Konfigurasi ‘Bangjo’ di Pilkada Kota Malang, Akankah Terealisasi?

PolitikaMalang – Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, Minggu (15/10) membacakan langsung surat rekomendasi partai untuk pasangan calon yang tampil di Pilgub Jawa Timur. Nama Syaifullah Yusuf – Azwar Anas dipilih partai untuk bertarung memperebutkan kursi gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur.

Dua tokoh itu dinilai PDI Perjuangan sangat efektif bertarung di Pilgub Jawa Timur, karena mewakili konfigurasi nasionalis-religius yang dilembagakan dengan koalisi partai PKB – PDI Perjuangan. Konfigurasi Bangjo (Merah-Hijau) diperkirakan menjadi kekuatan utama dalam meraup suara masyarakat Jawa Timur.

Rekomendasi PDI Perjuangan itu seolah menjadi cara Megawati untuk memberikan pesan kepada kader tingkat kota/kabupaten agar menjadikan racikan konfigurasi pasangan calon di Pilgub, diikuti pada tataran pilkada tingkat bawahnya. Hal itu juga sangat memungkinkan jika berbicara kondisi politik di Kota Malang jelang pilkada tahun mendatang.

Mengulik sedikit bagaimana konstelasi politik Kota Malang jelang Pilkada 2018, maka tak bisa dipungkiri calon petahana yang juga Ketua DPC PKB Kota Malang, H. Moch Anton namanya masih berkibar dan kabarnya memimpin sejumlah survei yang dilaksanakan oleh beberapa lembaga.

Elektabilitasnya yang masih tinggi membuat beberapa partai sangat tertarik melakukan pendekatan kepada PKB, begitu pula partai berlambang banteng itu. Bisa dikatakan, saat ini sejumlah partai berlomba untuk menggandeng Anton dalam pilkada.

Bahkan, karena saking optimisnya dalam menatap Pilkada 2018, PKB Kota Malang bahkan membuka pendaftaran bagi para tokoh masyarakat untuk mendaftar sebagai bacalon wakil wali kota sang petahana. Terakhir, uji fit and proper test sudah dilakukan oleh DPC PKB dengan menggandeng tim independen.

Konfigurasi ‘Bangjo’ sebagaimana pesan DPP PDI Perjuangan untuk direalisasikan di Kota Malang masih berpeluang untuk terjadi. Alasannya, pertama kondisi perpolitikan masih mencair dan segala kemungkinan bisa saja terjadi. Kedua, komunikasi politik PKB – PDI Perjuangan juga sudah dimulai saat partai pemenang Pileg 2014 itu sowan kepada PKB beberapa waktu lalu. Alasan ketiga justru dorongan dari partai sendiri untuk menjodohkan dua partai itu agar pada saat kampanye nanti bisa efektif dan satu paket.

Baca Juga :   Popularity Regarding Android Game titles Throughout That Smartphone App Market

Ketua LPP PKB Kota Malang, Arif Wahyudi kepada PolitikaMalang membeberkan, jika kemungkinan koalisi ‘Bangjo’ sangat mungkin terealisasi. Menurutnya konstelasi politik tingkat pusat maupun provinsi akan sangat berpengaruh pada tingkat daerah.

“Demikian pula yang terjadi di Kota Malang, ketika untuk urusan Gubernur Gus Ipul sebagai representasi ( yang diusung ) oleh PKB digandengkan dengan Anas sebagau representasi PDIP , sangat besar peluang untuk kedua partai tersebut ( PKB dan PDIP) untuk berkoalisi di tingkatan Pilkada Kota Malang,” kata Arif Wahyudi.

Ia menambahkan, saat ini yang perlu dilakukan partai adalah melakukan komunikasi politik yang lebih intens baik pada tingkat pusat, provinsi dan juga tingkat kota. Sekaligus pembicaraan mengenai figur siapa yang akan digandengkan dengan Anton dalam pilkada kelak. Khusus untuk hal ini, PKB sudah mengunci jika Anton harus menjadi calon wali kota dan tidak ada tawar menawar lagi.

“Kalau koalisi ini terjadi di Kota Malang maka akan linier dengan kontestasi pilgub yang tentunya banyak keuntungan yang akan diraih baik dlm pilgub maupun Pilwali,” beber Arif.

Pertanyaan yang segera muncul adalah, siapa calon dari PDI Perjuangan yang akan disandingkan dengan Abah Anton jika memang koalisi itu terjadi. Sebelum sampai kesana, maka sejenak melihat dahulu bagaimana gerak PDI Perjuangan Kota Malang dalam menjaring tokoh untuk maju dalam pilkada.

Pertengahan tahun lalu, partai ini membuka pendaftaran calon bacawali dan bacawawali untuk Pilkada Kota Malang. Hasilnya, beberapa tokoh mendaftar termasuk nama Sutiaji yang merupakan pasangan Anton di pilkada periode lalu.

Nama lain, yang cukup menjanjikan dari partai adalah Ketua DPC PDI Perjuangan, Arief Wicaksono yang juga mendaftar sebagai bakal calon wali kota. Sayangnya, karir politiknya di Pilkada terhempas manakala KPK menetapkan ia sebagai tersangka kasus suap proyek.

Baca Juga :   Search With respect to Computer Help

Kontan, dari enam calon yang daftar tidak ada satupun kader dari partai banteng. Padahal berdasarkan tradisi, PDI Perjuangan selalu melibatkan kader internalnya untuk maju di pilkada.

Jika belajar dari Pilkada DKI Jakarta, maka pasangan Basuki Tjahja Purnama- Djarot Syaiful Hidayat membuktikan jika PDI Perjuangan enggan untuk melepaskan calon yang bukan kadernya.

Djarot diketahui adalah kader PDI Perjuangan meskipun Basuki bukanlah kader partai, namun ia kala itu adalah calon petahana yang berpotensi besar memenangkan pilkada.

Hal yang sama juga diulang oleh PDI Perjuangan hari ini. Syaifullah Yusuf – Azwar Anas, kocokannya mirip Pilkada DKI Jakarta. Meski PDI Perjuangan sudah melepas ego untuk tidak memaksakan kadernya maju sebagai bacalon gubernur dan merelakannya pada tokoh lain di luar partai, namun partai ini masih menyelipkan satu tokoh dari kalangan internalnya sebagai pendamping pilkada.

Konfigurasi itu berpeluang untuk Pilkada Kota Malang. Meskipun menyetujui Anton sebagai bacalon wali kota, bisa jadi pekerjaan rumah PDI Perjuangan adalah mencari tokoh dari kalangan internal untuk disandingkan dengan Abah Anton. Atau bisa saja PDI Perjuangan memilih salah satu dari enam tokoh yang mendaftar.

Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) DPC PDI Perjuangan Kota Malang, I Made Rian Diana Kartika, mengatakan jika saat ini pihaknya masih menunggu rekomendasi dari DPP partai. “Kita harus menghargai para tokoh yang mendaftarkan diri ke PDI Perjuangan,” ungkapnya.

Leave a Reply