Membaca Peta Politik jelang Pilkada Kota Malang 2018

PolitikaMalang – Tim V DPC PDI Perjuangan Kota Malang telah menutup pendaftaran untuk kandidat bakal calon wali kota dan wakil wali kota. Sebanyak enam nama telah berhasil dijaring, diantaranya empat nama untuk kandidat bakal calon wali kota yakni, Sutiaji, Arief Wicaksono, Gandung Rafiul Huda dan Wahyu Eko Setiawan. Sedangkan untuk kandidat bakal calon wakil wali kota ada dua nama, yakni Made Sutama dan Daniel Sitepu.

Ketua Tim V DPC PDI Perjuangan, I Made Rian Diana Kartika, mengatakan, setelah enam calon mengambil formulir dan mengembalikan berkas pendaftaran kepada pihaknya, maka tahapan selanjutnya yakni verifikasi faktual dan dilanjutkany dengan survei yang dilakukan internal partai terhadap nama-nama yang sudah mendaftar tersebut.

“Setelah tanggal 30 Juni kita tutup mekanisme pendaftaran dan pengembalian formulir, maka selanjutnya yakni verifikasi faktual dan nanti akan ada survei yang dilakukan oleh partai, lalu setelah beberapa proses tersebut maka akan rekomendasi yang keluar dari partai untuk bakal calon wali kota dan wakil wali kota yang maju di pilkada,” kata Made.

Ia menambahkan, saat ini para calon sudah bisa melakukan sosialisasi dengan memasang banner dengan mencantumkan logo PDI Perjuangan, sebagai upaya untuk mengenalkan diri kepada publik jelang dilakukannya survei internal oleh partai. “Kalau mau pasang banner atau stiker, maka harus lapor dahulu kepada Tim V, kita akan lihat bagaimana isinya, agar tidak menyalahi aturan partai terutama terkait dengan hal yang berbau SARA atau mengganggu Kebhinekaan,” tandasnya.

Upaya PDI Perjuangan Kota Malang menjaring tokoh dalam pilkada merupakan salah satu pembuka pintu untuk memanasi suhu politik jelang pilkada tahun 2018 mendatang. Nama Wakil Wali Kota Malang, Sutiaji yang mendaftar sebagai kandidat calon wali kota, membuka lembaran baru peta politik menjelang pesta demokrasi tahun depan.

Baca Juga :   Wie man Spielautomaten-Spiele kostenlos spielt

Nama Ketua DPRD Arief Wicaksono yang diusulkan maju dan didukung sepenuhnya oleh kader partai besutan Megawati Soekarnoputri ini menjadi kekuatan yang harus diantisipasi oleh lawan politiknya kelak, belum lagi nama Gandung Rafiul Huda yang tak lain merupakan loyalis Peni Suparto juga ditengarai memiliki suara dan kekuatan tersendiri. Bahkan, sejumlah pihak sudah mulai memasangkan antara Arief Wicaksono dan Sutiaji sebagai pasangan yang ideal untuk maju dalam konstestasi pilkada di tahun mendatang.

Pengamat Politik dari Universitas Muhammadiyah Malang, Dr. Wahyudi, mengatakan, pasangan Arief-Sutiaji akan sangat berpotensi menjadi pasangan yang cukup memiliki kekuatan jika memang dipasangkan dalam pilkada mendatang. Ia menilai jika suara PDI Perjuangan bersatu, maka potensi memenangkan pilkada akan besar, karena jika belajar pada pilkada periode sebelumnya, diketahui kegagalan partai berlambang banteng itu memenangkan pilkada lantaran terpecah suaranya karena ada dua nama yang berseteru kala itu yakni Heri Puji Utami dan Sri Rahayu.

“Pasangan Arief – Sutiaji menurut saya akan berbahaya, jika kekuatan suara nasionalis dari PDI Perjuangan bersatu ditambah dengan irisan suara kalangan religius dari NU yang dibawa Sutiaji dikombinasikan maka secara hitungan politik ini sangat perlu diwaspadai,” kata Wahyudi, Sabtu (1/7).

Belum lagi, kata Wahydui, sosok Gandung Rafiul Huda yang ditengarai merupakan loyalis Peni Suparto dan diprediksi membawa misi rekonsiliasi antara Red Army dengan PDI Perjuangan yang akan bersatu menjadi kekuatan tersendiri dalam pilkada mendatang. “Setahu saya Gandung itu adalah orangnya Pak Peni yang hingga saat ini memiliki massa dan loyalis yang kuat, jika memang Gandung masuk untuk rekonsiliasi, maka ini juga menjadi kekuatan,” ungkapnya.

Terkait dengan rekomendasi PCNU yang tidak mengarahkan suara kepada Sutiaji, mantan dekan

Baca Juga :   Sidak Proyek Kayutangan Heritage, Walikota Malang Minta Kemudahan Akses Warga
FISIP UMM itu menilai, jika rekomendasi itu tidak berdampak luas, kecuali jika ada satu dua tokoh agama atau Kyai yang jelas memberikan fatwa mendukung salah satu kader NU, maka bisa menjadi kekuatan tersendiri untuk mendongkrak suara dari kalangan Nahdiyin di Kota Malang.

“Bagaimanapun Sutiaji memiliki irisan suara dari NU, karena dia adalah kader dan saat ini menjadi pengurus, sehingga berbagai kekuatan-kekuatan di atas perlu dipertimbangkan,” tukasnya.

Petahana Masih Kuat, namun jangan Terlalu Percaya Diri

Melihat peta politik di atas, Wahyudi menegaskan jika kandidat bakal calon petahana, yakni H. Moch Anton masih kuat dalam pilkada mendatang. Namun, Anton tidak boleh terlalu percaya diri, melihat peta politik saat ini menunjukkan ada kekuatan besar yang kemungkinan bisa menjadi pesaingnya dalam pilkada kelak.

Karena itu, menurut Wahydui, pemilihan sosok bakal calon wali kota nantinya harus memiliki sumbangsih besar baik secara ketokohan maupun elektabilitas untuk menambah kekuatan petahana.

“Selama ini masih Golkar yang merapat kepada petahana, namun sekali lagi Abah Anton harus jeli memilih siapa nanti yang akan jadi tandemnya dalam pilkada karena hal itu termasuk kunci,” tukasnya.

Menurutnya, Abah Anton masih memiliki beberapa alternatif nama untuk calon pendampingnya, seperti sosok Sofyan Edi Jarwoko ataupun Ya’qud Ananda Gudban yang belakangan elektabilitasnya mulai merangkak naik serta beberapa nama lain yang memiliki visi dan misi yang sama dengan calon petahana itu.

“Petahana masih kuat, namun harus memperhitungkan berbagai kekuatan politik lain yang kemungkinan jadi pesaingnya di pilkada mendatang,” tukasnya.

Leave a Reply