Mencari Pendamping Anton di Pillada 2018

PolitikaMalang – Nama H. ​​Moch Anton sebagai calon petahana sangat diperhitungkan di kancah perpolitikan Kota Malang jelang Pilkada 2018. Elektabilitasnya yang masih melambung membuat beberapa politisi hingga partai politik mulai melakukan pendekatan guna menjajaki kemungkinan koalisi.

Sejak masuk tahun politik di pertengahan 2017, H. Moch Anton yang juga Ketua DPC PKB Kota Malang, banyak menerima “tamu” dari partai lain. Tujuannya adalah penjajakan visi misi membangun Kota Malang dengan bungkus silaturahmi politik.

Beberapa partai, sebut saja Golkar, PAN, Hanura, Demokrat, hingga PDI Perjuangan, sudah menjalin komunikasi dengan PKB. Dalam perjalanannya PKB buka pendaftaran calon calon wali kota yang nanti akan disandingkan dengan Anton di Pilkada 2018.

Sedikitnya sudah ada lima pendaftar calon calon wali kota ke PKB, yaitu Ketua DPD Partai Demokrat Kabupaten Malang, Ghufron Marzuki, Gunadi Handoko, Siswoyo Waruso, Isnaini Anwari dan Hadi Prajoko. Kelima nama itu memiliki kesempatan untuk mendampingi Anton dalam pilkada tahun depan.

Ketua Lembaga Pemenangan Pemilu (LPP) PKB Kota Malang, Arif Wahyudi, mengatakan jika para pendaftar akan diperlakukan sama dan rencananya pada tanggal 14 Oktober nanti akan dilakukan uji kelayakan dengan penilai dari tim.

Penguji akan mengajukan materi ke para pendaftar, dan hasilnya akan dikirim ke Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan selanjutnya dilempar ke Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PKB. Berbagai hal termasuk visi misi membangun Kota Malang, pengetahuan umum untuk komitmen dan integritas masuk sebagai alat uji.

Arif Wahyudi lebih lanjut menerangkan komitmen dan integritas itu termasuk di dalamnya adalah komitmen bersama dengan Anton membangun Kota Malang jika menang Pilkada 2018. “Komitmen dan integritas ini juga bagian dari penilaian tim,” kata Arif Wahyudi, Kamis (5/10).

Komitmen dan integritas bersama, bisa saja menjadi poin penting yang menilai. Pasalnya, rumor yang ada saat ini Anton – Sutiaji yang menang Pilkada 2013 lalu sudah pecah kongsi dan tidak satu visi misi.

Hal itu bisa dilihat dari manuver politik Sutiaji yang mendaftar untuk menjadi calon calon wali kota dari PDI Perjuangan. Jadi kemungkinan duet itu kembali di pilkada sangat tipis dan bahkan tidak bisa terjadi.

Selain masalah komitmen, Arif juga membocorkan alat uji tim, salah satunya adalah pengetahuan tentang pemerintahan dan visi besar membangun Kota Malang. Hal ini ditangguhkan agar pendamping Anton adalah sosok yang kompeten dan mampu bekerja sama dengan baik.

“Hasil uji ini aka kita sampaikan ke DPW dan nanti putusan akan ada di DPP PKB,” tukasnya.

Meski sudah ada lima Bacalon N2 yang mendaftar di PKB, namun Arif Wahyudi menyebut ada kemungkinan bacalon lainnya bisa digandengkan dengan Anton yang tidak ada yang masuk DPC PKB.

Hal itu, karena kewenangan penuh untuk menentukan pasangan calon dalam bentuk rekomendasi resmi oleh DPP. Sementara, DPC hanya menjalankan amanat pimpinan pusat untuk membuka penjaringan dan menyerahkan hasil survei kepada DPW dan DPP.

“Kemungkinan itu ada, karena DPW dan DPP juga punya kewenangan untuk itu. Tugas DPC menjaring, mengolah baik dengan uji kelayakan maupun survei. Hasil akan kami serahkan ke DPW maupun DPP. Putusan akhir ada di DPP PKB,” ungkapnya.

Kemungikan bacalon N2 itu tentu bisa saja menjadi angin segar bagi politisi atau tokoh lain untuk digandengkan dengan Anton di Pilkada Kota Malang.

Selama ini beberapa nama sudah mulai menguat di publik dan bisa saja bergandengan dengan sang petahana. Sebut saja seperti Ketua DPC Hanura Kota Malang, Ya’qud Ananda Gudban yang elektabilitasnya mulai naik dan kini jadi perbincangan publik. Berbagai poling Srikandi Jalan Ijen itu sebagai yang terpopuler. Untuk kendaraan politik, tiga partai sudah menyatakan mendukung Nanda PAN, PKS dan tentunya Hanura sendiri.

Politisi lain yang bisa saja merapat ke Anton adalah Ketua DPD Golkar Kota Malang, Sofyan Edy Jarwoko ke Ketua DPC Gerindra Kota Malang, Moreno Suprapto.

Baca Juga :   Period https://contedu.ru Journey Tigers

Leave a Reply