MTD, Even Ikonik Khas Kota Malang

PolitikaMalang – Ketika upaya mempertahankan seni dan budaya bertemu dengan konsep yang matang, maka terjadilah suatu even dengan kelas yang mampu bersaing di level nasional bahkan merangsek ke internasional. Hal itu adalah Festival Malang Tempoe Doloe yang digagas oleh Yayasan Inggil Malang.

Setelah vakum beberapa tahun, even tersebut kembali digelar secara besar-besaran dengan lokasi membentang sepanjang Jalan Simpang Balapan hingga Jalan Ijen. Konsepnya masih serupa dengan tahun-tahun pendahulunya yakni menampilkan suasana “Tempoe Doloe” sebagai ide pokok utama.

Tahun ini, meski hanya digelar selama satu hari sedari pukul 07.30 sampai pukul 23.00 WIB, namun tak mengurangi antusias warga untuk berkunjung menikmati indah dan tentramnya suasana Tempo Doloe yang dibalut dengan substansi idealisme yang dibangun penyelenggara.

Warga juga sangat kompak. Mereka tak canggung memakai pakaian khas yang menggambarkan Indonesia atau Kota Malang pada khususnya di era masa lampau. Begitu pula para tokoh dan pejabat yang hadir. Mereka juga berbaur bersama warga dengan balutan busana “Tempoe Doloe” yang khas.

Salah satu topik menarik yang diusung sebagai tema adalah “Marut Kelapa jadi Apa”. Ide itu direalisasi dengan agenda memarut kelapa bersama warga dan para tokoh masyarakat. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, Wali Kota Malang, H. Moch Anton, Kapolres Malang Kota, AKBP Khoiruddin Hasibhuan, Ketua DPRD Kota Malang, Abdul Hakim, hingga para anggota legislatif lain seperti Ya’qud Ananda Gudban, Sri Untari, Hadi Santoso sampai Bambang Soemarto turut serta dalam kegiatan itu.

Sekilas, Marut kelapa memang terlihat remeh. Namun ada makna mendalam dibaliknya. Teknologi yang semakin maju membuat banyak kalangan saat ini lupa akan hal penting yang bernama ‘proses’. Kelapa yang menghasilkan santan digambarkan untuk menunjukkan bagaimana saat ini proses mulai ditinggalkan. Santan kemasan instan mulai banyak digunakan, padahal proses membuatnya adalah bagian tak terlepaskan dari kebiasan warga Indonesia masa lalu.

Baca Juga :   Wie man Spielautomaten-Spiele kostenlos spielt

Mendikbud Muhadjir Effendy, menyambut positif dengan acara Malang Tempoe Doloe sebagai upaya bersama agar masyarakat tidak melupakan sejarah dan budaya bangsa. “Saya berharap agar tiap tahun acara ini bisa diselenggarakan,” kata Muhadjir Effendy.

Ia menambahkan, peran sejarah dan kebudayaan sangat penting agar warga tidak kehilangan jati diri dalam menatap masa depan. Selain itu, Muhadjir juga membeberkan sejarah besar yang pernah terjadi kawasan Malang dari berdirinya Kerajaan Gajayana, Candi Badut hingga perang melawan penjajah yang dilakukan Tentara Republik Indonesia Pelajar.

Sementara itu, Wali Kota Malang, H. Moch Anton sangat mengapresiasi kembali digelarnya festival Malang Tempoe Doloe dengan dukungan semua komponen. Antusias besar masyarakat Bhumi Arema akan gelaran ini, merupakan bukti nyata jika Malang Tempoe Doloe sudah menjadi ikon.

“Saya atas nama Pemkot Malang sangat mendukung acara ini karena upaya memperkenalkan budaya,” kata Abah Anton.

Selain itu, dengan berbagai macam even yang digelar, khususnya Malang Tempoe Doloe juga berimbas kepada roda perekonomian masyarakat. “Kami berharap agar even ini bisa kembali digelar pada tahun mendatang dan di tahun-tahun selanjutnya,” tandasnya.

Leave a Reply