Menakar 4 Tahun Kepemimpinan Anton-Sutiaji

PolitikaMalang – Kota Malang baru saja merayakan HUT ke 103 pada 1 April 2017 lalu. Berbagai perjalanan sudah ditempuh kota pendidikan dan pariwisata ini dalam bidang pembangunan, salah satunya yakni era kepemimpinan Wali Kota Malang H. Moch Anton dan Wakil Wali Kota Malang, Sutiaji. Resmi dilantik pada bulan September 2013, pasangan ini langsung membuat berbagai gebrakan seperti program sekolah gratis bagi tingkat SD dan SMP, program bedah rumah warga tidak mampu hingga mempercantik wajah Kota Malang dengan renovasi berbagai taman dan beberapa program lainnya.

Kiprah Anton dan Sutiaji dalam membangun Kota Malang selama ini sudah berhasil diakui berbagai kalangan melalui sejumlah penghargaan yang diperoleh. Mampu mempertahankan piala Adipura dan Wahana Tata Nugraha, memperoleh gelar Kota dengan taman terbaik nasional, menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang mewakili pada lomba kota tingkat dunia di Guangzhou, Tiongkok dan ratusan penghargaan lainnya sudah berhasil ditorehkan selama 4 tahun belakangan.

Aksi sambung warga atau yang akrab disebut dengan ‘blusukkan’ yang dilakukan Wali Kota Malang, H. Moch Anton juga terbilang cukup efektif untuk menimba permasalahan yang dihadapi warga selama ini dan mencarikan solusinya bersama. Tak hanya itu, pada jenjang layanan publik pada pengurusan E-KTP Kota Malang juga mendapat penghargaan karena mampu melampaui target nasional perekaman kartu penduduk tersebut.

Pada bidang perizinan, layanan terpadu satu pintu juga merupakan solusi memangkas birokrasi yang teramat menyulitkan warga yang banyak dikeluhkan selama ini. Bidang kesehatan, juga tak kalah penting, realisasi berdirinya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) menjadi solusi warga dalam memperoleh layanan  kesehatan yang murah dan berkualitas. Pada bidang perpajakan juga mengalami kenaikan yang cukup signifikan melalui beberapa terobosan yang dilakukan BP2D selama ini.

Baca Juga :   Sidak Proyek Kayutangan Heritage, Walikota Malang Minta Kemudahan Akses Warga

Beberapa waktu terakhir, Kota Malang sangat konsern akan terbentuknya “Smart Kampung” yang menuju kepada terbentuknya kampung wisata sehingga mampu berimbas positif bagi perekonomian masyarakat. Alhasil, Kampung Warna-warni di Jodipan dan Kampung Tridi serta Kampung Glintung Go Green (3G) dan 66 kampung tematik lain berhasil dibangun di bawah komando wali kota yang akrab disapa Abah Anton itu.

Dalam berbagai kesempatan, Abah Anton, mengatakan jika keberhasilan pembangunan yang ada di Kota Malang tak lepas dari sinergitas yang terbangun antara pemerintah dengan masyarakat. Ia menegaskan, akan mempertahankan gerak pembangunan ini dengan tujuan visi dan misi yang sudah diemban mampu terealisasi dengan baik. “Kita terus berkomitmen akan pembangunan yang lebih baik lagi, jika masih ada yang kurang maka akan kita kejar kekurangan pembangunan itu,” ungkap Wali Kota saat perayaan HUT ke 103 Malang, 1 April lalu.

Grafik positif lain yang ditunjukkan Kota Malang adalah dalam bidang Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Pada tahun 2014 lalu, IPM Kota Malang berada di angka 79,07 persen sedangkan pada tahun 2015 merangkak menjadi 80,05 persen dan angka itu terus naik hingga 2016 dan 2017 dan posisinya di atas IPM Provinsi Jawa Timur yakni sebesar 69 persen. Hal itu menunjukkan jika pembangunan yang ada di Kota Malang mampu memberikan dampak positif bagi warga masyarakatnya.

Diluar prestasi yang sudah diukir selama 4 tahun terakhir, namun sejumlah permasalahan dan pekerjaan rumah bagi Pemkot Malang masih juga belum diselesaikan. Diantara berbagai pekerjaan rumah yang banyak mendapat sorotan warga adalah terkait dengan banjir dan macet. Intensitas hujan yang tinggi dalam  beberapa waktu terakhir ini menyebabkan genangan air tak lagi bisa dibendung sehingga banjir menjadi keluhan warga. Masalah kemacetan juga tak kalah penting. Pada beberapa titik di Kota Malang kemacetan masih menjadi momok bagi masyarakat Kota Malang, sehingga hal ini harus bisa dipecahkan pemerintah Kota Malang.

Baca Juga :   Wie man Spielautomaten-Spiele kostenlos spielt

Ketua DPRD Kota Malang, Arif Wicaksono, dalam membahas masalah macet ini sudah berulang kali mengingatkan agar ada jalan tembus untuk memecah kemacetan. Pasalnya, jika kemacetan terus dibiarkan maka bisa berdampak kurang baik pada perekonomian di Kota Malang, termasuk menghambat masuknya investasi. “Karena itu pekerjaan rumah adalah macet dan juga banjir,” tukasnya.

Tak hanya itu, permasalahan yang terjadi pada renovasi pasar, seperti di Pasar Merjosari dan Pasar Blimbing hingga kini belum ada jalan keluar. Demo dari Pedagang Pasar Merjosari pada 11 Mei lalu merupakan bukti jika permasalahan ini masih belum ada jalan keluar, bahkan di Pasar Blimbing konflik antara pedagang dan investor juga belum menemukan titik terang.

Hal lain yang masih menjadi sorotan adalah pembanguan mega proyek besar yakni Pembangunan Jembatan Kedung Kandang, Islamic Centre dan Gorong-gorong sistem jeking yang hingga saat ini belum terealisasi. Jembatan Kedung Kandang yang sempat dianggarkan pada 2016 lalu dengan persetujuan dewan ternyata batal dilaksanakan karena disebut-sebut ada permasalahan hukum yang masih mengganjal. Begitu pula pembangunan Islamic Centre yang harus tertunda karena adanya perubahan lokasi dan untuk gorong-gorong sistem jeking masih juga belum ada kejelasan karena masih menyimpan masalah hukum. (*)

Leave a Reply