Koalisi “Bangjo” Kian Dekat, Bagaimana Nasib Sutiaji?

PolitikaMalang – Dinamika politik jelang Pilkada Kota Malang terus berkembang meskipun sebagian partai masih menunjukkan sikap pasif dan memilih opsi menunggu. Hingga saat ini, hanya Hanura dan PAN saja partai yang sudah mendaklarasikan diri berkoalisi dan sepakat bertarung di ajang pilkada tahun mendatang.

Gabungan dua partai yang tenar dengan sebutan ‘Poros Harapan’, sepakat mengusung nama Ya’qud Ananda Gudban sebagai bakal calon wali kota. Bahkan, terakhir poros ini terus melebarkan sayap koalisinya dengan mulai merangkul PKS dan Partai Gerindra.

Peta politik yang dibangun di tataran Pemilihan Gubernur Jawa Timur dengan deklarasi pasangan Syaifullah Yusuf – Abdullah Azwar Anas, seolah melambangkan peta kekutan baru, yakni bersatunya antara PDI Perjuangan dan PKB atau yang kerap disebut koalisi “Bangjo” (merah – hijau).

Koalisi itu berpeluang diterapkan di Kota Malang, mengikuti alur peta politik di Jawa Timur. Beberapa tokoh baik dari PDI Perjuangan dan PKB Kota Malang tidak menampik peluang koalisi tersebut.

Ketua DPC PKB Kota Malang sekaligus calon petahana, H. Moch Anton pada suatu kesempatan mengaku sudah bertemu dengan elit politik di DPP PDI Perjuangan membicarakan peluang koalisi “Bangjo”.

“Sudah ada pembicaraan dengan DPP PDI Perjuangan terkait dengan koalisi,” Kata Anton.

Hal yang sama juga disampaikan Ketua Bapillu PDI Perjuangan Kota Malang, I Made Rian Diana Kartika yang mengiyakan kemungkinan koalisi “Bangjo” untuk pilkada.

“Kemungkinan koalisi Bangjo terbuka, tapi keputusan nanti tetap ada di DPP partai,” ungkap Made.

Jika terealisasi, koalisi “Bangjo” tentunya mengusung nama H. Moch Anton selaku bakal calon wali kota. Namun, siapa sosok yang bakal menemani Anton sebagai bakal calon wakil wali kota, hingga kini masih belum terang benderang dari kubu PDI Perjuangan.

Meski begitu, partai berlambang banteng ini memiliki sejumlah opsi yang dibagi dalam dua kategori. Pertama, bakal calon wakil wali kota bisa dipilih dari tokoh yang  telah ambil bagian dalam pendaftaran calon oleh PDI Perjuangan Kota Malang sedangkan opsi kedua adalah sosok dari internal partai sendiri.

Baca Juga :   Perkuat Data Aset, Pemkot Malang Gandeng KPK

Kembali kepada para tokoh yang sudah mendaftar ke PDI Perjuangan Kota Malang hanya satu nama saja yang merupakan kader internal, yakni Arif Wicaksono, namun karir politiknya terhempas manakala Komisi Pemberantasan Korupsi ‘melabeli’ status tersangka dugaan kasus suap APBD 2015 pada manta Ketua DPRD itu.

Tokoh selebihnya yang mengambil formulir bacalon N1 dari partai besutan Megawati Soekarno Putri itu, seperti Sutiaji, Gandung Rafiul Huda, Wahyu Eko Setyawan, dan Agus Subagio adalah kader diluar partai. Begitu pula sosok Wayan Sutama dan Daniel Sitepu yang mengembalikan formulir untuk bacalon wawali juga orang non struktural DPC PDI Perjuangan.

Melirik kader internal, maka hanya menyisakan beberapa saja yang bisa disandingkan dengan H. Moch Anton jika koalisi “Bangjo” itu terealasiasi. Nama Sri Untari, Abdul Hakim, Sri Rahayu hingga I Made Rian Diana Kartika mulai ramai diperbincangkan menjadi sosok dari internal partai yang akan ditawarkan dalam upaya mensukseskan koalisi “Bangjo”.

Kemungkinan Koalisi Bangjo dan Nasib Sutiaji

Salah satu tokoh yang cukup menarik perhatian jelang Pilkada Kota Malang adalah Sutiaji. Pria yang kini menjabat Wakil Wali Kota Malang itu sudah mengibar ‘bendera perang’ kepada calon petahana saat ia mengambil formulir bakal calon wali kota dari PDI Perjuangan.

Jika perpaduan koalisi “Bangjo” terealisasi tentunya membuat situasi politik bisa menjadi tak menguntungkan bagi Sutiaji yang telah mengembalikan formulir pendaftaran dan ikut sejumlah tes yang dilakukan PDI Perjuangan.

Sedikitnya ada dua alasan kenapa Sutiaji bisa ‘tersingkir’ dari upaya mendapatkan rekomendasi partai berlogo banteng itu. Pertama, kecil kemungkinan menyandingkan lagi pasangan Anton – Sutiaji dalam satu paket di Pilkada mendatang. Apalagi, setelah isu disharmoni keduanya mencuat ke publik dan dipertegas dengan langkah Sutiaji yang memilih mendaftarkan diri ke PDI Perjuangan.

