yang makin representatif, mampu menarik minat masyarakat untuk belanja ke pasar. Tentunya setelah direvitalisasi kebersihan pasar harus dijaga untuk kenyamanan pembeli,” tandas pengasuh Ponpes Alhidayah Karangploso itu.

Dalam skala nasional, data dari Kementerian Perdagangan melaporkan bahwa sejak 2015 sebanyak 4.211 pasar rakyat telah dibangun dan direvitalisasi menggunakan APBN.
Bahkan untuk tahun ini pemerintah untuk membangun juga merevitalisasi pasar sebanyak 1.037 pasar rakyat. Dengan begitu target total pasar rakyat yang dibangun dan direvitalisasi dari 2015 hingga 2019 sebanyak 5.248 pasar.
Revitalisasi pasar yang dilakukan pemerintah hampir seluruhnya adalah pasar tradisional kecil. Rencana itu akan dilakukan secara merata di seluruh Indonesia.

Gus Ali pun mengapresiasi kinerja pemerintah dibawah arahan Presiden Joko Widodo yang telah berhasil menjaga stabilitas harga barang kebutuhan pokok. Hal itu tercermin dari catatan inflasi nasional 2018 sebesar 3,13%, lebih rendah dari target inflasi sebelumnya 3,5%.

“Ini sangat positif dan harus terus kita tingkatkan. Bukti nyata kinerja Pemerintah selama empat tahun terakhir,” pungkasnya.

Leave a Reply