Para Tokoh ‘Blak-blakan’ Membahas Pilkada Kota Malang

PolitikaMalang – Pemandangan kawasan Cafe Kopilogi, Jalan Ijen, pada Sabtu (25/11) tidak seperti biasanya. Para politisi dan tokoh masyarakat, berkumpul untuk saling berdiskusi, bertukar pikiran dalam rangka menyongsong Pilkada Kota Malang 2018 mendatang.

Politisi cantik dari Partai Hanura Kota Malang, Ya’qud Ananda Gudban, Ketua DPD Golkar Kota Malang, Sofyan Edi Jarwoko, Ketua LPP PKB Kota Malang, Arif Wahyudi, Sekertaris DPC PDI Perjuangan Kota Malang, Abdul Hakim, Dewan Penasihat Partai Nasdem Jawa Timur, Geng Wahyudi dan Komisioner KPUD Kota Malang, Ashari Husein, tampak duduk di muka menjadi pembicara utama dalam dialog bertajuk “Petahana atau Pemimpin Baru”.

Para tokoh yang hadir sebagai narasumber itu mewakili peta konstelasi politik di Kota Malang dewasa ini. Ya’qud Ananda Gudban, mungkin satu-satunya sosok yang telah diusung oleh tiga partai yakni Hanura – PAN – PPP untuk maju dalam Pilkada Kota Malang. Sofyan Edi Jarwoko, juga bukan yang harus dikesampingkan dalam ajang pilkada, karena Partai Golkar Kota Malang selalu aktif tampil dalam mengajukan kadernya menjadi calon wali kota.

PDI Perjuangan dengan jumlah 11 kursi adalah kekuatan tersendiri. Karena partai ini satu-satunya yang mampu mengusung pasangan calon resmi tanpa harus berkoalisi. Sedangkan Geng Wahyudi merupakan tokoh politisi gaek, yang santer dikabarkan akan maju lewat jalur independen.

Diskusi pilkada kali pertama kali di Kota Malang itu mendapat antusias yang tinggi dari masyarakat. Bukan saja dari khalayak umum, melainkan nama-nama tokoh juga hadir sebagai peserta acara diskusi. Ketua Tim V DPC PDI Perjuangan Kota Malang, I Made Rian Diana Kartika, Sekertaris DPD PAN Kota Malang, Dito Arief, Direktur Hasta Komunika, Anas Muttaqin hingga salah satu kandidat Bacalon Wali Kota Malang, Wahyu Eko Setiawan dan tokoh lainnya hadir, ikut memberikan sumbangsih pemikiran dalam diskusi yang digagas Politika Malang itu.

Baca Juga :   Sidak Proyek Kayutangan Heritage, Walikota Malang Minta Kemudahan Akses Warga

Komisioner KPUD Kota Malang, Ashari Husein dengan tegas dalam kesempatan itu mengatakan jika pihaknya akan menjunjujg dua hal dalam helatan pilkada yakni netralitas dan integritas. Hal itu penting, dalam upaya mewujudkan pesta demokrasi warga Kota Malang yang baik dan imbasnya menghasilkan pemimpin yang sesuai dengan harapan warga.

“Secara umum KPUD Kota Malang siap menyelenggarakan Pilgub dan Pilkada Malang pada tahun 2018 mendatang,” tandasnya.

Ashari dalam kesempatan itu juga detil menjelaskan perihal tahapan dan mekanisme Pilkada Kota Malang yang akan digelar 27 Juni 2018 mendatang. Satu pesan penting yang dilontarkannya dalam forum itu, ia berharap Pilkada Kota Malang bisa berjalan dengan damai tanpa dicederai dengan kasus dengan unsur SARA serta tanpa politik uang.

“Aturan hukum sudah jelas, Panwaslu nanti akan menindak tegas jika terjadi pelanggaran-pelanggaran pilkada,” tandasnya.

Sekertaris DPC PDI Perjuangan yang baru saja dilantik sebagai Ketua DPRD Kota Malang, Abdul Hakim, menjelaskan ada tiga momen yang harus diperhatikan, yakni pada saat pra Pilkada bagaimana gagasan dan pemikiran para kandidat calon mampu diketahui oleh masyarakat dengan baik sehingga menjadi pegangan dalam memilih sosok pemimpin. Setelah adalah pada saat dilakukannya Pilkada, dimana Hakim lebih melakukan ‘warning’ kepada para calon yang bertarung nanti agar tidak terjebak pada politik uang dan terakhir adalah pasca pilkada, dimana rakyat menagih janji pemimpin yang dipilih melalui pesta demokrasi.

“Petahana atau Pemimpin Baru sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing,” kata Hakim.

