Meneropong Plus – Minus Koalisi “Bangjo”

PolitikaMalang – Rencana koalisi PKB – PDI Perjuangan (Bangjo) di Pilkada Kota Malang kian mendekati kenyataan. Calon Petahana yang juga ketua DPC PKB Kota Malang, H. Mochamad Anton dalam beberapa kali kesempatan, mengaku jika ia sudah melakukan komunikasi dengan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) partai berlambang banteng itu.

Koalisi “Bangjo” di Pilkada Kota Malang terinisiasi oleh konstelasi politik tataran Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur, yang mencalonkan pasangan Syaifullah Yusuf – Abdullah Azwar Anas. Diharapkan koalisi serupa bisa terjadi pada tataran pilkada kabupaten/kota.

Pertemuan dua partai besar di Kota Malang ini tentunya membawa kekuatan tersendiri dalam menapak pilkada tahun depan. Jika melihat kekuatan di parlemen, kini PDI Perjuangan memiliki 11 wakil di dewan sedangkan PKB 6 orang.

Jika dijumlah, maka koalisi dua partai itu sudah mengemas 17 kursi. Jumlah yang sangat mumpuni untuk mengajukan pasangan calon ke KPU Kota Malang serta memperkuat struktur parlemen jika keduanya memenangkan pilkada.

Tak hanya itu, peta suara PKB yang dekat dengan kalangan nahdiyin ditambah dengan suara dari abangan yang direpresentasikan oleh PDI Perjuangan berpotensi menjadi kekuatan yang sulit dibendung nantinya.

Pengamat Politik dari Universitas Muhammadiyah Malang, Wahyudi, menilai koalisi “Bangjo” berpotensi besar memenangkan pilkada. Sosok H. Moch Anton yang masih memiliki elektabilitas yang tinggi, ditambah dengan suara PDI Perjuangan sebagai partai pemenag Pemilihan Legislatif (Pileg) cukup menjanjikan.

“Kalau kita analisa saat ini suara abangan ini bisa bersatu dengan konstituen dari Nahdiyin, meskipun ada sedikit resistensi. Sehingga potensi Bangjo cukup besar,” kata Wahyudi.

Namun permasalahan saat ini, lanjut Wahyudi adalah sosok, siapa calon yang disuguhkan oleh PDI Perjuangan Kota Malang untuk mendampingi sang petahana. Beberapa nama seperti Sri Untari, Abdul Hakim dan Sri Rahayu cukup menguat belakangan.

Baca Juga :   E - Commerce Antar Kota Malang Raih Indonesia Award 2020

Meski begitu, Wahyudi potensi calon lain yang bisa menjadi alternatif pilihan adalah Gandung Rafiul Huda yang dianggap mampu mengembalikan suara ‘kader banteng’ yang terlanjur keluar ‘kandang’ menjadi militansi Garda Pancasila (red:sebelumnya bernama Red Army).

Masih belum jelasnya siapa calon yang diusung oleh PDI Perjuangan juga menjadi nilai minus pasangan Bangjo. Pasalnya, menurut Wahyudi beberapa nama yang muncul saat ini khususnya dari kader internal, masih belum kuat di masyarakat. Sehingga hal itu akan menjadi kendala untuk menaikkan elektabilitas sosok dari PDI Perjuangan nantinya.

“Menurut saya beberapa nama dari PDI Perjuangan saat ini belum menguat dan mampu mengimbangi petahana. Tapi elektabilitas itu kan bisa dicapai melalui berbagai hal termasuk ada konsultan politik, sering terjun ke lapangan, dan sebagainya,” ungkapnya.

Hal lain yang cukup menjadi pertimbangan pasangan ‘Bangjo’ adalah rawan pecah kongsi di pemerintahan. Berdasarkan pengalaman, pecah kongsi antara Anton dan Sutiaji menjadi contoh yang harus dievaluasi oleh koalisi ini kelak.

“Saya kira komunikasi antara PKB dan PDI Perjuangan harus menghasilkan sesuatu yang kongkret termasuk bagaimana nanti kerjasama di pemerintahan baik eksekutif dan legislatif,” tukasnya.

Leave a Reply