KOMPOR DESA, Solusi Kebangkitan Ekonomi Di Era New Normal

PolitikaMalang – Webinar yang di gelar oleh Komunitas Pasar Online Rakyat Desa (KOMPOR DESA) Kabupaten Malang menemukan solusi atas pemulihan ekonomi rakyat pasca pandemi yang dilaksanakan pada Minggu 7/6/2020.

Dalam Webinar Kompor Desa tersebut menghadirkan narasumber dari beberapa komunitas dan perguruan tinggi bahkan di hadiri oleh Dirjen Pengembangan Daerah Tertingal Kementrian Desa dan PDT, Samsul Widodo, Rektor UNIRA Malang, DR. hasan Abadi, Inisiator Kompor Desa, M. Iksan, Ines Handayani, Pemerhati dan Praktisi E-Commerce, Pietra Widiadi, Pendopo Kembang Kopi, Erik Priyanto pemerhati Multimedia,

Dalam Wibinar tersebut, Samsul Widodo, Dirjen Pembangunan Daerah Tertingal Kementrian Desa dan PDT, menyampaikan apresiasi atas inisiasi adanya Kompor Desa yang ada di Kabupaten Malang ditengah pandemi Covid-19.

“Ini bagian penting dari proses pemulihan ekonomi pasca pandemi, gerakan masyarakat seperti ini yang diharapkan agar ekonomi masyarakat desa bisa segera pulih kembali”, ujarnya.

Kemudian, Samsul Widodo, Dirjen Pembangunan Daerah Tertingal Kementrian Desa dan PDT, menyampaikan bahwa pandemi ini memaksa masyarakat untuk lebih familiar dengan dunia digital.

“Kesulitan masyarakat sudah terjadi sebenarnya dan sekarang bertambah lagi kesulitanya, Covid-19 ini bukan hanya sebuah bencana namun kesempatan mendapatkan potensi ekonomi”, jelasnya.

Samsul Widodo, Dirjen Pembangunan Daerah Tertinggal Kementrian Desa, menambahkan bahwa inisiasi Kompor Desa agar bagaimana bisa segera diwujudkan membnatu masyarakat dalam memasarkan produknya.

“Produk e-commerce itu hanya 25% yang berasal dari produk lokal, sedangkan yang lainya adalah produk luar”, ungkapnya.

Menurut Samsul, hal ini karena produk lokal tidak segera on boarding.

“Awal 2018, belum banyak produk lokal yang menjual online karena keterbatasan waktu, kapasitas produsen, dimana peluang ini bisa dimainkan oleh Kompor Desa”, ujarnya.

Baca Juga :   Pjs. Bupati Malang Pimpin Upacara Peringatan Hari Jadi ke 75 Jawa Timur

Samsul menyampaikan bahwa di Jawa Timur sudah ada pemda yang memiliki media dalam memasarkan produk lokalnya, dia mencontohkan yang ada di Situbondo dan Banyuwangi, dimana keduanya memiliki market place atau pasar online untuk memfasilitasi produk lokal.

“Banyak platform yang ada tapi tidak bisa optimal, tidak bisa menjual produk yang sudah ada”, ujarnya.

Untuk itu menurut Samsul, bagu pemula, lakukan dengan media yang ada tidak perlu muluk-muluk.

“Gunakan platform lokal yang sudah ada, medsos hari ini sudah luar biasa untuk media menjual produk lokal”, jelasnya.

Samsul menambahkan bahwa Kompor Desa bisa membuat pilot project.

“Orang desa tidak bisa diajak terlalu banyak ngomong, mereka langsung diajak kerja, dan dengan itu mereka lebih senang”, tandasnya.

Sementara itu, DR.Hasan Abadi Rektor Unira Malang yang juga salah satu nara sumber Webinar tersebut menyampaikan bahwa masyarakat desa memiliki kemampuan lebih, misalnya tentang pola demokrasi dimana desa sudah lebih dulu dari pada negara.

“Namun demikian, dalam urusan bisnis masyarakat desa agak kurang bisa disatukan, berbeda ketika menyangkut urusan social”, ujarnya.

Rektor Unira Malang ini menyampaikan bahwa Unira Malang menyambut baik inisiasi Kompor Desa ini dan pihaknya siap mendampingi dalam pengembangannya.

“Kita memiliki banyak SDM untuk turut mendampingi pengembangan Kompor Desa ini, karena kami juga sangat mengapresiasi atas ide cemerlang ini dalam membangkitkan kembali ekonomi masyarakat Desa”, tandasnya.

Disamping banyak hal pengembangan Ide Kompor Desa ini yang disampaikan oleh nara sumber, juga banyak masukan dari peserta yang terdiri dari berbagai kalangan dan peserta dalam Webinar ini diikuti oleh kelompok masyarakat mulai dari Aceh sampai Papua.

Seperti yang disampaikan oleh Muklis Ali, Program KOMPAK yang menyampaikan bahwa perlu memetakan mata rantai (value chain) Konsep keperantaraan pasar ( market linked ) Identifikasi beberapa desa untuk menemukan tokoh aggregator (connecting the dots)

Sedangkan, Ines Handayani, Pemerhati dan Praktisi E-Commerce mengatakan bahwa transaksi online harus memudahkan.

Baca Juga :   Nyekar ke Makam Bung Karno, Bu Nyai: Beliau kawan Berdiskusi Kakek Saya

“Prinsipnya memudahkan proses order atau transaksi, selalu mendapatkan pelanggan baru, dan terus bisa di ditingkatkan levelnya”, ujarnya.

Ines Hnadayani menambahkan bahwa akhir-akhir inI banyak yang salah faham dengan mengikuti platform yang sudah ada.

“Selalu ikut-ikutan bikin platform atau market place lalu kemudian gagal”, jelasnya.

Ines menyamoiakan bahwa membuat pasar menjadi paling penting dan pasar online yang berbasis kepercayaan.

“Produk harus siap, berstandar, missal ada PIRT untuk produk makanan”, ujarnya.

Kemudian Ines mengatakan bahwa kesiapan pelaku menjadi hal yang penting dalam membuka pasar online.

“Masyarakat sudah go digital”, terangnya

M. Iksan, Inisiator Kompor Desa mengatakan bahwa Kompor Desa ini bertujuan untuk memfasilitasi produk lokal dan meningkatkan ekonomi masyarakat Desa ditengah pandemi.

“Idenya datang ditengah himpitan kesulitan ekonomi masyarakat menghadapi pandemi ini, dan hasil dari kami berinteraksi dengan pelaku UMKM di desa dengan mendengarkan keluh kesah mereka yang kesulitan memasarkan produknya ditengah pandemi”, tandasnya.

Kompor Desa ini disupport oleh beberapa komunitas dan lembaga serta perguruan tinggi diantaranya adalah Padepokan Cinta Tanah Air (PACITA), Gusdurian Kanjuruhan, GP Ansor Kab Malang, Muslimat NU Kab Malang, Potro Joyo Cafe, Pendopo Kembang Kopi Wagir, FK3 Kepanjen dan Unira Malang, sedang malangsatu.id sebagai media partner Kompor Desa. (*)

Leave a Reply