Sementara Ketua LPP PKB Kota Malang, Arif Wahyudi, menjelaskan jika saat ini popularitas dan elektabilitas petahana, yakni H. Moch Anton masih cukup tinggi. Hal itu dikarenakan pembangunan dan juga agenda blusukkan kepada masyarakat terus dilakukan. Sehingga, berdampak langsung pada dua hal itu.

Baca Juga :   Wie man Spielautomaten-Spiele kostenlos spielt

“Komunikasi politik dengan partai-partai lainnya tetap berjalan karena PKB tidak bisa maju sendiri dan harus berkoalisi,” kata Arif Wahyudi.

Politisi Golkar Sofyan Edi Jarwoko, mengurai definisi petahana yang artinya adalah pemenang pilkada 2013 yang berkuasa saat ini yakni H. Moch Anton – Sutiaji yang diusung PKB dan Gerindra.

“Kalau itu yang di maknai sebagai arti petahana, kalau besok di lakukan pemilu maka bisa dipastikan tidak ada petahana,” tandas Sofyan Edi.

Ungkapan Sofyan Edi Jarwoko cukup menggelitik karena diketahui, Anton dan Sutiaji saat ini sedang dalam tahap pecah kongsi. Konflik antar pemimpin menurut Edi, biasanya merupakan hal yang tidak bisa terelakkan namun mampu diminimalisir.

“Lalu ada juga perspektif kedua, yakni pethana adalah wali kota saat ini Abah Anton, itu seperti gambaran dan frasa yang ada di benak masyarakat,” tukasnya.

Berbicara perihal bagaimana melakukan pembangunan di Kota Malang masa mendatang, Ya’qud Ananda Gubdan, menjelaskan akan filosofi tagline Ayo Noto Malang yang kini terus digencarkan kepada masyarakat. Ayo Noto Malang, kata Nanda, merupakan ajakan kepada semua elemen masyarakat, bahwa membangun Kota Malang tidak bisa dilakukan oleh satu atau dua orang melainkan bersama semua elemen masyarakat.

Karenanya, dalam kesempatan itu, Nanda Gudban juga mengkritisi bagaimana pecah kongsi yang terjadi di antara pemimpin Kota Malang saat ini. “Kalau masalah pribadi lalu pecah kongsi dan dampak sosialnya dirasakan oleh masyarakat, ini saya kira cukup merugikan,” kata Nanda.

Selain itu, pada kesempatan itu, wanita yang dijuluki Srikandi Ijen tersebut juga mengkiritisi bagaimana dinamika pembangunan Kota Malang selama empat tahun terakhir. Bagi Nanda, pembangunan bukan saja hal berkaitan dengan fisik semata, namun juga merambah pada pembangunan tak kasar mata, seperti turunnya angka kemiskinan, naiknya perekonomian dan kesejahteraan masyarakat dan banyak hal lainnya.

Baca Juga :   Sidak Proyek Kayutangan Heritage, Walikota Malang Minta Kemudahan Akses Warga

“RPJMD juga mau diubah, ini menunjukkan jika rencana pembangunan tidak bisa diekseskui oleh pemimpin sehinga harus berubah,” tandas Nanda.

Karena itu, Nanda berharap momen Pilkada ini bisa dijadikan ajang bersama warga Kota Malang untuk menciptakan pemimpin yang bisa membawa Kota Malang menuju perbaikan di masa mendatang.

Sebagai tokoh masyarakat dan politisi gaek, Moch Geng Wahyudi, lebih menekankan pada hal yang bersifat urgen. Ia mengajak semua tokoh dan kandidat bakal calon agar tidak mempermainkan kata rakyat sebagai bahan untuk meraih simpati.

Selain itu, Geng Wahyudi juga menekankan jika pemimpin harus memiliki beberapa elemen keberanian, integritas, pintar, mengerti kondisi masyarakat dan terpenting adalah memberikan solusi atas keluhan masyarakat.

“Kalau hanya ngerti saja ada masyarakat yang kelaparan misalnya tapi lalu tidak diberi makan atau dibantu, itu bukan karakter pemimpin. Karenanya elemen-elemen itu harus ada dalam semua pemimpin,” tandasnya.

Geng Wahyudi menambahkan, jika Kota Malang membutuhkan sosok pemimpin yang revolusioner, sehingga mampu membawa kebaikan bagi masyarakat. Termasuk pula, dalam kesempatan itu pria yang dipercaya menjadi Dewan Penasehat Nasdem itu menegaskan, jika tidak akan maju dalam ajang Pilkada Kota Malang melalui jalur independen sebagaimana banyak diberitakan media massa.

Leave a Reply