Membaca Peta Koalisi Pilkada Kota Malang

PolitikaMalang – Pilkada Kota Malang sudah di depan mata. Namun, hingga kini konstelasi politik masih saja landai. Penyebabnya, mayoritas partai politik saat ini masih saling mengintip kekuatan dan belum bergerak menuju ke arah koalisi.

Jika membaca peta koalisi pilkada Kota Malang bisa dikata ibarat membaca peta buta, serba abu-abu dan tidak jelas. Bukan karena pilkada yang masih delapan bulan lagi, namun belum munculnya konfigurasi pasangan calon, sehingga membuat gambaran peta koalisi pun masih buram.

Berkaca dari hal itu, Litbang Politika Malang, mencoba menganalisa berbagai kemungkinan koalisi tersebut sesuai dengan fakta yang ada.

Peta Politik Kota Malang Masih Buram

Sebagai kota terbesar kedua di Jawa Timur dengan berbagai prestasinya, Kota Malang cukup diperhitungkan di tataran regional hingga nasional. Namun, untuk urusan politik, nampaknya kota pendidikan dan pariwisata ini masih terlihat lambat dari daerah lain.

Jika berkaca pada konstelasi pilkada di sejumlah kabupaten/kota atau Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur, misalnya, maka jelas hingga kini peta koalisi di Kota Malang masih bisa dikatakan buram. Padahal, jika menghitung waktu pendaftaran pasangan calon ke KPU Kota Malang yang hanya tinggal 3 bulan, harusnya peta politik sudah nampak.

Seperti diketahui, di Pilgub Jatim, PDI Perjuangan dan PKB telah berkoalisi dengan mendukung pasangan bakal calon yakni Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Abudllah Azwar Anas. Walaupun jumlah kursi sebagai syarat pencalonan susah lebih dari cukup, bukan tidak mungkin gerbong koalisi mereka akan bertambah karena nampaknya mereka ingin memastikan kemenangan dengan gerbong besar.

Di sisi lain, beberapa partai sudah merespon cepat terbentuknya koalisi itu dengan membentuk poros koalisi baru yaitu Golkar, NasDem dan Demokrat dengan mengusung Khofifah Indar Parawansa. Tiga partai itu tinggal mencari sosok bakal calon wakil gubernur untuk mendampingi wanita yang kini masih menjabat Menteri Sosial itu.

Sementara Gerindra, PKS, PPP dan PAN juga telah bersiap dengan poros barunya atau bergabung pada dua poros yang telah muncul lebih dulu. Artinya, gambaran siapa yang bertarung di Pilgub Jatim beserta pengusungnya telah terlihat walau belum sepenuhnya terang benderang.

Baca Juga :   Collage With Boulevard To help Blindness Cure

Kembali ke Kota Malang, nampaknya dinamika yang terjadi di Pilgub Jatim tersebut belum sepenuhnya berimbas. Mungkin terlalu jauh soal bicara koalisi, karena bicara sosok yang diusung hingga kini masih samar. Praktis, hanya PKB yang bisa dibilang sudah hampir pasti untuk kembali mengusung petahana, Mochamad Anton.

Sementara yang lain, masih dalam proses membuka pendaftaran calon lewat partai dan berharap ada calon yang cukup bagus untuk diusung bersaing dengan petahana.

Hal yang cukup menarik, PDI Perjuangan sebagai satu-satunya partai yang bisa mengusung calon sendiri di pilkada tanpa berkoalisi, justru dihadapkan dengan kegalauan pasca ditetapkannya sang ketua DPC Arief Wicaksono sebagai tersangka oleh KPK. Padahal Arief Wicaksono adalah salah satu figur terkuat yang digadang-gadang akan maju bertarung di pilkada. Hal itu juga mempengaruhi “bargaining power” yang selama ini telah dibangun dengan susah payah.

PDI Perjuangan harus mengocok ulang beberapa kandidat yang dipandang layak seperti Sri Untari, Abdul Hakim, I Made Rian Diana Kartika sampai kandidat dari luar partai yang sudah lebih dulu mendaftar lewat penjaringan calon yaitu Sutiaji, Agus Subagio, Dedi Wahyudi dan Gandung Rafiul Huda hingga Wahyu Eko Setiawan.

Jika berkaca pada perkembangan koalisi di Pilgub Jatim, maka ada peluang untuk PDIP dan PKB bisa berkoalisi. Kesamaaan kondisi yang sedang dihadapi PDI Perjuangan, yaitu krisis figur membuat mereka harus realistis merelakan kursi N1 kepada PKB yang diatas kertas punya jago terkuat yaitu wali kota petahana.

Sementara mereka bisa menempatkan salah satu kader internalnya untuk mengambil posisi calon N2. Jika itu terjadi, maka bisa digambarkan bahwa ini adalah koalisi besar dan kuat, dimana dua partai dengan perilehan kursi terbanyak pertama dan kedua bersatu. Irisan kultur Nahdliyin dan Abangan yang melekat pada dua partai itu juga diprediksi bisa menggerus suara yang cukup signifikan di Kota Malang.

Bagaimana dengan beberapa partai lain?

