Pastikan Kualitas, Gubernur Jatim Kunjungi Peternakan Ayam di Tumpang

PolitikaMalang – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa melanjutkan kunjungan kerja di Kabupaten Malang dengan mengunjungi Peternakan Ayam Petelur Komersial milik H. Kholik di Desa Kambingan, Kecamatan Tumpang, Minggu (17/11) siang. Khofifah yang didampingi Bupati Malang, Drs. H.M. Sanusi, M.M ingin memastikan kualitas hasil produksi telur ayam di peternakan setempat sekaligus menjawab terkait kabar telur ayam produksi Jatim tingkat kontaminasi racun berbahayanya terparah sedunia.

Hal ini dilakukan Khofifah lantaran kabar yang ditulis sejumlah media berdasar dari hasil uji laboratorium salah satu perguruan tinggi di Surabaya, tepatnya setelah diketahui telur ayam dari Tropodo, Waru, Kabupaten Sidoarjo ditemukan senyawa racun Dioksin. Kabar tersebut juga membuat masyarakat secara Nasional dan para peternak ayam di Jatim gelisah. Karena itu, Khofifah mengajak seluruh pihak terkait di lingkungan Pemerintah Provinsi Jatim dengan menyertakan pihak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya untuk menguji secara langsung kualitas telur ayam peternakan dengan sample produk telur ayam dari peternakan komersial milik H. Kholik.

”Kami datang ke peternakan di Tumpang ini karena ingin mengajak teman-teman media untuk melihat bagaimana proses peternakan ayam petelur supaya bisa memastikan tingkat higienitas sebelum di konsumsi masyarakat. Peternakan milik pak H. Kholik ini terdapat 300 ribu ekor ayam petelur. Kabupaten Malang ini merupakan satu dari tiga Kabupaten berpredikat suplayer terbesar telur ayam di Jawa Timur, dengan memproduksi 8,2 Miliar butir telur ayam per tahunnya. Oleh karena itu, hal ini menjadi penting untuk dibangun satu konfirmasi karena di Kabupaten Malang sendiri sampai 80 – 90 persen pemilik peternakan adalah ternak berbasis kerakyatan,” terang Khofifah kepada para awak media.

Gubernur mengaku menghargai hasil penelitian atau uji laboratorium atas telur ayam produk Tropodo. Namun beliau ingin menyampaikan, agar masyarakat Indonesia, bukan hanya di Jatim, untuk kembali tenang. Pasalnya, produk telur asal Jatim, seperti halnya H Kholik ini juga mensuplay telur ayam hingga ke Balikpapan. ”Kepada pasar telur di mana pun yang disuplay dari Jatim untuk kembali meyakini bahwa produk petelur ayam komersial asal Jatim memberlakukan dan semuanya menjalankan standart quality. Bahkan, produk yang dipasarkan semuanya grade A. Suplayer utama telur ayam komersial di Jatim dari Malang, Blitar dan Kediri, tiga ini berkontribusi sebanyak 29 persen dari kebutuhan telur Nasional, sehingga bisa dipastikan, telur dari peternakan komersial di Jatim, insya Allah semuanya dengan Quality Control yang terjaga,” pungkasnya.

Terpisah, Prof. Suyadi, Dekan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya menjelaskan, kondisi ayam petelur dalam produksi telur ayam komersial seperti milik H. Kholik ini berjalan dengan sistem yang betul-betul menggunakan sistem industri, yakni sistem yang mementingkan proses input, produksi dan output. Nah, diakuinya hal ini berbeda dengan kasus di Tropodo yang disampaikan Gubernur. Lantaran setelah diteliti dan sebagainya, kasus di Tropodo adalah produk telur dihasilkan dari ayam-ayam kampung, yang jumlahnya sangat sedikit, yang berkeliaran di sekitar tempat pembakaran sampah.

Temuan itu sempat dirilis dalam media adalah terkait kandungan Dioksin, yakni senyawa pisah racun yang sulit di metabolisme tubuh. Biasanya Dioksin adalah hasil dari pembakaran tidak sempurna dari limbah-limbah plastik, asapnya kemudian menguap dan terhirup serta terakumulasi dalam tubuh. Profesor juga menegaskan, untuk keadaan ayam petelur komersial menggunakan sistem pengelolaan produksi berbeda, apa saja yang masuk dalam tubuh ayam itu merupakan hasil akumulasi mulai dari pakan, minum dan udara. Contohnya, di peternakan milik H Kholik, kata beliau, tidak ada pembakaran limbah plastik signifikan, pakan komersial selalu menjaga mutu dari susunan komposisi maupun bahan yang digunakan, air minum juga tidak sembarangan merubah termasuk vitamin.

”Ayam komersial sangat peka terhadap makan dan minumnya. Kalau sampai merubah semua kebiasaan yang dijalankan selama ini, nanti kalau turun produktivitasnya, pasti akan nyata hitungan rupiahnya. Dari kondisi ini, saya informasi, kondisi produk pada peternakan ini, aman. Karena, maka jika ada kontaminan, pasti dari pakan, minum dan makan,” tambahnya meyakinkan.

Terpisah, Bupati Malang juga menjelaskan, di Kabupaten Malang, pembinaan terhadap para peternak itu terus dilakukan secara intens sekali oleh Pemerintah Kabupaten Malang. Dengan demikian, Pak Sanusi, sapaan akrabnya, sehingga Pemkab Malang menyatakan hasil telur ayam peternakan di Kabupaten Malang dijamin aman. Tidak ada kontaminasi dengan hal-hal yang negatif.

”Dijamin produk telur ayam komersial di Kabupaten Malang steril, udaranya bagus, tidak ada pembakaran limbah plastik disana-sini, sosialisasikan tidak diperbolehkan membakar sampah. Bahkan, di Kabupaten Malang, ada wisata edukasi pengelolaan sampah yakni di TPA Talangagung, Kota Kepanjen,” tegas Bupati.

Sementara itu, H Kholik, pemilik peternakan yang dikunjungi Gubernur mengaku, selaku peternak ayam telur mendengar kabar adanya isu adanya Dioksin pada telur ayam, langsung membuatnya sangat gelisah. Beliau bersyukur lantaa para peternak ayam petelur sangat diperhatikan oleh Gubernur dan Bupati Malang. ”Terima kasih sekali. Semua ini membuktikan peternakan rakyat tidak ada masalah, produk telurnyabtidak ada yang terkontaminasi seperti pada isu yang beredar dan tidak bertanggung-jawab. Produk semuanya steril dan bisa dibuktikan melalui uji laboratorium. Buktinya aman. Untuk itu, mohon kepada masyarakat terhasut dengan berita yang ada. Peternakan Kholik menghasilkan 14 ton telur per hari,” jelas Kholik. 

Leave a Reply