Membaca Arah Koalisi Parpol di Pilkada Malang: “Fight or Friend”?

PolitikaMalang – Peta politik jelang Pilkada Kota Malang masih buram. Padahal, jika menghitung tenggat waktu pendaftaran pasangan calon melalui jalur partai politik, praktis tinggal sekitar satu bulan.

Meski ada poros baru, dengan bersatunya tiga partai yakni Hanura – PAN – PPP (Harapan Pembangunan) yang mengusung sosok Ya’qud Ananda Gudban, namun secara umum gambaran akan siapa saja yang maju di Pilkada Kota Malang masih dibubuhi sejumlah tanda tanya.

Kondisi itu, tentunya berbeda dengan konstelasi politik jelang Pemilihan Gubernur Jawa Timur yang sementara ini masih mengerucut ke dua pasangan calon yakni Syaifullah Yusuf – Abdullah Azwar Anas dan Khofifah Indar Parawansa – Emil Dardak.

Kabar koalisi besar PDI Perjuangan – PKB di Pilkada Kota Malang atau yang tenar disebut ‘Bangjo’ kian lama berkurang gregetnya. Informasi yang berhasil dihimpun Politika Malang upaya koalisi ini menemui jalan buntu, meskipun kedua partai masih terus intens melakukan komunikasi politik.

Sekertaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Sri Untari bahkan sudah menegaskan bila partainya tidak memaksakan ‘Bangjo’. Kondisi itu cukup logis, mengingat partai berlogo banteng itu kini memiliki 11 kursi di DPRD dan memenuhi syarat mendaftarkan pasangan calon.

“Jika tidak terdapat win-win solution ya no problem jika tidak Bangjo. Kami Bangjo oke dan maju sendiri juga oke,” kata Sri Untari kepada awak media pada Minggu (27/11) malam.

Mantan anggota DPRD Kota Malang itu menegaskan jika rekomendasi partai perihal Pilkada Kota Malang akan turun pada Desember mendatang. Karena itu, sambil menunggu kepastian rekomendadi dari Dewan Pimpinan Pusat Partai, pihaknya kian aktif menjalin komunikasi baik dengan PKB maupun partai lainnya.

“PDI Perjuangan sebenarnya bisa maju sendiri, tapi pada prinsipnya jika koalisi Bangjo liner dengan Pilgub Jatim kan enak,” tukasnya.

Semua skema politik, lanjut Untari hingga saat ini masih dinamis dan segala kemungkinan bisa terjadi. Namun yang pasti, PDI Perjuangan Kota Malang menjadikan ajang Pilkada 2013 sebagai pelajaran, dimana perpecahan di tubuh ‘banteng’ tidak boleh terjadi lagi. Sehingga, jauh hari agenda konsolidasi diperkuat dalam menyongsong dua agenda politik yakni Pilgub Jatim dan Pilkada Malang pada 2018.

“Semua kader harus siap menerima rekomendasi dari DPP. Malang ini sudah sangat siap dan nilainya sudah di atas angka 80,” tandasnya.

Akrobat Politik Petahana

Baca Juga :   Jaga Keharmonisan Keluarga, Gus Ali Ahmad Apresiasi Griya Curhat

Bicara Pilkada Kota Malang tahun 2018 mendatang, tentu sosok wali kota petahana H. Moch Anton menjadi sorotan publik. Awalnya, pria yang akran disapa Abah itu dikabarkan akan maju melalui jalur independen. Pengumpulan dukungan melalui KTP dan surat pernyataan sudah disebar ke masyarakat di berbagai kawasan. Upaya Anton maju lewat jalur independen itu akhirnya dipatahkan oleh PKB.

Tak lama kemudian, Anton yang juga menjabat sebagai Ketua DPC PKB Kota Malang menjadi magnet politik bagi partai lain. Sejumlah partai besar mulai merapatkan barisan ke petahana untuk penjajakan koalisi. PDI Perjuangan, Golkar, Demokrat, Hanura, PAN, hingga PKS sempat membuka ruang komunikasi politik. Hal itu sempat menimbulkan tanya bagi publik, akan partai mana yang akan digaet oleh Anton untuk diajak berkoalisi.

