Muncul Nama Baru di Bursa Pilkada Kota Malang, Bentuk Distrust Masyarakat?

PolitikaMalang – Hingga memasuki bulan Oktober, dinamika politik jelang Pilkada Kota Malang, dinilai banyak kalangan masih landai. Para tokoh dan politisi terlihat masih ‘malu-malu kucing’ dan ‘wait and see’ salah satunya karena faktor figur petahana, H. Moch Anton menurut beberapa survei dinilai masih cukup kuat secara elektabilitas.

Namun disamping itu, beredarnya beberapa nama baru dalam bursa pilwali memunculkan daya tarik tersendiri. Seperti diketahui, dalam dinamika politik yang berkembang, muncul beberapa nama yang sebelumnya tidak diperhitungkan dalam pilwali kota malang diantaranya sang artis Ashanty Siddik, yang terus didengungkan oleh PAN hingga Dedi Wahyudi, seorang arsitek asli Malang yang lama tinggal di bandung dan mencoba peruntungan lewat konvensi di PDIP.

Terbaru, muncul nama salah satu tokoh masyarakat Malang Raya yaitu M. Geng Wahyudi yang selama ini dikenal sebagai tokoh PDI perjuangan dan kini menyeberang ke partai NasDem. Bahkan kemarin, ada salah satu yang mengaku sebagai pendukungnya sudah mendatangi KPUD Kota Malang untuk berkonsultasi mengenai persyaratan untuk maju lewat jalur independen.

Direktur Litbang Politika Malang, M Idris menyampaikan bahwa munculnya nama-nama baru seperti Geng Wahyudi di bursa Pilkada Malang cukup menimbulkan berbagai macam spekulasi.

Menurutnya, bisa jadi hal ini adalah bentuk “distrust” atau kehilangan kepercayaan masyarakat kota Malang kepada para tokoh dan politisi yang sebelumnya selalu menghiasi panggung politik Kota Malang.

Kecenderungan pilihan masyarakat bergeser kepada sosok yang tidak bersentuhan dengan kasus hukum (korupsi). Jika hal itu benar terjadi, Idris menilai bahwa hal itu cukup rasional, apalagi jika dikaitkan dengan berbagai peristiwa hukum yang saat ini sedang terjadi di Kota Malang seperti kasus Korupsi yang menjerat ketua DPRD kota Malang, Arief Wicaksono dan kepala Dinas PTSP Kota Malang, Djarot Edy Sulistiyono.

Baca Juga :   E - Commerce Antar Kota Malang Raih Indonesia Award 2020

Belum lagi ditambah dengan pemeriksaan saksi yang melibatkan 37 anggota DPR Kota Malang. Bahkan menurut alumni Magister Universitas Brawijaya ini, status Wali Kota Malang yang sudah dua kali dipanggil KPK sebagai saksi juga secara tidak langsung akan mempengaruhi persepsi dan elektabilitasnya di mata masyarakat.

“Harus kita akui bahwa posisi Moch Anton sebagai incumbent masih cukup bagus saat ini, namun tidak menutup kemungkinan akan terjadi pergeseran jika berbagai kasus hukum yang berpotensi melibatkan dirinya tidak segera tuntas dan ada status hukum yang jelas” ungkapnya.

Gambaran Polling Politika

Seperti diketahui Sebelumnya, politika Malang telah melakukan polling via website politikamalang.com untuk melihat preferensi masyarakat tentang calon kepala daerah yang dipandang layak untuk berhadapan dengan walikota petahana, Mochamad Anton.

Nama-nama tersebut didapat dari para tokoh yang saat ini beredar di masyarakat maupun berikhtiar lewat pendaftaran calon kepala daerah lewat parpol. Hasilnya cukup mengejutkan, sampai berita ini ditulis, justru nama Geng Wahyudi yang notabene tidak diperhitungkan malah memimpin perolehan polling dengan presentase sekitar 36 persen.

Disusul oleh Ketua DPC Hanura kota Malang, Yaqud Ananda Gudban dengan 34 persen, mengalahkan para tokoh yang selama ini sudah terlebih dahulu beredar seperti wawali Sutiaji, ketua DPD Golkar Kota Malang, Sofyan Edy Jarwoko, Ketua PPP Kota Malang, Heri Puji Utami dan Sri Untari yang saat ini menjabat sebagai sekretaris PDIP jatim.

Terkait dengan hasil polling, pria asli Madura ini menjelaskan bahwa walaupun polling tidak bisa dijadikan alat ukur yang memiliki akurasi tepat, namun polling bisa menjadi gambaran sederhana tentang harapan publik.

Sebagai informasi, Dengan sistem “one man one vote”, sampai hari polling politika malang telah menembus angka 6000 lebih voters. Ia juga menjelaskan bahwa leadingnya nama Geng Wahyudi dalam polling sementara cukup bisa dipahami karena ketokohan politisi yang dikenal “petarung” itu cukup populer di Malang Raya sehingga ketika namanya tiba-tiba muncul sontak menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Kultur Malang yang “abangan” juga membuatnya mudah masuk ke tengah masyarakat sehingga bisa bersaing dengan nama-nama tokoh yang lebih dulu beredar seperti Ananda Gudban dan Sutiaji.

Baca Juga :   Peringati World Clean Up Day, Sutiaji Dorong Masyarakat Jaga Lingkungan

“Menarik untuk dilihat bagaimana perkembangan dinamika politik kedepan, saya kira semuanya masih sangat cair. Ingat, politics is perception” tukasnya.

Leave a Reply