Koalisi Bangjo Makin Rumit, PDI Perjuangan Maju Sendiri?

PolitikaMalang – Rencana koalisi PDI Perjuangan – PKB di Pilkada Kota Malang kian menapaki jalan berliku. Pasalnya, hingga saat ini dua partai tersebut masih belum mencapai kata sepakat, dikarenakan beberapa hal.

Upaya koalisi itu makin rumit, manakala calon petahana, H. Moch Anton yang juga Ketua DPC PKB Kota Malang, kabarnya mengajukan sejumlah persyaratan untuk calon pendampingnya di Pilkada Kota Malang jika menggandeng partai berlambang banteng. Mulai dari kriteria pemimpin dari kalangan kawula muda hingga terakhir isu yang berkembang, harus ada izin dari ulama terkait mitra koalisi.

Hal ini, membuat rencana membentuk poros Bangjo, yang diharapkan sinergi dengan Pilgub Jatim masih dalam kondisi yang rumit, meski peluang kedua partai itu berkoalisi masih terbuka lebar.

Ketua Bapillu DPC PDI Perjuangan Kota Malang, I Made Rian Diana Kartika, dengan tegas mengatakan jika koalisi harus saling menguntungkan dan terwakili. Artinya, harus ada kader banteng yang bisa disandingkan dengan petahana H. Moch Anton dalam bertarung di pilkada kelak.

Syarat yang diajukan oleh Anton, bisa jadi mempersulit PDI Perjuangan, serta dianggap upaya mendikte dari sang petahana. Padahal, partai pemenang pemilu yang meraih 11 kursi ini bisa maju mendaftarkan sendiri pasangan calon tanpa harus berkoalisi dengan partai lain. Itu, belum lagi PDI Perjuangan, sudah sepakat mengajukan kadernya untuk menjadi bacalon wakil wali kota dalam Pilkada tahun mendatang jika berkoalisi dengan petahana.

“Intinya PDI Perjuangan tidak ingin didikte oleh calon koalisi. Koalisi harus sehat artinya koalisi yang saling terwakili dan jangan koalisi yang menekan,” kata Made.

Dijelaskan, PDI Perjuangan masih memiliki banyak opsi untuk menatap pilkada Kota Malang. Selain berkoalisi dengan petahana, partai ini juga sudah merencanakan mengusung kader sendiri jika nanti poros Bangjo gagal terbentuk.

Baca Juga :   REICH Attached Articles

Bahkan, Made juga menepis isu jika Anton sudah mendaftar ke PDI Perjuangan melalui jalur DPP. “Kalau itu (Anton daftar DPP) masih belum ada. Kalaupun sudah iya pasto DPP sudah memberitahukan kepada kami,” tukasnya.

Opsi maju sendiri sangat terbuka lebar, karena PDI Perjuangan masih menyimpan sejumlah tokoh yang digadang mampu menjadi pesaing petahana di Pilkada. Sebut saja nama Sri Untari, Sri Rahayu dan juga Abdul Hakim bisa menjadi opsi dari kalangan internal partai untuk maju sebagai bacalon wali kota.

Sedangkan, di luar struktur partai, tercatat ada sembilan nama yang sudah mendaftar dari Wakil Wali Kota Malang, Sutiaji, Gandung Rafiul Huda, Wahyu Eko Setiawan, hingga terakhir Ahmad Wannedi. Pilihan nama itu makin memperkaya tokoh yang mampu direkomendasikan oleh partai jika memang opsi maju sendiri dipilih.

Belum lagi, hingga saat ini DPP PDI Perjuangan masih membuka pintu pendaftaran bagi bacalon wali kota dan wakil wali kota yang akan bertarung di pilkada, sehingga munculnya sosok yang mampu hadir dengan gebrakan baru masih berpeluang.