Baca Juga :   Walikota Malang: Sampaikan Aspirasi Dengan Cara Yang Baik

Alasan kedua, jika PDI Perjuangan menginginkan ada kadernya yang maju mendamping Abah Anton, maka jelas status Sutiaji saat ini bukanlah kader internal partai tersebut. Sehingga, jika koalisi “Bangjo” terealisasi posisi Sutiaji makin terjepit dalam kasus ini.

Meski begitu Sutiaji dalam sebuah kesempatan berbincang dengan Politika Malang tetap optimis jika ia akan mendapatkan rekom dari Megawati Soekarnoputri untuk maju di Pilkada. “Kalau saya masih tetap optimis dapat rekom,” kata Sutiaji.

Membaca Kekuatan Sutiaji di Pilkada Kota Malang

Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Wahyudi, mengatakan jika Sutiaji memiliki kekuatan politik tersendiri jika ia maju dalam Pilkada Kota Malang tahun mendatang. Ada sejumlah hal yang patut diperhitungkan dari pemilik kursi N-2 itu.

Menurut Wahyudi, jika Sutiaji menjadi penantang Anton di Pilkada 2018 maka ada kemungkinan suara dari kalangan Nahdiyin akan terpecah. Hal itu, lanjut Wahyudi seperti pada pengalaman Pilkada 2013 dimana kala itu pertarungan antara pasangan Sri Rahayu – Prijatmoko Oetomo dan pasangan Heri Puji Utami – Sofyan Edi Jarwoko pada intinya sama-sama memperebutkan suara dari basis PDI Perjuangan.

“Meskipun Bunda Heri diusung oleh PPP, Golkar dan beberapa partai lain, namun melalui Red Army ada upaya memecah suara PDI Perjuangan yang kala itu mengusung Sri Rahayu,” tukasnya.

Ditarik kebelakang, munculnya dualisme Heri Puji Utami dan Sri Rahayu pada Pilkada 2013 dikarenakan PDI Perjuangan tidak memberikan rekom kepada istri mantan Wali Kota Malang, Peni Suparto. Akhirnya kubu Peni yang kebanyakan suaranya dari kalangan ‘merah’ membentuk poros baru di bawah naungan organisasi bernama ‘Red Army’. Dari titik itulah keretakan suara PDI Perjuangan di Pilkada Kota Malang terjadi. Sehingga analogi yang sama bisa terjadi manakala Anton dan Sutiaji saling berhadapan dalam Pilkada.

“Dalam kasus di Indonesia politik identitas itu masih kuat. Sutiaji masih kuat membawa suara NU, saya kira jika melawan Abah Anton kemungkinan suara hijau terpecah sangat besar,” ungkapnya.

Baca Juga :   E - Commerce Antar Kota Malang Raih Indonesia Award 2020

Kekuatan lain Sutiaji adalah pada pengalamannya di birokrasi. Pada titik ini Wahyudi menerangkan jika prestasi Kota Malang di bidang pemerintahan di bawah pemerintahan Anton tidak buruk namun juga tidak luar biasa. Standar. Melihat hal itu, peluang Sutiaji dengan pengalamannya menata pemerintahan khususnya di internal Pemkot Malang bisa saja meraup suara banyak dari Aparatur Sipil Negara (ASN).

“Kalau Pak Sutiaji bisa meraup suara dari ASN apalagi beserta keluarganya saya kira cukup besar itu. Tinggal kita lihat saja nanti siapa pasangannya yang mampu maksimal dalam mendulang suara,” bebernya.

Kemungkinan Bergabung dengan Poros Harapan

Sutiaji Bersama Nanda Gudban dan Kelana Aprilianto saat Milad HUT Hanura di Kota Malang

Seandainya koalisi “Bangjo” terealisasi maka peluang Sutiaji maju dari PDI Perjuangan kecil kemungkinannya. Karena itu, Sutiaji perlu mencari “kendaraan” untuk mengantarkannya ke pintu Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Malang mendaftar sebagai bakal calon yang akan bertarung di Pilkada.

Jika melihat peta koalisi selama ini, maka hanya Poros Harapan yang sudah menyatakan diri membentuk koalisi. Sedangkan partai lain seperti Gerindra, Golkar hingga PPP masih belum bergeming hingga saat ini. Berdasar pada hal itu, kemungkinan Sutiaji masuk Poros Harapan cukup signifikan meskipun ada peluang dicalonkan oleh koalisi partai lainnya di luar itu.

Duet Nanda – Sutiaji menjadi relevan diperbincangkan mengingat poros ini sudah memiliki gerbong kekuatan tersendiri. Apalagi jika sampai PKS bergabung dengan Poros Harapan maka koalisi tiga partai itu sudah mampu mengajukan calon dalam kontestasi pilkada di masa mendatang.

Masih kata Pengamat Politik UMM, Dr. Wahyudi, poros Harapan dengan duet Nanda – Sutiaji cukup beralasan. Menurutnya gabungam dua sosok itu bisa menjadi lawan tangguh bagi calon petahana H. Moch Anton.

Leave a Reply