Berjalannya waktu, koalisi ‘Bangjo’ mulai santer didengungkan. Gabungan dua partai yakni PDI Perjuangan – PKB, yang mengusung Anton sebagai kandidat bakal calon wali kota dan satu sosok dari internal PDI Perjuangan ini mulai dibicarakan publik. Koalisi ‘Bangjo’ diharapkan sinergi dengan Pilgub Jawa Timur. Terkakhir, koalisi ini dikabarkan deadlock.

Disela koalisi Bangjo, poros Hanura – PAN yang mengusung politisi cantik Ya’qud Ananda Gudban terbentuk. Melihat adanya kekuatan baru itu, Anton memberikan reaksi. Ia menyebut masih melakukan komunikasi politik untuk koalisi dengan kedua partai itu.

Tak berapa lama kemudian, Anton kembali ber-akrobat. Tiba-tiba sang pemilik kursi N-1 itu melontarkan ucapan akan memilih kandidat bakal calon wali kota dari kalangan milenial atau generasi muda dari kader partai. Sontak ungkapan Anton itu menimbulkan sejumlah persepsi bagi publik. Nama Moreno Soeprapto dan Ya’qud Ananda Gudban mencuat sebagai kandidat yang dimaksud.

Belakangan, Anton kembali menghebohkan publik dengan statemennya jika ia diberi kebebasan oleh Ketua Umum DPP PKB, Muhaimin Iskandar, untuk memilih sendiri bakal calon wakil wali kota yang akan mendampinginya di Pilkada 2018. Anton mengerucutkan hal itu menjadi dua pilihan yakni para calon yang sudah mendaftar sebagai kandidat bacalon N2 dari DPC PKB serta dari struktural NU Kota Malang. Bahkan, Anton juga menyebut ada sejumlah tokoh yang sudah mendaftar melalui DPP PKB.

“Kalau gambaran sudah ada, nanti pasti semua tahu,” kata Anton.

Bukan itu saja, Anton mengaku akan membuka komunikasi politik dengan Partai Nasdem Kota Malang dan akan berbicara kepada Ketua DPW Partai Nasdem Jawa Timur yang juga Bupati Malang, Rendra Kresna untuk bersama membangun Kota Malang.

Baca Juga :   Showmanship Almost limitless Bucks & Girls 15 minutes Instructions

Menanti Kejutan Geng Wahyudi

Sosok Politis gaek sekaligus Penasehat DPW Partai Nasdem Jawa Timur, Geng Wahyudi santer dikabarkan akan maju dalam helatan Pilkada Kota Malang. Namanya santer, ketika beberapa kalangan mendatangi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Malang untuk menanyakan sejumlah persyaratan maju melalui jalur non partai politik.

Namun dalam diskusi yang dihelat oleh Politika Malang pada Sabtu (25/11) lalu, Geng Wahyudi membantah jika dirinya akan maju melalui jalur tersebut. Akan tetapi ia membuka ruang sebagai kontestan di pilkada Kota Malang jika partai mengusungnya untuk maju.

“Kalian kan tahu saya, kalau saya diminta oleh partai untuk maju ya saya bersedia,” kata Geng Wahyudi kepada awak media usai diskusi politik di Kopilogi.

Ungkapan Geng Wahyudi ini cukup menarik, sebab ia tidak menutup peluang akan maju dalam helatan pesta demokrasi di Kota Malang pada tahun mendatang. Politisi Partai Nasdem, Kresna Dewanata Phorsakh, kepada Politika Malang pernah menyebut sosok Geng Wahyudi sebagai tokoh yang digadang maju dalam helatan pilkada di Kota Malang. Menurut Anggota DPR RI, Dapil Malang Raya tersebut, saat ini partai besutan Surya Paloh itu sedang intens melakukan komunikasi politik dengan partai lainnya untuk merajut koalisi.

Geng Wahyudi dalam diskusi di Kopilogi membeberkan, jika kondisi sosial politik di Kota Malang memunculkan dua pasangan calon maka peluang petahana untuk kembali merebut kursi N-1 akan bisa tergoyahkan. “Berbeda halnya jika yang muncul tiga atau empat calon maka peluang petahana menang kembali terbuka lebar,” tandasnya.