Membaca Peluang PDI Perjuangan di Pilkada Kota Malang

Opsi jika PDI Perjuangan untuk maju sendiri bukan tanpa perhitungan. Ada beberapa faktor yang harus dicermati oleh calon lawan politik di Pilkada 2018. Pertama, masih banyak figur yang mumpuni di partai ini untuk bisa diajukan dalam helatan pesta demokrasi warga Kota Malang. Sri Untari, Sri Rahayu, Abdul Hakim, I Made Rian Diana Kartika, Aeif Hermanto yang mencuat dari kalangan internal, hingga mereka yang telah mendaftar ke partai ini merupakan sosok yang mumpuni.

Kedua, suara PDI Perjuangan Kota Malang saat ini banyak disebut sudah solid dan tidak terpecah seperti pada pilkada periode lalu. Salah satu faktor PDI Perjuangan gagal di Pilkada tahun 2013 adalah perpecahan suara yang terjadi di kubu partai.

Baca Juga :   Vision Discretion And additionally Complicated Pure natural stone Achieving put Get Floor On $400 Trillion Tough Normal jewel Modern gambling house Northern

Munculnya dua pasangan calon kala itu yakni Sri Rahayu – Prijatmoko Oetomo dan Heri Puji Utami – Sofyan Edi Jarwoko, disebut-sebut telah memecah suara kader banteng, sehingga peluang untuk menang tipis. Dualisme bermula saat mantan Wali Kota Malang yang juga mantan Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Malang, Peni Suparto tidak direstui partai manakala mengajukan sosok istrinya Heri Puji Utami maju di pilkada.

DPP PDI Perjuangan memberikan rekomendasi kepada Sri Rahayu dan Prijatmoko Oetomo sebagai pasangan calon. Munculnya rekomendasi itu seiring dengan surat pemecatan Peni Suparto sebagai kader dan Ketua DPC PDI Perjuangan karena dianggap melawan perintah partai. Atas hal itu, Peni Suparto lalu membentu Red Army, yang isinya merupakan irisan suara dari PDI Perjuangan.

Organisasi Red Army ini mendukung Heri Puji Utami – Sofyan Edi Jarwoko, yang diusung koalisi besar dari PAN, PPP, Golkar dan beberapa partai lainnya. Kondisi perpecahan suara itu dimanfaatkan oleh calon lain untuk meraih kemenangan.

Jika pada Pilkada 2013 PDI Perjuangan yang suaranya ‘terpecah’ berani mengambil inisiatif maju sendiri di Pilkada, maka pada saat suara banteng mulai bersatu kembali, maka peluang menumbangkan petahana dan meraih kekuasaan masih sangat terbuka lebar.

Opsi alternatif, yang bisa menjadi pilihan PDI Perjuangan adalah koalisi dengan partai lain selain PKB, jika poros Bangjo gagal terbentuk. Hal ini masih terbuka luas, karena dinamika politik masih berjalan dan mencair. Jika menggandeng partai lain, kemungkinan PDI Perjuangan untuk mengajukan kadernya sebagai bacalon wali kota sangat kuat. Alasannya, dari kalkulasi politik, partai ini memiliki 11 kursi di DPRD, sehingga bisa jadi tawaran itu mutlak adanya pada partai lainnya.

Baca Juga :   The Fantastic Periodicals At the rear of Via the internet Learning Benefit provide Offers

Beberapa partai besar lain macam Demokrat, Golkar, Gerindra, PKS, PPP, masih terbuka peluang untuk digaet menjadi mitra koalisi di Pilkada Kota Malang. Hal itu bisa akan makin memperkuat suara dalam helatan pilkada tahun mendatang. Namun, untuk opsi ini Made, menegaskan pihaknya masih belum memiliki wacana tersebut.

“Wacana itu belum ada. Saat ini kalau memang Bangjo tidak terealisasi berarti kita maju sendiri karena secara administratif kita bisa mengajukan pasangan calon sendiri dengan 11 kursi di DPRD,” ungkap Made.

Leave a Reply