Menuai Protes, Kemendibud RI Tarik Buku SD Terkait Penyebutan NU Sebagai Organisasi Radikal

PolitikaMalang – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Muhadjir Effendy menjelaskan konteks radikal yang terdapat dalam Buku SD kelas 5.

Menurutnya, konteks kata radikal dalam buku tersebut sebetulnya adalah sejarah tentang perjuangan kemerdekaan nasional tahun 1920-an.

“Saat itu, banyak berdiri organisasi-organisasi yang oleh tim penulis dicirikan memiliki watak non kooperatif atau tidak mau berkompromi dengan pemerintah kolonial Belanda. Organasi itu dikateggorisasikan organisasi radikal,” kata Muhadjir, saat hadir diacara Sarasehan kebangsaan di Dome UMM Kamis (7/2/2019).

Muhadjir menilai bahwa sebenarnya kata radikal itu dalam konteks melawan penjajah kolonial. Ketika buku itu disusun kata ‘radikal’ belum menjadi kata pejoratif. Akan tetapi, kata radikal ini menjadi kata yang sangat sensitif.

“Kalau menurut ilmu bahasa itu kata amelioratif yang punya rasa baik. Tapi, sekarang itu menjadi negatif. Jika diajarkan pada anak-anak diluar konteks bisa sebaliknya,” katanya.

Sebelumnya, dalam buku SD kelas 5 tertuliskan paragraf yang menjelaskan tentang masa radikal yang menjadi sejarah bangsa Indonesia. Dalam buku itu tertulis sebagai berikut.

Masa Awal Radikal
(Tahun 1920-1927-an)
Perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah pada abad ke-20 disebut masa radikal karena pergerakan-pergerakan nasional pada masa ini bersifat radikal/keras terhadap pemerintah Hindia Belanda.

Mereka menggunakan asas nonkooperatif/ tidak mau bekerja sama. Organisasi-organisasi yang bersifat radikal adalah Perhimpunan Indonesia (PI), Partai Komunis Indonesia (PKI), Nahdlatul Ulama (NU), Partai Nasional Indonesia (PNI).

Lebih lanjut, Muhadjir menyampaikan apresiasi pada NU dan guru yang telah mengevaluasi dan memberikan masukan. Masukan dari guru ini sangat positif karena langsung kritis menyampaikan kepadanya.

“Karena itu saya respon, saya undang mereka yang terkait,” tambahnya.

Sebelumnya, Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini melayangkan protes pada Kemendikbud terkait penyebutan NU sebagai organisasi radikal dalam buku ajar SD/Madrasah Ibtidaiyah. Pihaknya keberatan dengan diksi radikal dalam buku pelajaran tematik kelas 5 SD itu.

Baca Juga :   Collage With Boulevard To help Blindness Cure

Dalam buku tersebut NU digolongkan sebagai organisasi radikal di masa penjajahan. Posisi NU juga bersandingan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), Perhimpunan Indonesia (PI), dan Partai Nasional Indonesia (PNI) sebagai organisasi penentang penjajah.

Atas protes tersebut, pihak Kemendibud RI pun langsung menarik buku dan melakukan revisi.(*)

Pewarta : Djoko Winahyu

Leave a Reply