Nanda Gudban dan Kekuatan Poros Harapan Pembangunan

Partai Hanura – PAN – PPP Kota Malang sepakat berkoalisi dalam menatap Pilkada 2018 mendatang. Ketiga partai ini mengusung sosok Ya’qud Ananda Gudban sebagai bakal calon yang diusung untuk maju di ajang pesta demokrasi warga Kota Malang. Ketiga partai itu mengoleksi 10 kursi di DPRD dan sudah cukup syarat melaju ke KPUD Kota Malang untuk mengusung pasangan calon.

Sosok Nanda Gudban, kian lantang dibicarakan oleh publik karena ia aktif terjun turun ke kantong-kantong warga. Wanita yang baru saja mendapat gelar Doktor dari Universitas Brawijaya itu bahkan sudah memiliki slogan “Ayo Noto Malang” sebagai bagian dari upaya memperbaiki pembangunan di masa mendatang.

Baca Juga :   Popularity Regarding Android Game titles Throughout That Smartphone App Market

Memiliki dukungan 10 kursi, artinya Nanda Gudban bisa melenggang ke helatan Pilkada tahun 2018 mendatang, dan jika maju sendiri tanpa koalisi dengan petahana, maka ia tinggal memilih sosok pendampingnya nanti. Namun, menurut Nanda, karena kondisi politik masih mencair, maka segala kemungkinan masih bisa saja terjadi termasuk berkoalisi dengan Anton ataupun melebarkan sayap koalisi dengan partai lainnya.

“Dinamika masih cair segala kemungkinan masih bisa saja terjadi. Koalisi (dengan petahana) atau bertarung kita siap semuanya,” ujar Nanda Gudban

Golkar, Demokrat dan Gerindra yang Masih ‘Senyap’

Disaat beberapa partai lain sudah bergerak melakukan komunikasi politik merajut koalisi, justru tiga partai besar, Golkar, Demokrat dan Gerindra masih terlihat ‘landai’ jelang Pilkada Kota Malang.

Partai Golkar misalnya, meskipun memiliki struktur partai yang rapi dan kuat serta aktif dan gencar melakukan konsolidasi, namun masih belum terlihat di permukaan alur komunikasi politiknya. Partai dengan jumlah 5 suara di DPRD Kota Malang ini diketahui sudah membentuk tim pilkada yang tugasnya untuk menjaring komunikasi dan analisa akan kondisi politik yang berkembang. Sosok Ketua DPD Golkar Kota Malang, Sofyan Edi Jarwoko, digadang akan bertarung dalam helatan pilkada pada tahun mendatang.

Partai Demokrat juga hampir serupa. Partai ini pada Pilkada 2013 lalu meramaikan helatan pilkada dengan mengajukan salah satu kader terbaiknya Agus Dono sebagai calon wali kota. Demokrat menggalang koalisi dengan PKS dan Hanura kala itu. Menjelang pilkada 2018 partai ini cukup landai pergerakannya, hanya satu sosok yakni Ghufron Marzuki dari kader partai yang sudah resmi mendaftar ke DPC PKB Kota Malang sebagai bacalon wakil wali kota. Partai Demokrat Kota Malang bahkan sudah membuka penjaringan kandidat bakal calon untuk pilkada Kota Malang.

Sama halnya Partai Gerindra juga masih senyap jelang Pilkada Kota Malang. Meski sudah membuka pendaftaran calon, namun upaya partai besuran Prabowo Subianto dalam menjaring komunikasi masih belum tampak greget bila dibandingkan dengan PDI Perjuangan, PKB dan Poros Harapan Pembangunan. Bahkan, Ketua DPC Gerindra Moreno Soeprapto yang santer dikabarkan akan maju dalam pilkada, masih belum menentukan sikapnya. Meski partai ini sudah membuka pendaftaran, namun hingga kini belum ada gebrakan dari partai pemenang Pilkada 2013 ini.

Leave a Reply