Menakar Peluang Para Ketua Partai Di Pilkada Kota Malang

PolitikaMalang – Dalam helatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) sosok ketua partai politik menjadi salah satu nama sentral yang kerap diunggulkan menjadi representasi partainya untuk maju dalam kontestasi.

Hal ini, dikarenakan wewenang dan pengaruh para ketua partai dinilai cukup dominan dalam melakukan komunikasi politik dan mengarahkan koalisi partai. Ia juga menjadi figur utama sebagai cerminan kualitas partai yang dipimpinnya.

Pada kasus di Kota Malang, sejak jauh-jauh hari beberapa ketua partai sudah mulai tampil dan mendominasi panggung politik jelang pilkada. Sebut saja Sofyan Edi Jarwoko ketua partai Golkar, Yaqud Ananda Gudban ketua partai Hanura, Heri Puji Utami ketua PPP, Moreno Soeprapto ketua partai Gerindra dan juga tentu saja sang petahana Mochamad Anton ketua DPC PKB kota Malang.

Namun seiring waktu berjalan, justru kiprah para ketua parpol tersebut dinilai banyak kalangan seperti mengalami penurunan kepercayaan diri. Tidak seperti pilkada periode sebelumnya yang lebih meriah, pilkada Kota Malang kali ini terlihat masih sedikit sepi, padahal pendaftaran calon kepala daerah dijadwalkan pada awal bulan januari 2018 atau kurang 3 bulan lagi.

Belum tampak baliho pencitraan yang bertebaran di sepanjang jalan, juga minim sekali acara safari politik di tengah masyarakat.

Melihat fenomena ini, Direktur Hasta Komunika research & consulting, Muhammad Anas Muttaqin memilki pandangan dalam menganalisa fenomena tersebut. Menurutnya, ada beberapa faktor mengapa hal itu terjadi.

Pertama, positioning walikota petahana, Mochamad Anton masih cukup tinggi elektabilitasnya. Menurur beberapa survei, Figur dan kiprahnya cukup diterima dan mendapat apresiasi dari masyarakat. Hal ini membuat para penantang kembali menghitung kalkulasi politik jika akan berhadapan dengan petahana. Apalagi jika dihadapkan dengan para ketua partai yang sebelumnya juga sudah pernah bertarung di pilkada, elektabilitasnya bisa diprediksi.

Baca Juga :   The Surface Associated with Making a request Exist Physical activities Probabilities Any time Introducing Your Rugger Promise Online

“Bahkan saya kira akan banyak figur lebih memilih realistis dengan berupaya agar digandeng petahana” katanya.

Kedua, “badai” KPK yang sedang menerjang Kota Malang cukup mempengaruhi dinamika politik. Walau tidak semua, sebagian besar ketua parpol tersebut juga anggota legislatif Kota Malang. Mereka masih disibukkan dengan pemeriksaan kasus korupsi yang kebetulan turut menerpa sang ketua DPRD, Arif Wicaksono. Belum lagi ada aturan yang menyebutkan anggota legislatif harus mengundurkan diri jika maju di pilkada. Hal tersebut akan menjadi pertimbangan tersendiri.

“Saya kira tidak semua figur berani berspekulasi dan mengambil resiko soal itu (mundur)” tambah pria asli Malang ini.

Ketiga, tidak semua partai memiliki figur yang layak tanding. Para ketua parpol pasti juga akan menghitung popularitas dan elektabilitasnya sebelum maju daripada bunuh diri politik. Bahkan ada partai yang realistis melihat situasi sehingga tidak mengajukan ketua parpolnya sendiri seperti partai demokrat yang justru menjagokan ketua DPC Demokrat Kabupaten Malang Gufron Marzuqi. Partai NasDem dinilai cukup cerdas dengan mewacanakan sosok Geng Wahyudi, tokoh yang sudah dikenal dan diprediksi menjadi daya tarik baru jika diusung di Kota Malang.

Begitu juga dengan PAN dan PKS yang akhir-akhir ini menurut wacana yang berkembang malah cenderung mendukung Ananda Gudban dari Hanura. Bahkan PDIP sebagai satu-satunya partai yang bisa mengusung jago sendiri tanpa berkoalisi pun dihadapkan pada pilihan sulit soal figur internal yang layak untuk diusung. Jika melihat kualitas dan momentum, praktis hanya Ananda Gudban, ketua partai yang terlihat cukup “fresh” untuk ditawarkan kepada publik dan diprediksi dapat bersaing dalam kontestasi pilkada kedepan.

Pentingnya Pendidikan Demokrasi

Anas menambahkan, situasi politik seperti ini sebenarnya tidak bagus untuk edukasi politik dan demokrasi bagi masyarakat. Seharusnya masyarakat bisa diberi suguhan pertarungan politik yang sehat dan berkualitas.

Baca Juga :   Jaga Keharmonisan Keluarga, Gus Ali Ahmad Apresiasi Griya Curhat

“Mereka seharusnya sudah harus berani bersosialisasi dan menawarkan gagasan dalam membangun kota malang kedepan” ungkap alumni HMI ini.

Jika kegalauan para ketua parpol ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin pilkada kota malang 2018 nanti berlangsung minim dinamika. Mereka lebih memilih untuk kompromi dan merapat pada kekuatan besar untuk memastikan menjadi bagian dari kemenangan walau harus mengorbankan marwah dan kaderisasi partai.

Apapun, menarik untuk ditunggu akankah ada sosok baru yang muncul di pilkada nanti, entah diusung partai ataupun maju lewat jalur independen. Anas berharap semoga semua figur yang bertarung nanti adalah tokoh-tokoh terbaik di setiap partai agar Kota Malang kedepan makin baik.

Leave a Reply