Baca Juga :   Collage With Boulevard To help Blindness Cure

Beberapa minggu ini, Kota Malang sedang diramaikan dengan beberapa spanduk yang bertuliskan “Generasi Kendedes” dengan gambar wajah politisi Hanura Yaqud Ananda Gudban disandingkan dengan salah satu artis ibukota, Ashanty Sidik. Embel-embel artis sontak membuat isu itu jadi pembicaraan dikalangan masyarakat, walaupun tidak sedikit suara minor tentang kiprah sang artis. Namun harus diakui, hal tersebut cukup menyita perhatian dan menaikkan popularitas dua nama tersebutdi Kota Malang.

Jika dilihat dari background partai, kita bisa mengambil benang merah bahwa ada kedekatan komunikasi yang terjalin antara PAN dan Hanura. Lewat sekretarisnya, Dito Arief, PAN tidak menampik adanya komunikasi diantara dua partai tersebut yang sedang berjalan.

“Benar, PAN dan Hanura sedang penjajakan koalisi, kami sedang menyamakan visi dan misi sebelum memilih siapa yang diusung” Kata Dito.

Jika melihat dari figur kedua partai, relaif hanya Ya’qud Ananda Gudban yang cukup menonjol. Sedangkan PAN relatif tidak punya banyak pilihan figur internal. Bayangan koalisi kedua partai ini juga berpotensi menguat jika PKS yang hari ini juga kesulitan memilih figur internal turut bergabung.

Ya’qud Ananda Gudban (Foto: Nanda Gudban)

Perlu diketahui, selama ini PKS adalah satu fraksi dengan Hanura di DPRD kota Malang, hal iu cukup membuat dua partai ini punya kedekatan komunikasi. Jika terwujud, Koalisi PAN, Hanura dan PKS cukup untuk mengusung calon sendiri di pilkada kota Malang.

Bagaimana dengan Golkar, Gerindra, Demokrat, Nasdem dan PPP? Kecuali Golkar dan NasDem, saat ini ketiga partai yang lain itu sedang membuka pendaftaran calon kepala daerah di internal masing-masing. Namun hingga saat ini, belum banyak juga figur yang memberanikan diri mendaftar.

Partai Demokrat yang juga ikut membuka pendaftaran, justru sedang aktif untuk mendorong salah satu kadernya yaitu Gufron Marzuqi untuk dipasangkan dengan calon N1 dari PKB yang juga walikota petahana, Mochamad Anton.

Sementara Gerindra, yang pada pilkada sebelumnya sukses memenangkan pasangan calon Anton – Sutiaji, juga masih menunggu dinamika politik yang berkembang. Namun diluar itu, sebenarnya mereka juga punya figur potensial yang cukup layak untuk dicoba, yaitu ketua partainya sendiri yang juga anggota DPR RI dapil Malang, Moreno Soeprapto. Tokoh muda tersebut dinilai beberapa pengamat punya potensi untuk bertarung di pilkada.

Baca Juga :   Collage With Boulevard To help Blindness Cure

Sedangkan partai Golkar memilih untuk tidak ikut-ikutan membuka pendaftaran calon dikarenakan mereka sudah satu suara untuk tetap mencalonkan sang ketua, Sofyan Edi Jarwoko di pilkada kali ini. Walau sudah pernah bertarung di pilkada, Sofyan Edi dinilai masih cukup punya kapasitas untuk bersaing, ditambah mesin partai Golkar yang dikenal solid dan militan. Mereka hanya butuh empat kursi lagi untuk bisa mengusung jago di pilkada nanti. Jika berkaca dari pilkada sebelumnya, Golkar cukup fleksibel dalam mencari konfigurasi koalisi, realistis.

Sofyan Edi Jarwoko

Untuk PPP,  yang kini dikomandoi Heri Puji Utami, istri dari mantan Wali Kota Malang, Peni Suparto ini juga membuka pendaftaran calon. Namun pendaftaran tersebut dinilai hanya formalitas untuk menasbihkan sang ketua sendiri untuk menjadi calon yang diusung baik N1 atau N2. Walau wanita yang akrab disapa Bunda HP itu sudah pernah mencalonkan di pilkada sebelumnya, namun ditambah modal sosial dan kapital sang suami, sepertinya mereka masih cukup “pede” untuk kembali mengusungnya di pilkada kali ini, minimal menjadi N2.

Terakhir, partai dengan perolehan kursi terkecil di Kota Malang, NasDem sudah terlebih dulu berimprovisasi. Walau hanya punya satu kursi, namun mereka cukup berani melontarkan wacana untuk mengajukan nama salah satu kader yang juga dikenal cukup punya ketokohan di Malang Raya, Geng Wahyudi. Sosoknya bisa menjadi magnet baru bagi partai lain dalam membangun koalisi. Terlepas dari peluangnya nanti, diyakini bahwa NasDem tidak mau hanya menjadi penggembira di pilkada kali ini.

Menarik untuk kita tunggu bersama perkembangan pera koalisi selanjutnya. Namun yang pasti, menurut analisa litbang Politika Malang, kecil kemungkinan pilkada Kota Malang kali ini hanya diikuti oleh dua pasang calon alias head to head.

Leave a Reply